
POV Yohan
"Pak. Jangan pergi." ucapnya dengan suara paraunya.
"Hey. Siapa yang akan pergi, hm? Aku hanya ingin mematikan lampu luar. Tunggu sebentar ya." ucapku yang melepaskan lengannya. Aku pun keluar kamar tanpa menutup pintu. Setelah mematikan lampu aku kembali lagi dan menutup pintu kamar.
Aku langsung naik ke ranjang dan masuk kedalam selimut setelah mematikan lampu kamar. Tinggal lampu tidur yang menyala.
"Oh iya. Tadi papa kamu telpon suruh kita menginap minggu depan." ucapku sambil membelai rambut Wonyoung.
"Benarkah?! Aku juga sudah merindukan mereka." ucap Wonyoung dengan bersemangat. Ku lihat matanya berbinar. Memang sudah lama dia tidak bertemu orang tuanya.
"Hmm kalau begitu cepat tidur. Besokkan kamu sekolah." ucapku menutup mataku.
"Ah! Tapi minggu depan saya akan menemui teman saya dari Amerika. Dia kembali karena libur semester. Sudah lama saya nggakk bertemu dengannya." ucap Wonyoung memainkan jarinya di pipiku.
"Benarkah? Ya sudah. Suruh aja teman mu itu datang kerumah mama sekalian." kataku menggapai tangan Wonyoung yang sedari tadi sibuk mengelus pipiku.
"Terima kasih pak!" ucapnya senang dan mengecup pipiku. Aku yang terkejut langsung membuka mata.
"Hey. Kamu ini curang. Kamu bisa seenaknya berbuat sedangkan aku nggak bisa." ucapku membalikan tubuhku sehingga membelakanginya.
"Kamu nggak pernah mikirin perasaanku. Huh!" lanjutku.
"Terserah. Yang penting malam ini saya senang. Saya tidur dulu ya pak. Selamat tidur~~" katanya sambil memelukku layaknya guling.
Aku yang tidak bertanya temannya perempuan atau laki laki tidak merasa curiga. Sekarang aku hanya merasa tidak senang. Batinku sekarang seperti tertindas. Apa dia beneran polos? Aku yang menggerutu di tengah malam akhirnya tertidur juga.
☆☆☆☆
POV Wonyoung.
Sekarang kami sedang makan malam di rumah lamaku. Di rumah papa. Selama datang tadi siang mama dan papa terus memperhatikan kami dan tubuhku. Walau pun aku tahu tapi aku pura pura tidak mengetahuinya.
"Wonyoung... Gimana dengan sekolah mu? Lancarkan?" tanya papa di sela makan.
"Iya pa. lancar kok. Pak Yohan banyak membantu juga pa." jawabku sambil makan.
"Oh baguslah. Tapi mau sampai kapan kamu memanggilnya begitu? Dia kan suami mu."
"Tidak masalah kok pa. Selama Wonyoung nyaman. Yakan sayang?" kata pak Yohan yang ku balas anggukan dan senyuman. Saat kami lagi saling tersenyum dan bercanda papa dan mama terlihat berbisik sesuatu.
"Lihat pa. Mereka semakin lama semakin dekat. Mama takutnya Wonyoung hamil cepat." bisik mama pada papa.
"Biarkanlah ma. Lagian papa percaya dengan nak Yohan. Dia punya pikiran luas. Tak mungkin dia tega pada Wonyoung." balas papa.
__ADS_1
"Oh ya, waktu itu kamu bilang teman kamu akan datang. Kapan datangnya?" tanya pak Yohan yang masih melanjutkan makannya.
"Teman kamu yang mana Wonyoung?" tanya mama penasaran.
"Ah waktu itu Wonyoung bilang temannya yang dari Amerika ma." jawab pak Yohan. Aku diam saja. Aku takut bilang kalau teman aku Hangyul seorang laki laki. Nanti pak Yohan mengamuk lagi.
"Oh.. Hangyul maksud kamu?" tanya mama sontak membuat pak Yohan melihatku. Aku hanya cengir melihatnya.
Setelah selesai makan kami kembali ke kamar masing masing. Aku yang berada di kamarku hanya duduk menundukkan kepalaku.
"Teman kamu itu laki laki? Kok nggak bilang?" tanya pak Yohan dengan tatapan membunuh. Antara takut atau bingung ingin bilang apa.
"Ma.. maaf pak. Kemarin itu saya sangat senang jadi saya nggak kepikiran kesitu." ucapku terbata dan masih menunduk.
"Dengar ya. Karena aku bukan laki laki yang dominan akan ku biarkan kamu kali ini." ucapnya yang membuatku langsung mengangkat kepala dan memeluknya.
"Iya pak. Terima kasih!" ucapku tersenyum.
"Kapan rupanya dia datang?"
"Besok. Dia juga akan menginap katanya." jawabku yang masih memeluk pak Yohan
Pak Yohan melepaskan pelukannya dan berdiri, "Apa? Menginap? Jadi dulu sebelum kamu nikah dia sering menginap disini?"
"Iya. Dia sudah seperti saudara pak." ucapku melihat kearahnya dan posisiku masih duduk.
"Kami sudah seperti saudara pak. Kami sudah dari kecil berteman. Lagian sudah terjadi." ucapku membuang muka. Aku sedikit kesal mendengarnya bicara seperti itu.
"Ah terserah kamu aja. Aku mau tidur." ucap pak Yohan langsung naik ke ranjang dan berbaring membelakangiku.
"Tidur saja sana. Siapa yang peduli." balasku yang juga berbaring membelakanginya.
☆☆☆☆
POV Author.
Pagi pun tiba. Tapi pasangan Yohan dan Wonyoung belum bangun juga. Mama dan papa Wonyoung yang sudah menunggu untuk sarapan. karena dilihat belum keluar juga mama Wonyoung penasaran.
"Pa. Mereka kok belum bangun ya?" tanya mama Wonyoung pada suaminya yang membaca koran di meja makan.
"Mana papa tau ma. Lagian tadi malam papa mendengar suara ribut ribut dari kamar mereka. Sepertinya mereka bertengkar." jawab suaminya santai.
"Hah? Apa ributnya parah? Biasanya orang yang jarang marah sekali marah bakal ribut besar loh." kata mama Wonyoung khawatir pada anaknya yang mungkin di pukul suaminya.
"Papa juga kurang tau. Kalau penasaran ayo kita lihat saja."
__ADS_1
Mereka pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar Wonyoung. Sampai di depan pintu mereka membuka pintu perlahan berharap tidak timbul suara.
Dari luar mereka melihat pasangan muda itu tengah pulas tidur sambil berpelukan. Ya mereka terbiasa tidur berpelukan bila satu kamar.
"Pa. Mereka tak terlihat habis bertengkar." ucap mama Wonyoung berbisik.
"Iya ma. Malah seperti habis melakukan itu ma" balas papa Wonyoung yang juga berbisik.
Mendengar suara bisik bisik Wonyoung dan Yohan pun terbangun. Mereka terkejut melihat posisi tidur mereka yang berbeda dari tadi malam. Mereka pun tersentak dan langsung beranjak dari ranjang. Wonyoung yang melihat pintu sedikit terbuka langsung bereaksi.
"Mama! Papa! Ngapain kalian disitu?" tanya Wonyoung yang mengalihkan pandangan Yohan melihat kearah pintu langsung melotot kaget.
☆☆☆☆
POV Wonyoung.
Setelah sarapan kami pun duduk di ruang keluarga. Aku belajar merajut dengan mama. Pak Yohan dan papa menonton tv sesekali berbincang. Aku yang sedang merajut melirik pak Yohan sesekali. Dan kulihat dia juga melirikku.
Sebenarnya tadi malam apa yang terjadi sampai aku terbangun dengan posisi seperti itu. Sungguh memalukan melakukan itu setelah bertengkar.
#Flashback On. (POV Author pastinya😁)
Cukup lama waktu berlalu setelah mereka berdebat akhirnya mereka tertidur. Yohan merasa gelisah dalam tidurnya pun tidak bisa diam mengerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.
Wonyoung yang terusik akhirnya membalikan tubuhnya menghadap Yohan. Yohan pun akhirnya berhenti bergerak dan menghadap Wonyoung dan langsung memeluknya tanpa sadar. Dan mereka tidur seperti itu sepanjang malam.
#Flashback Off.
Disisi lain di bandara.
"Sudah lama aku tidak menghirup udara kota ini." Kata seorang pemuda tampan yang memakai sunglass hitamnya.
Dia pun keluar bandara dan menaiki taksi menuju rumahnya. Orang tuanya sudah lama menunggu kepulangannya sejak seminggu yang lalu. Sesampainya dia di rumahnya yang mewah bak istana dia di sambut hangat oleh mamanya yang tersenyum kepadanya. Kalau papanya, mungkin dia tak mau tau keberadaan putra bungsunya itu.
Papanya tidak terlalu suka dengan putra bungsunya itu karena terlalu manja dan bergaya seperti preman. Dia ke Amerika adalah rencana papanya itu yang membuatnya menjauh dari cintanya Wonyoung.
Setelah menemui mamanya dia akan menemui Wonyoung. Tentunya dia sudah mendapat izin dari mamanya.
"Aku sangat rindu padamu Wonyoung"
Sampainya di rumah Wonyoung betapa terkejutnya dia melihat seorang pria yang membukakan pintu.
"Siapa ya?" katanya.
☆☆☆☆
__ADS_1
Maaf ya typo bertebaran. Mohon dukungannya. jangan lupa like dan komennya ya. 😁
Oh ya.. Episode selanjutnya author mau bahas pemainnya. karena dalam cerita mungkin kurang jelas jadi mau di bahas lanjut. Tapi cerita Hangyulnya di tunda ya😉