Cinta pertama Wonyoung

Cinta pertama Wonyoung
Bagian 22


__ADS_3

"Kamu...." ucap Wonyoung dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu belum makan kan? Ayo masuk." ucap Yohan lalu menarik Wonyoung kedalam.


"Nak Yohan." ucap mama Wonyoung terkejut melihat anaknya datang dengan menantunya.


"Maafkan anak kami ya nak Yohan." ucap papanya mewakili Wonyoung.


"Sudahlah pa. Bukan itu yang penting sekarang. Sekarang Wonyoung harus makan. Ayo duduk." ucap Yohan menyuruh Wonyoung yang masih berdiri untuk duduk.


Wonyoung duduk dengan ragu-ragu. Dia seperti itu karena masih merasa bersalah. Tapi baru sehari Yohan sudah kembali dan mengkhawatirkannya.


Yohan pun mulai menyuapi Wonyoung dengan telaten. Tapi Yohan tidak berkata apa-apa. Dia hanya fokus untuk menyuapi Wonyoung. Sebenarnya dia masih marah dengan Wonyoung. Bahkan sangat marah. Bagaimana tidak. Wonyoung sudah merencanakan untuk meleyapkan anaknya.


Saat Wonyoung sudah selesai makan Yohan pun pamit pulang.


"Karena Wonyoung sudah makan saya pamit dulu ya ma, pa." ucapnya pada kedua mertuanya itu.


"Kamu nggak makan dulu?" ucap mama Wonyoung.


"Iya. Menginap saja disini. Lagian sudah malam." sambung papa Wonyoung.


"Hmm maaf ma, pa. Sepertinya saya harus pulang malam ini." ucap Yohan langsung beranjak pergi tanpa berbicara pada Wonyoung.


Wonyoung hanya diam tidak berani menatap suaminya itu. Dia merasakan rasa sakit yang mendalam saat suaminya sendiri tidak mau pulang bersamanya. Jangankan pulang bersama. Berbicara padanya saja dia merasa suaminya itu mungkin tidak mau.


Baru beberapa langkah Yohan berjalan dia berhenti dan berbicara.


"Kenapa kamu masih disitu? Ayo pulang." ucap Yohan lalu berjalan lagi.


Wonyoung yang mendengarnya langsung berdiri dan tersenyum. Dia pamit pada kedua orang tuanya. Lalu mengikuti Yohan keluar rumah dan masuk mobil.


Yohan melajukan mobilnya tanpa suara. Begitu juga saat mereka sampai di apartemen. Yohan memilih diam juga saat mereka sampai kamar. Dengan berani Wonyoung akhirnya buka suara demi mencairkan suasana yang dingin itu.


"Aku.. Aku tidur di kamar sebelah aja. Kamu tidurlah." baru membalikkan tubuhnya, tangan Wonyoung ditahan oleh Yohan.


"Kata siapa kamu tidur disana." ucap Yohan tanpa memandang Wonyoung.


"Bukan begitu. Aku hanya nggak mau mengganggu mu." ucap Wonyoung menunduk. Dia masih takut untuk melihat wajah Yohan.


Mereka diam sesaat. Lalu Yohan melihat Wonyoung menunduk. Dia tahu kalau Wonyoung takut padanya sekarang.


"Maaf. Maaf sudah membentak mu tadi. Kamu pasti takut padaku. Sekarang juga." ucap Yohan.


"Nggak perlu minta maaf. Aku memang salah disini. Maafkan aku." ucap Wonyoung mendongak menatap Yohan. Lalu dengan cepat menunduk lagi.


Yohan menarik dagu Wonyoung dengan telunjuknya. Mata mereka pun beradu. Yohan melihat mata Wonyoung yang membengkak terlihat habis menangis seharian.


"Maaf juga untuk ini." ucap Yohan mengecup kedua mata Wonyoung yang bengkak itu.


Wonyoung kembali menangis karena mendapat perlakuan lembut dari Yohan setelah kejadian tadi siang.

__ADS_1


"Kenapa kamu menangis lagi?" tanya Yohan menghapus air mata Wonyoung yang membasahi pipinya.


"Hikss.. Kenapa kamu baik sekali denganku setelah tau kalau aku berani merencanakan untuk melenyapkan anak mu?" ucap Wonyoung dengan tangisnya.


"Anak kita. Lagian aku tau kalau kamu nggak akan tega membunuh anak kita. Memang awalnya aku marah. Tapi setelah aku pikir-pikir itu juga salah aku. Dulu aku berjanji padamu untuk menunggumu lulus kuliah baru akan melakukannya. Jadi aku tahu kamu juga frustasi memikirkannya." Jelas Yohan sambil memeluk Wonyoung.


"Dan aku baik itu karena memang aku pria yang baik." ucapnya menatap Wonyoung membuat Wounyoung tersenyum dengan alasan konyol suaminya itu.


"Gitu dong senyum. Kamu cantik tau kalau senyum. Apa ini mata bengkak mu ini." ucap Yohan mengelus kedua mata Wonyoung.


"Ih apa sih." ucap Wonyoung melepas pelukannya.


"Jadi aku punya solusi. Tapi kayaknya aku juga pernah beritahu kamu deh." ucap Yohan.


"Apa?"


"Kuliah online. Kamu kan bisa ambil kelas online." ucap Yohan menunjukkan brosur kampus.


"Oh iya kamu pernah bilang. Habisnya aku panik saat mendengar kabar kalau aku hamil." ucap Wonyoung melihat brosur itu.


"Makanya kalau ada sesuatu diceritakan sama suami. Jangan dipendam sendiri." ucap Yohan mencolek hidung Wonyoung.


"Maaf."


"Sudahlah. Lebih baik kamu mandi gih. Kamu bau tau." ucap Yohan menuntun Wonyoung ke kamar mandi.


"Iya iya." Wonyoung pun mandi menuruti suaminya itu.


"Halo hyung."


"Ya? Ada apa? Ada masalah?"


"Nggak kok. Aku cuma mau kasih kabar aja."


"Wonyoung minta pisah dengan mu?"


"Sekali lagi hyung bicara seperti itu akan aku potong gaji mu hyung."


"Okelah. Lalu apa?"


"Sepertinya nanti anak mu ada teman mainnya hyung."


"Bagaimana mau bermain. Anak ku belum lahir han."


"Kau ini bodoh ya hyung. Wonyoung hamil anak ku."


"Benarkah? Baguslah kalau gitu. Eh sudah dulu ya. Eunbi datang. Oh ya pokoknya kau harus cerita kejadian tadi siang. Bye." terputuslah panggilan mereka.


"Dasar hyung bodoh." ucap Yohan lalu duduk dan mengerjakan pekerjaannya yang tertunda tadi.


☆☆☆☆

__ADS_1


"Siapa yang telpon tadi?" tanya Eunbi pada Seungwoo yang menyimpan ponselnya. Eunbi duduk disebelah Seungwoo yang sedang menonton tv.


"Yohan. Katanya Wonyoung hamil." ucap Seungwoo membaringkan kepalanya dipangkuan Eunbi.


"Wah anak itu beneran ya. Kasihan Wonyoung belum lagi masuk kuliah harus tertunda." ucap Eunbi mengusap kepala Seungwoo.


"Hmm. Tapi begitu anak kita lahir nggak lama anak mereka juga lahir. Berarti nanti anak kita nggak kesepian deh." ucap Seungwoo mengecup perut Eunbi yang sedikit membesar.


"Iya ya. Tapi gimana nasib Wonyoung nanti ya."


"Udah kamu tenang aja. Itu pasti ada solusinya." ucap Seungwoo yang memejamkan matanya dan kemudian tertidur.


☆☆☆☆


Wonyoung pun selesai mandi. Wonyoung keluar dari kamar mandi tidak melihat Yohan lalu keluar dari kamarnya. Dilihatnya Yohan sedang tidur disofa ruang tamu dengan berkas-berkas menumpuk di pangkuannya.


"Astaga. Pasti kelelahan dari siang sampai tertidur seperti itu." ucap Wonyoung. Dihampirinya suaminya itu. Lalu dibangunkannya.


"Heyy.... Bangun..." ucapnya menoel pipi Yohan. Yohan tersadar dan membuka matanya.


"Ayo pindah ke kamar. Nggak nyaman tidur disini." ucap Wonyoung merapikan berkas-berkas dan meletakkannya dimeja.


"Hmm..." gumam Yohan kemudian berjalan ke kamar. Dia sungguh mengantuk karena lelah.


Wonyoung mengambil teko kaca dan diisinya dengan air. Kemudian dibawanya ke kamar bersama satu gelas. Saat didalam kamar terlihat Yohan tertidur dengan telungkup dikasur. Wonyoung tersenyum melihat posisi tidur Yohan yang lucu.


Setelah meletakkan teko yang dibawanya tadi dia juga naik ke kasur tidur di sebelah Yohan. Dia menatap wajah Yohan yang mengarah padanya. Diulurkan tangannya dan menyentuh pipi Yohan.


"Aku tau kalau aku ini sangat tampan sampai nggak bisa menahan untuk menyentuh ku." ucap Yohan masih memejamkan matanya.


Wonyoung menarik tangannya tapi ditahan oleh Yohan.


"Kamu belum tidur?" tanya Wonyoung menatap Yohan yang sudah membuka matanya.


"Udah. Tapi terbangun karena kamu." ucap Yohan membenarkan posisi tidurnya.


Yohan menarik Wonyoung dalam pelukannya. Di ciumnya pucuk kepala Wonyoung kemudian dilihatnya wajah Wonyoung.


"Coba kamu potong poni. Aku mau lihat rambutmu berponi." ucap Yohan mengusap-usap rambut Wonyoung.


"Baiklah kalau kamu mau. Tapi kamu beneran udah nggak marah lagi kan?" tanya Wonyoung menatap Yohan.


"Nggak. Kenapa?"


"Sejujurnya aku takut saat berpikir seperti itu. Aku tau kamu akan marah. Dan sebenarnya aku tidak sungguh-sungguh kemarin." ucap Wonyoung menunduk tidak berani menatap Yohan.


"Iya aku tau kok. Makanya aku kembali lagi menjemput mu. Sudahlah. Kita lupakan saja kejadian tadi. Lebih baik kita tidur biar kita melupakan itu." ucap Yohan mempererat pelukannya.


Mereka pun tertidur dalam keadaan saling berpelukan.


☆☆☆☆

__ADS_1


__ADS_2