
POV Yohan
Saat makan malam ayah Yohan sudah ada dirumah. Dan mereka makan malam bersama.
"Yohan. Umur kamu sudah 28 tahun ini. Ayah harap kamu bersedia menikah tahun ini dengan anak teman ayah. Papanya juga sudah setuju kalau anaknya menikah dengan mu."jelas ayahnya sambil memakan makanannya.
"Tapi Yohan masih ingin sendiri yah. Yohan males berurusan dengan perempuan." katanya dengan nada protes.
"Kamu jangan banyak protes. Kamu bukan anak remaja lagi. Senangi lah ayah ibu mu ini sebelum terlambat." balas ayahnya.
"Ya sudahlah. Tapi jangan dalam waktu dekat ya. Paling cepat dua bulan lagi. Aku seminggu lagi mau mengajar di sekolah."ucap Yohan. Yah nggak papa lah. Karena Yohan rasa nggak ada bedanya mau menikah atau nggak. Dia bukan perempuan kok yang harus nurutin kata suami. Malah dia yang berkuasa.
"Tapi aku ingin tau calon ku seperti apa." lanjutnya.
"Hmm. Baiklah Kalau itu maumu. Calon mu bernama Jang Wongyoung. Sekolah di SMA X. Dan kalau kamu menghindar dalam dua bulan kemudian. Jangan harap kamu hidup tenang." ancam ayahnya. "Dan satu lagi sebelum menikah. Kamu harus mengenal calon istrimu. Ajaklah dia berkencan seperti anak muda pada umumnya."lanjut ayahnya memberikan foto Wonyoung.
"Baiklah. Terserah ayah saja." melanjutkan makannya dan tiba-tiba tersedak."Uhuk....uhuk.."
Ibunya yang dari tadi diam saja terkejut melihat Yohan tersedak. "Ada apa Yohan?" tanya ibunya sambil memberikan segelas air. Yohan menerimanya dan meminumnya.
"Yohan nggak salah dengarkan yah?Dia masih sekolah?!" tanyanya tak percaya ayahnya tega menjodohkannya dengan anak sekolah.
"Iya. Dan dia sebentar lagi sudah mau lulus kok. Kamu tenang aja."jawab ayahnya tenang.
"Walau pun akan lulus tapi umur kami terpaut jauh yah." kata Yohan. Dia tak habis pikir dengan ayahnya. Tega-teganya ayahnya menjodohkan dirinya dengan anak kecil.
"Ayah sebenarnya berpikir seperti itu. Tapi papanya menawarkan putrinya karena mendengar ayah mencari pasangan kamu. Yah saat itu ayah juga belum tau sama siapa mau ayah jodohkan. Begitu mendengar penjelasannya ayah pun tak masalah."jelas ayahnya panjang lebar.
"Apa nggak ayah tanya kenapa papanya mau menawarkan anaknya?"tanya Yohan.
"Katanya dia berhutang budi pada ayah. Dan dia bilang bahwa anaknya sebentar lagi lulus sekolah. Jadi ayah setuju."
"Ah! Sungguh tak masuk akal." kesal Yohan yang langsung pergi ke kamar.
Ibunya yang melihat dia pergi menjadi tidak tenang. "Ayah kok gitu sih."
"Ibu tenang aja. Dia bakalan berubah setelah melihat Wonyoung. Kitakan sudah melihat Wonyoung dari kecil. Masa kamu nggak tau sih sifat anak mu itu."ucap ayah menenangkan istrinya.
"Iya juga ya. Cuma Wonyoung yang bisa merubah Yohan."ucap ibu Yohan ketika sudah tenang.
__ADS_1
Ketika di kamar Yohan sibuk berpikir dan masih memegang foto Wonyoung. Dia belum melihat foto itu dari tadi karena malas. Begitu tersadar dia memegang foto dilihatnya lah foto itu. Dia melihat dan seperti mengingat sesuatu.
"Tadi ayah bilang dia di SMA X. Berarti di tempat aku mengajar? Hahahaha.... aku akan menikahi muridku sendiri."kata Yohan yang tertawa gila setelah menyadarinya.
"Ahhh!! Bisa gila aku!"
☆☆☆☆
Hari ini aku mulai mengajar. Tadi pagi aku melihat cewek itu terlambat dan berlari-lari kekelasnya. Memang cantik dan tinggi. Tidak terlihat kalau dia anak SMA. Tapi..... ah bodo amat. Pusing kepalaku.
Aku di ajak Pak wakil berkenalan dengan guru-guru yang lain. Pak wakil juga menjelaskan tugasku yang menggantikan wali kelas sebelumnya yang sudah pensiun.
Diantarnyalah aku ke ruang kelas yang akan aku ajar. Dan aku memperhatikan kalau kelas ini adalah kelas yang di masuki perempuan itu. Sampai di dalam aku mengarahkan pandanganku keseluruh kelas. Dan aku menemukannya. Dia duduk di ujung paling belakang. Mungkin karena dia tinggi kali ya makanya duduk disitu.
Dia melihat kearahku. Mata kami bertemu. Tapi ucapan Pak wakil menghentikan tatapanku. Tapi aku tau dia masih melihatku. Apa dia sudah tau?
Setelah Pak wakil keluar aku langsung mengambil alih kelas ini.
"Baiklah. Karena hari ini saya baru disini dan juga belum kenal kalian. Maka hari ini kita hanya perkenalan. Kalian boleh memanggil saya Pak Kim atau Pak yohan. Oke kita mulai dari kamu." aku menunjuknya dan dia terlihat kaget dan gugup.
"Ah. Perkenalkan nama saya Jang wonyoung. Senang berkenalan dengan bapak" ucapnya sambil membungkuk hormat. Dan dia kembali duduk. Hmm anak yang sopan.
"Selanjutnya." kataku. Aku meliriknya sekilas dengan tatapan yang mungkin sulit dia artikan. Selama perkenalan berlangsung aku terus berpikir. Apa dia tidak tau kalau dirinya akan dijodohkan. Tapi sepertinya memang tidak tau. Ah aku jadi penasaran dengannya.
Aku duduk di depannya. "Kamu Jang Wonyoung kan?"tanyaku begitu sampai di hadapan dirinya.
" Iya pak. Ada apa ya pak?" katanya melihat aku duduk dihadapannya.
"Kamu juara 1 umum kan di sekolah ini? Ada yang mau saya tanyakan. Setelah makan nanti kamu keruangan guru ya. Kalau begitu saya pamit. Silahkan lanjut makannya." ucapku begitu saja dan belalu meninggalkan mejanya yang terlihat bengong.
Kenapa aku rasa dia sangat imut. Tidak seperti perempuan pada umumnya yang masih SMA tapi sudah pakai make up tebal. Dia terlihat cantik walau tidak memakai apapun.
☆☆☆☆
"Ayah ngapain juga suruh aku datang kesini?"tanyaku pada diriku sendiri yang berdiri di depan pintu rumah seseorang. Aku sudah cukup lama berdiri disitu.
Melihat ayah keluar dari rumah itu aku kaget dan langsung bertanya.
"Apakah sudah selesai? Sudah bisa pulangkan?"tanyaku mengikuti langkah ayah ke mobil.
__ADS_1
"Tidak. Kamu harus masuk kedalam dan temui calon mertua dan calon istrimu. Ajak calon istrimu berkencan. Ayah lihat dia anak yang baik dan sopan." ucap ayah yang masih berdiri di samping mobil. Ibu sudah masuk kedalam mobil.
"Ya dia memang sopan. Tapi harus banget sekarang?"tanyaku tak percaya.
"Iya harus. Dan kamu tau dari mana dia sopan?" tanya ayah curiga.
Aku kelabakan mendengar pertanyaan ayah. "Aku.... Menebak saja."ucapku tergagap.
"Baiklah. Sana masuk. Ayah dan ibu pergi dulu. Ayah ada urusan di luar kota. Jadi kamu baik-baik ya sama Wonyoung. Jangan macam-macam sama anak orang."ucap ayahnya langsung masuk kedalam mobil.
"Baik ayah. Hati-hati dijalan." ucapku sambil membungkuk hormat.
Aku pun masuk ke dalam rumah yang langsung di sambut ramah oleh orang tua perempuan itu. Aku penasaran melihat reaksinya nanti setelah melihatku.
Setelah cukup lama aku berbincang-bincang keluarlah dia dari kamarnya dan menghampiri kami diruang tamu. Aku melihatnya yang terkejut melihatku. Dia tidak berkata-kata. Hanya diam melihat ku dengan ekspresi tanda tanya. Astaga imutnya.
Mamanya yang melihat dirinya melongo langsung tertawa dan berbicara.
"Hahaha.. Wonyoung kamu kenapa melongo seperti itu nak? Apakah dia terlalu tampan?"tanya mamanya yang diikuti suara tawa semua orang termasuk aku.
"Sudah ma. Nanti Wonyoung kita malu ma." ucap papanya yang tersenyum kearah perempuan itu.
Dia masih terdiam. Mungkin dia bertanya-tanya kenapa aku ada disini. Aku melihat ke arahnya dan tersenyum licik. Tiba-tiba papanya buka suara.
"Wonyoung. Kamu akan papa nikahkan dengan nak Yohan. Papa harap kamu bisa lebih dekat dengannya. Kamu mengerti?" tanya papanya memastikan. Dan dia masih diam sebentar sepertinya dia masih mencerna ucapan papanya.
"Apa pa? Kenapa tiba-tiba begini sih pa?"ucapnya protes. Dan aku melihatnya tersenyum tipis.
"Sudah! Nanti lagi kita bahas ini. Sekarang kamu pergi dengan nak Yohan. Anggap saja masa perkenalan." ucap papanya langsung pergi.
"Nak Yohan. Maklum ya papanya Wonyoung kalau marah emang seperti itu, langsung pergi." ucap mamanya yang tak enak denganku.
"Tak masalah Tante." ucapku dengan tenang. Aku tidak mempermasalahkan itu.
"Ya sudah. Wonyoung. Kamu pergi dengan nak Yohan ya. Nanti kita bicara lagi. Jangan terlalu lama ya pulangnya nak Yohan" kata mamanya langsung pergi meninggalkan kami tanpa menjelaskan apa-apa.
"Baik tante."jawabku sambil tersenyum.
Dia hanya terdiam. Mungkin dia merenungi nasibnya. Haha. sangat imut menurutku. Tapi aku hanya diam saja dengan wajah datarku.
__ADS_1
☆☆☆☆
Jangan lupa like dan komennya~~