Cinta pertama Wonyoung

Cinta pertama Wonyoung
Bagian 37


__ADS_3

Haii 🤗🤗


Aku balik lagi nih.


Oh iya ini bagian 37 yang pernah aku up tp aku revisi lagi karena aku rasa ada yang kurang.


Dan di bagian dekat akhir itu sedikit sedih. Tapi gak tau juga gimana kalau kalian yang baca.


Oke tanpa membuang waktu langsung aja baca..


POV Author.


Sudah seminggu berlalu dan Wonyoung belum juga menyatakan perasaanya. Dia semakin bingung karena Yohan juga belakangan ini selalu sibuk dengan perusahaannya dan urusan lainnya.


Wonyoung curiga. Belakangan ini Yohan sering mendapat panggilan dari seseorang. Setiap ditanya dia selalu mengalihkan pembicaraan atau dia pamit pergi yang alasannya urusan pekerjaan.


Contohnya hari ini. Pagi-pagi tadi Yohan sudah berangkat. Wonyoung tidak tahu kemana suaminya itu pergi. Karena takut terjadi suatu hal yang tidak diinginkan Wonyoung menelpon Seungwoo, sekertaris suaminya itu.


"Halo?" terdengar suara dari sebrang sana.


"Halo oppa. Ini Wonyoung."


"Ya? Ada apa ya?"


"Wonyoung mau tanya. Apa benar belakangan ini oppa Yohan pergi ke kantor dari pagi?" tanya Wonyoung dengan hati-hati.


"Iya benar Yohan selalu datang pagi ke kantor."


"Kira-kira ada masalah di perusahaan? Wonyoung nanya begini karena dia nggak mau cerita. Wonyoung hanya khawatir aja oppa."


"Hmm gimana ya... Sebenarnya nggak ada masalah serius sihh hanya ada beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan lebih awal."


"Begitu ya.... Kalau begitu--" tiba-tiba terdengar suara teriakan dari sebrang telepon.


"Ya! Masa kalian nggak bisa mengerjakan itu saja?! Kalian taukan kalau saya mau semua ini harus cepat selesai!" begitulah yang Wonyoung dengar.


"Haha maaf ya Wonyoung disini kacau sekali. Jadi cuma mau tanya itu?"


"Ah iya oppa. Maaf kalau mengganggu."


"Nggak kok. Yaudah saya tutup dulu telponnya." berakhirlah panggilan mereka.


Wonyoung yakin yang berteriak tadi itu suaminya. Sebenarnya pekerjaan seperti apa yang harus dikerjakan lebih awal sampai mengejar waktu begitu? Wonyoung berpikir dia harus menyusul ke kantor suaminya itu. Tapi sebelum itu dia mengirim pesan pada Seungwoo untuk menanyakkan mereka sedang dikantor yang mana.


☆☆☆☆


"Ya! Masa kalian nggak bisa mengerjakan itu saja?! Kalian taukan kalau saya mau semua ini harus cepat selesai!" Yohan tidak tahan lagi dengan karyawannya yang bekerja tidak sesuai targetnya.


Yang benar saja. Percuma dia memberi bonus lebih kalau mereka tidak bisa menyelesaikannya tepat waktu. Bukan apa, dia sudah memesan tiket untuk mereka liburan. Dan waktunya tinggal 5 hari lagi.


"Ya sudah. Kalian boleh keluar. Saya mau ini harus lebih baik lagi. Pak Lee itu sangat pemilih." suara Yohan mulai menurun.


Para karyawan yang tadi kena marah langsung buru-buru keluar. Setelah mereka keluar Seungwoo masuk ke ruangan Yohan.


"Kau kenapa sih? Kasihan mereka tau. Sudah lembur malah kau marahin." ucap Seungwoo tepat dihadapan Yohan yang sedang duduk.


"Hah.... Aku nggak tau lagi mau berbuat apa hyung. Aku semakin gugup kalau pekerjaan ini nggak bisa selesai sesuai target. Kau tahukan kalau aku sudah memesan tiket. Sayang banget kalau semua yang aku siapkan gagal nantinya." hanya pada Seungwoo dia bisa bicara panjang lebar seperti itu.


"Ya aku tau sih. Oh ya, tadi Wonyoung menelponku." ucapan Seungwoo membuat Yohan terkejut.


"Hah? Untuk apa dia menelpon mu? Ada masalah apa?" ucap Yohan yang terlihat cemas.


"Dia tadi tanya ada masalah apa di kantor. Kenapa kau selalu pergi pagi-pagi." ucap Seungwoo sambil berjalan kearah sofa milik Yohan.


"Ini nih yang bikin aku makin cinta sama dia... Tapi kenapa dia nggak menelponku saja. Padahal kalau dia menelponku mungkin amarahku meredam." Yah Yohan sedikit kecewa. Bagaimana pun Yohan juga rindu dengan Wonyoung.


Belakangan ini dia jarang berinteraksi karena dia pergi pagi dan pulang malam sekali. Yohan pergi saat Wonyoung masih tidur dan Yohan pulang saat Wonyoung sudah tidur.

__ADS_1


"Kan jadi kangen..." ucap Yohan sambil memandangi ponselnya yang terdapat foto Wonyoung.


"Kau nggak memberi tau dia?" tanya Seungwoo. Dia heran kenapa harus disembunyikan.


"Yah nggak seru dong. Kan aku mau kasih kejutan." ucap Yohan masih memandangi ponselnya.


"Nanti kalau dia salah paham gimana? Tadi dari suaranya dia takut terjadi sesuatu padamu." ya, Seungwoo jelas mengetahui dari pertanyaan Wonyoung tadi.


"Salah paham gimana maksud hyung?" kini Yohan menatap Seungwoo.


"Yah nggak taulah. Aku masih banyak kerjaan. Udah ya aku keluar dulu." Seungwoo beranjak dari duduknya dan keluar ruangan itu.


"Apa sih nggak jelas banget." Yohan pun melanjutkan pekerjaannya.


☆☆☆☆


Wonyoung sudah berada di depan kantor suaminya. Tadi Seungwoo memberi tahu kalau hari ini Yohan bekerja di kantornya, perusahaan mabel miliknya. Untung saja Seungwoo tidak menanyakan kenapa dirinya bertanya seperti itu.


Wonyoung memasuki lobby. Tidak banyak yang menatapnya. Semua sibuk pada kegiatannya masing-masing. Wonyoung mendekati meja resepsionist ingin bertanya apakah suaminya masih ada di kantor atau tidak.


"Permisi." ucap Wonyoung sopan.


"Ya mbak. Ada yang bisa dibantu?" mbaknya berbeda dengan yang waktu itu mereka buat keributan. Jadi dugaan Wonyoung mbaknya tidak tahu kalau Wonyoung istri Yohan.


"Saya sudah ada janji dengan pak Yohan. Apa pak Yohan masih diruangannya?" tanya Wonyoung. Dia sengaja tidak memberi tahu kalau dirinya itu istri Yohan.


"Ya masih. Kalau boleh tau nama mbak siapa? Biar saya beritahu pak Yohan dulu." tanya mbak itu sopan.


"Tidak perlu. Tadi saya sudah menghubunginya. Dia juga sudah menyuruh saya untuk datang."


"Maaf sebelumnya mbak. Tapi ketentuan disini mbak harus memberitahu nama mbak dan untuk keperluan apa."


Aduh gawat. Sepertinya susah masuk kalau pakai cara ini. Ini udah jam makan siang lagi. Aku nggak bawa bekal lagi. Kan laper... ringis Wonyoung dalam hati.


Tak lama kemudian ada suara orang berteriak dari dalam. Walaupun tidak terdengar jelas tapi Wonyoung yakin itu suara orang sedang marah. Kalau tidak mana mungkin sampai berteriak seperti itu.


"Ah itu pak Yohan sedang ada masalah dengan karyawan dan sepertinya dia ingin keluar. Kalau memang mbak mau bertemu tunggu saja di sana." mbak itu menunjuk ke arah sofa ruang tunggu yang berada dilobby itu.


"Terimakasih mbak." Wonyoung berjalan ke arah sofa itu. Terpaksa dia menemui Yohan disini. Padahal dia ingin memberi kejutan di atas.


Tak lama kemudian Yohan terlihat berjalan keluar. Terlihat dia marah-marah pada karyawan yang di sebelah kanannya. Dan di sebelah kirinya ada Seungwoo yang juga mengikutinya.


"Sudah saya bilang kalau ini harus selesai hari ini! Kenapa sampai sekarang masih bentuk dasarnya saja?!" langkah Yohan terhenti di tengah ruangan lobby itu.


"Maaf pak. Tapi pak kami masih harus mengerjakan interior luar pak." ucap karyawan itu.


"Saya nggak butuh alasan. Saya mau itu harus kalian laporkan pada saya sore ini. Sekarang--"


"Oppa!" ucapan Yohan terpotong karena mendengar suara yang sangat dikenalnya. Apa dia berhalusinasi? Yohan pun menoleh kearah suara.


Yohan tentu terkejut. Bahkan matanya melotot seakan mau keluar. Wonyoung tersenyum lalu berjalan kearah Yohan.


"Kamu.... Kenapa kamu kesini?" suara Yohan sedikit melembut.


Semua orang yang berada di lobby melihat kearah Yohan. Mereka biasa saja saat Yohan marah-marah. Tapi mereka terkejut saat Yohan memelankan suaranya ditengah marahnya. Siapa sih orang yang membuat Yohan begitu pikir mereka.


"Oppa. Masih lama?" tanya Wonyoung yang masih menunjukkan senyumnya.


"Hah? Iya. Ini mau pergi lagi ketemu klien." jawab Yohan tanpa memperdulikan para karyawan yang menatapnya.


"Gitu ya. Kalau gitu aku mau bilang sesuatu sama oppa." ucapan Wonyoung membuat dahi Yohan berkerut. Sepertinya Yohan tau kemana arah bicaranya.


"Oppa. Aku sebenarnya---" ucapan Wonyoung terpotong. Jari Yohan menutup bibir merah Wonyoung agar tidak melanjutkan bicaranya.


"Hahaha.... Sudah ya. Oppa sibuk nih. Lebih baik kamu pulang dulu. Oke?" Yohan tidak mau kalau istrinya menyebutkan kata itu disini. Sangat tidak etis.


"Oppa!!" Sepertinya Wonyoung tidak bisa menahan lagi. Sudah berapa kali dia gagal mengucapkannya. Masa sekarang pun dia gagal.

__ADS_1


Yohan jelas terkejut mendengar istri imutnya itu tengah berteriak. Ini bukan pertama kali dia mendengar Wonyoung berteriak. Tapi ini di depan umum loh. Semua karyawannya jadi menonton mereka sekarang.


"Oppa kenapa sih? Hikss.. kenapa oppa selalu menghindar??" bukan ini yang Yohan mau. Kenapa Wonyoung jadi menangis. Dia tidak bisa melihat Wonyoung menangis.


"Oppa nggak menghindar kok. Oppa hanya bilang bicaranya nanti saja. Oppa lagi ada urusan." memang Yohan sudah ada janji. Kalau dibatalkan sekarang takutnya pertemuan bakal diundur, proyeknya diundur dan liburannya juga diundur. Yohan tidak mau itu terjadi.


"Hikss.. terus. Kenapa oppa nggak mau dengarkan ucapanku? Itukan menghindar. Udah berkali-kali aku mau bicara tapi selalu gagal.. hikss.." Yohan bingung. Dia harus segera menenangkan Wonyoung. Tapi bagaimana?


"Udah dong nangisnya. Kan kamu udah janji nggak bakalan nangis lagi. Udah ya. Oppa mau pergi dulu." Yohan mengusap kepala Wonyoung.


"Nggak! Oppa nggak boleh pergi." Wonyoung menahan tangan Yohan.


"Aku--"


Cup!


Yohan mencium bibir Wonyoung. Semua orang yang ada disana terkejut termasuk Wonyoung. Kenapa Yohan menciumnya disaat dia ingin bicara?


"Udah. Oppa udah tau kamu mau bicara apa. Sekarang kamu pulang ya. Biar sekertaris Han yang mengantar. Oke?" Yohan kembali mengusap kepala Wonyoung.


"Tunggu! Emang aku mau bicara apa?" Ucap Wonyoung yang masih memegang sebelah tangan Yohan.


"Hahh... Sebenernya oppa gak mau bilang ini sekarang. Oppa tau kamu mau bilang apa." Ucap Yohan lalu dia meraih kedua tangan Wonyoung. Kemudian menatap mata istrinya itu. Ini posisinya masih didepan para karyawannya. Seungwoo juga ada.


"Aku tau ini jauh dari kata romantis. Sumpah ini gak etis banget tau gak sih." Wonyoung tertawa mendengar ucapannya.


"Wonyoung-a.. Jang Wonyoung. Kim Wonyoung. Wony nya aku... Emang selama ini aku gak pernah bilang kata kata cinta. Mungkin selama ini aku cuma nunjukin sisi mesum ku aja." Wonyoung kembali tersenyum mendengar ocehan Yohan.


"Tapi aku udah suka sama kamu dari awal kita nikah. Setelah berkencan 4 kali aku udah suka sama kamu. Lalu selama kita menjalani kehidupan pernikahan aku jadi sayang banget sama kamu. Lalu aku denger kabar kalau kamu hamil anak aku. Aku seneng banget. Terus kamu tiba2 bilang rencana jahat yang gak aku sangka sampai aku marah besar sama kamu." Wonyoung mulai menitik kan air mata mengingat kejadian itu.


"Aku memang kecewa saat itu. Tapi aku sadar kalau aku itu udah cinta banget sama kamu." Mata Yohan terlihat berkaca kaca. Semua karyawan terlihat kaget melihat sisi lain dari Yohan.


"Wonyoung. Please jangan berpikir kalau aku bakal ninggalin kamu. Karena aku cinta sama kamu... Aku cinta banget sama kamu." Wonyoung pun mulai menangis. Yohan terdengar sangat tulus. Membuat hati Wonyoung tersentuh.


"Aku... aku juga cinta sama kamu... Bahkan kamu itu cinta pertama aku." Lalu Wonyoung memeluk Yohan. Yohan membalas pelukan Wonyoung. Ini sungguh indah. Semua karyawan yang ada disana bertepuk tangan. Ada yang tersenyum. Ada pula yang ikut terharu.


Setelah berpelukan cukup lama Yohan melepaskan pelukannya. Dia menatap istrinya itu dan menghapus air matanya. Wonyoung pun menghapus sisa air mata Yohan yang sempat terjatuh tadi.


"Oppa. Jadi gimana dengan klien oppa." Tanya Wonyoung dengan wajah polosnya itu. Karyawan yang tadi berkumpul kini kembali ke tempatnya masing masing.


"Ah iya ya. Gimana hyung?" Tanpa sadar Yohan memanggil Seungwoo dengan sebutan hyung di depan karyawan.


"Sebentar. Ini pak Lee telpon." Seungwoo mengangkat panggilan itu dan pergi menjauh.


"Oppa. Kalau klien itu nanti marah gimana dong." Ucap Wonyoung sambil menyedot ingusnya. Kan Yohan jadi gemes.


"Yah biarin lah. Kamu yang lebih penting." Ucap Yohan sambil tersenyum. Wonyoung pun ikut tersenyum. Lalu Seungwoo datang setelah menutup panggilan.


"Han. Pak Lee bilang dia bakal ke Amerika selama sebulan. Jadi proyek ini ditunda sampai beliau pulang nanti." Ucapnya.


"Bagus kalau gitu. Oh ya ini udah jam makan siang. Hyung bilang sama yang lain kalau proyeknya ditunda." Ucap Yohan.


"Baik."


"Ah aku mau makan siang bareng Wonyoung. Setelah itu langsung pulang. Kalau kerjaan hyung udah kelar langsung pulang juga gak papa."


"Iya. Kalau gitu aku ke dalam dulu." Setelah tu Seungwoo melangkahkan kaki nya meninggalkan pasutri itu.


"Kamu belum makan kan? Ayo kita makan. Di restoran Hyeongjun mau?" Tawar Yohan.


"Boleh."


"Oke. Ayo." Mereka pun pergi menuju restoran Hyeongjun.


☆☆☆☆


Jangan lupa like dan komennya. 👍👍

__ADS_1


__ADS_2