Cinta pertama Wonyoung

Cinta pertama Wonyoung
Bagian 7


__ADS_3

"Kamu belum diapa-apainkan sama nak Yohan?" tanya mama setelah memeriksa tubuhku.


"Ih mama. Untuk apa tanya kayak gitu kalau sudah menikahkan anaknya?" ucapku dengan nada merajuk.


"Mama bilang begitu karena kamu kan masih sekolah. Oh ya. Kalau kamu di ajak 'itu' jangan pasrah aja. Terus kalau keadaannya terdesak harus pake pengaman ya." bisik mama panjang lebar.


"Nggak tau ah ma. Mama apa nggak malu di liatin sama ayah ibu?" aku melihat kearah ayah ibu yang dari tadi memperhatikan kami.


"Hahahaha.... Jangan bandel ya nanti sama nak Yohan." kata mama setelah melihat ayah dan ibu.


"Ibu nggak perlu khawatir. Wonyoung baik dan penurut kok." kata ibu sambil melihatku dengan tersenyum.


"Sudahlah ma. Lihat itu. Suaminya Wonyoung sudah nungguin dari tadi loh."kata papa melihat ke arah Pak Yohan.


"Yasudah. Kamu baik-baik ya disana." Kata papa sambil memelukku.


"Kalian hati-hati dijalan ya." Ucapku melihat ke arah mama papa dan ayah ibu.


"Kami pergi dulu. Dah." Kata pak Yohan yang mengajakku masuk mobil.


Setelah melambaikan tangan pak Yohan pun menjalankan mobilnya. Karena jarak dari hotel ke apartemen cukup jauh aku pun tertidur.


☆☆☆☆


Setelah 45 menit akhirnya sampai di apartemen pak Yohan.


"Wonyoung. Bangun, udah sampai ini." Kata pak Yohan menggerakkan tubuhku.


"Udah sampai ya Pak. Maaf ya saya ketiduran."ucapku dengan suara baru bangun tidur.


"Iya nggak masalah kok. Ya sudah ayo masuk." Kata pak Yohan. Aku hanya mengangguk dan mengikuti pak Yohan.


Karena barangku sudah dikirim duluan kemarin, jadi kami tidak ada membawa barang apa pun. Sampailah kami di apartemen mewahnya. Ada dua kamar tidur. Ruang tamu yang mewah dan dapur yang elegan. Ada balkon di sisi kiri ruang makan. Kalau menurutku apartemen ini cukup bersih untuk pemiliknya yang jarang datang katanya.


"Pak. Saya nggak sangka loh. Ini sangat bersih. Beda dari dugaan saya." Ucapku yang masih melihat sekeliling.


"Kalau bersihnya sih ada pembantu yang datang setiap hari." Jelasnya sambil duduk disofa.


"Owh begitu." Kataku mengikutinya duduk disofa.


"Kalau begitu saya tidur dimana pak?"tanyaku melihat kearahnya. Kulihat dia melihatku. Mata kami bertemu. Dia diam agak lama menatapku. Aku merasakan kecanggungan disini.


"Ehem. Hmm kamu tidur di kamar tamu yang di sebelah sana." Dia menunjuk kamar yang berada di belakangku.

__ADS_1


"Kita sebaiknya pisah kamar dulu sebelum kamu lulus." Katanya dan berlalu ke arah dapur.


"Baiklah."


Tiba-tiba dia berhenti, "Oh ya. Kamu harus dapat nilai sempurna. Pokok nya aku nggak akan ganggu kamu belajar. Kalau ada yang tidak kamu tau tanya aku aja."


"Iya tenang aja pak."jawabku malas. Dari beberapa yang lalu dia hanya mengingatkan itu. Bosen tau kalau setiap hari diomongin.


Aku masuk ke kamarku yang di tunjuk pak Yohan tadi. Kulihat kamarnya sangat rapi dan elegan. Sepertinya dia memang sudahmempersiapkan kamar ini untukku. Ku buka lemari baju dan kulihat semua barangku sudah ada di dalam.


Kehidupan ku sekarang tak pernah terpikirkan oleh ku sebelumnya. Waktu aku tinggal di rumahku aku sangat di manja papa. Dan mama selalu membiarkan apa mauku. Walau kami hidup sederhana tapi keluarga ku cukup berada. Papa ku seorang pegawai negeri sebagai detektif senior. Karena pekerjaannya papa jadi jarang pulang.


Kalau mama membuka butik di kota yang penghasilannya lumayan besar. Dan aku anak tunggal. Yang pastinya dimanja. Tapi karena aku akan menikah sikap papa dan mama berubah. Mama lebih sering melarang dan menyuruhku mengerjakan pekerjaan rumah. Dan papa tidak mau mengabulkan keinginan aku. Sungguh tega.


Tak terasa hari sudah siang. Aku keluar kamar ingin melihat ada yang bisa dimasak atau tidak. Ya, sekarang aku sudah bisa masak. Walaupun tak seenak masakan mama. Tapi layak untuk dimakan.


Aku membuka kulkas yang penuh dengan bahan masakan. Aku pun mulai memasak masakan sederhana. Aku memasak Japchae dan kimbab. Setelah masak aku pun ingin memanggil pak Yohan. Aku jalan ke arah kamarnya. Ku ketuk pintunya tapi tak ada jawaban.


Kubuka pintu kamarnya. Tidak terkunci. Kulihat pak Yohan sedang tidur di ranjang membelakangiku. Aku menghampirinya.


"Pak. Bangun. Ini udah siang. Bapak nggak lapar?" Kataku menggerakkan lengannya.


Pak Yohan masih diam dalam tidurnya. Ternyata Pak Yohan susah dibangunin. Aku menggerakkan bahu nya kali ini.


"Pak! Saya udah lapar nih. Itu saya udah masak. Bapak nggak lapar?" Ucapku lagi. Tapi tiba-tiba Pak Yohan menarik tanganku dan aku pun jatuh di pelukannya. Lagi-lagi seperti ini. Apa setiap mau bangunin harus peluk begini?


Kenapa Pak Yohan jadi manja begini. Aku saat itu bingung hanya diam saja. Bagaimana mungkin aku menciumnya duluan.


"Kenapa diam saja? Sudah nggak lapar lagi?" Katanya lagi.


Dengan terpaksa aku menciumnya. Ya, kucium pipinya. Dan dia membuka matanya.


"Kenapa di pipi? Di sini dong." Katanya menunjuk bibirnya. Aku membelalakan mataku. Bibir? Banyak sekali maunya.


"Udah dong pak nanti keburu sore loh" ucapku dengan mengalihkan pandanganku.


"Ih nggak seru. Kali ini aku lepaskan kamu karena kamu bilang lapar." Dia pun melepaskan pelukanya dan masuk ke kamar mandi. Jantungku yang dari tadi berdebar belum berhenti juga. Bisa sesak nafas aku menghadapinya.


Aku langsung keluar menuju meja makan. Tak lama kemudian Pak Yohan keluar dari kamarnya dan menghampiriku.


"Aku kira kamu nggak bisa masak." Katanya smbil duduk.


"Bisa pak, sedikit. Ini pun di paksa mama belajar. Kalau tidak ya tau sendirilah."ucapku santai sambil makan.

__ADS_1


Dia mulai mencicipi masakanku. Ku perhatikan ekspresinya. Datar. Aku jadi penasaran menurutnya enak apa tidak ya? Karena dia menyadari aku melihatnya dia bersuara.


"Enak kok. Tapi sering latihan aja nanti biar tambah enak."ucapnya tanpa ekspresi.


"Hmm. Baiklah." Apalah yang aku harap. Menikah dengan cowok es batu ini bikin tambah tua saja.


"Mulai besok kamu berangkat sama aku ya."


"Tapi saya takut di gosipi pak. Apalagi Hara. Kalau sampai dia tau nanti jadi menyebar di buatnya." ucapku bergidik ngeri. Membayangkannya saja aku tak sanggup. Kalau sampai tersebar, habis lah aku.


"Tenang aja. Nanti saya nggak turuni kamu di dalam sekolah kok. Kayak biasa aja."ucapnya santai.


"Baiklah pak."jawabku seadanya.


☆☆☆☆


Ketika di sekolah semua murid berkumpul beberapa kelompok. Seperti menceritakan sesuatu. Apa tadi ada yang lihat aku datang bareng pak Yohan ya? Ku hampiri salah satu murid dan bertanya.


"Pada kenapa sih ini berisik begini."


"Ah. Wonyoung tidak tau? Bu Han nembak Pak Yohan di parkiran." jawab murid tadi.


Pak Yohan di tembak? Dasar perawan tua satu itu. Berani juga dia nembak di depan murid-murid.


"Terus gimana dengan Pak Yohan?" tanyaku lagi. Aku sungguh penasaran gimana reaksi Pak Yohan.


"Bapak itu diam aja. Terus menarik tangan Bu Han ke halaman belakang."


"Ada yang tau Pak Yohan terima atau tidak?"


"Tidak ada. Nggak ada yang berani ngikuti. Pak Yohan terlalu seram. Udah ya Wonyoung kami mau ke kelas dulu." ucapnya lalu pergi meninggalkanku.


Apa di terima ya? Pak Yohan kan sangat ramah dan baik dengan bu Han jadi mungkin saja di terima.


Aku langsung masuk ke kelasku. Tak berapa lama kemudian Pak Yohan juga masuk ke kelas.


"Sudah, sudah. Jangan berisik lagi. Hari ini kita ada ulangan." ucap pak Yohan menenangkan teman sekelas ku yang berisik karena masalah tadi.


"Pak. Apakah bapak menerima Bu Han tadi?" tanya salah satu teman sekelasku.


"Jadi dari tadi kalian berisik karena masalah ini. Baiklah saya akan memperjelas keadaan ini." ucapnya sambil memandang kearahku sekilas dan berkata lagi.


"Saya tidak mungkin menerima Bu Han." ucap Pak Yohan tegas.

__ADS_1


☆☆☆☆


Maaf typo bertebaran😁


__ADS_2