Cinta pertama Wonyoung

Cinta pertama Wonyoung
Bagian 24


__ADS_3

"Apa? Akukan belum ada pasport. Visa apalagi. Kamu jangan bercanda deh." Ucap Wonyoung menatap Yohan yang sedang bercermin.


"Semua itu udah diurus sebelum kita menikah." Ucap Yohan santai.


"Hah? Tunggu. Tapi aku kok nggak tau?"


"Aku minta sama papa agar nggak kasih tau kamu. Sudah ayo kita berangkat. Sudah telat nih." Ucap Yohan menarik tangan Wonyoung untuk keluar dari apartemen.


"Terus kok nggak bawa baju?"


"Baju bisa dibeli. Kita sudah tidak ada waktu lagi."


Mereka keluar dari apartemen menuju parkiran. Yohan langsung melajukan mobilnya begitu masuk mobil. Dia melajukannya dengan kecepatan diatas rata-rata. Mau bagaimana lagi, waktu mereka terbatas.


Begitu sampai bandara mereka langsung menghampiri Seungwoo. Yohan bertanya tentang penerbangan mereka tanpa menyadari kalau wajah Wonyoung terlihat pucat.


"Bagaimana hyung?" Tanya Yohan.


"Penerbangannya ditunda. Tapi kau yakin mau bawa dia?" Ucap Seungwoo menatap Wonyoung diikuti oleh Yohan.


"Astaga! Kamu kenapa? Kamu sakit?" Tanya Yohan dengan memegang bahu Wonyoung. Dia juga mengecek suhu badan Wonyoung.


"Hmm nggak kok. Mungkin karena tadi pagi nggak sempat sarapan." Ucap Wonyoung menatap Yohan dengan senyum diwajah pucatnya.


"Maafkan aku. Gara-gara aku kamu jadi menderita begini. Karena penerbangan tertunda kita makan dulu yuk sambil menunggu." Ucap Yohan mengelus pipi Wonyoung. Wonyoung pun mengangguk.


"Hyung. Kami makan dulu di kafè dekat sini. Kalau hyung mau ikut boleh. Kalau nggak hyung tunggu disini aja." Ucap Yohan lalu meraih tangan Wonyoung dan mengajaknya pergi dari situ.


"Kalian aja. Aku lebih baik menunggu disini." Ucap Seungwoo sedikit berteriak karena Yohan dan Wonyoung sudah menjauh.


Mereka makan di restoran Jepang. Mereka masuk dan mengambil tempat duduk. Mereka juga langsung memesan makanan.


"Kenapa nggak bilang kalau sudah lapar? Hm?" Tanya Yohan sambil mengelus tangan Wonyoung.


"Tadi maunya setelah mandi langsung makan. Eh! Makanan yang dari ibu tertinggal deh." Ucap Wonyoung tiba-tiba teringat makanan yang diberikan oleh ibu Yohan.


"Ya sudah kali biarkan saja." Ucap Yohan santai.


"Kan sayang." Keluh Wonyoung.


"Apa sayang~~" goda Yohan sambil tersenyum.


"Ih kamu! Aku lagi serius juga. Sayang tau makanannya." Ucap Wonyoung. Kali ini dia sedikit sebal.


"Yah jadi mau bagaimana? Nggak mungkinkan kalau kita kembali kerumah. Pekerjaan aku yang ini sangat penting." Ucap Yohan sabar.


"Ya ya ya."


Lalu makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Mereka pun makan dengan tenang. Tentunya Yohan menyuapi Wonyoung terlebih dahulu baru dia makan.

__ADS_1


Tak terasa sudah satu jam berlalu. Seungwoo yang dari tadi tak menampakkan diri datang menghampiri mereka.


"Sudah waktunya berangkat." Ucap Seungwoo begitu sampai di meja mereka.


"Baiklah. Ayo sayang." Ucap Yohan meraih tangan Wonyoung.


☆☆☆☆


"Ih.. Wonyoung kok nggak angkat telpon aku sih??" Ucap Hara yang sekarang berada di depan pintu apartemen Wonyoung.


"Ini pintu juga nggak dibuka-buka. Apa mereka pergi ya?" Ucapnya lagi yang menekan bel berkali-kali.


"Eh ada Hara." Ucap Hyeongjoon.


"Ada perlu apa?" Tanyanya.


"Ahh... Aku hari ini mau berkunjung aja sih. Hyeongjoon juga?" Tanya Hara.


"Iya nih. Tapi kok Hara masih berdiri disini?"


"Sepertinya nggak ada orang di rumah. Aku sudah menekan bel berkali-kali tapi nggak ada yang bukain. Mungkin mereka pergi." Ucap Hara yang memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.


"Hmm begitu ya. Kalau gitu Hara mau nggak main ke kafè ku? Ya anggap saja kita bisa saling mengenal. Bagaimana?" Tawar Hyeongjoon.


Hara menyetujuinya dan mereka langsung berangkat menuju kafè milik Hyeongjoon.


Sampai disana Hara sedikit kagum melihat kafè yang mereka datangi. Kafè itu begitu ramai oleh pengunjung. Lalu Hara juga kagum melihat konsep kafè yang terlihat elegan dan dewasa. Kafè itu terlihat seperti kafè untuk menghilangkan rasa suntuk orang dewasa pikirnya.


"Hyeongjoon. Hmm aku boleh bertanya?" Ucap Hara sedikit pelan.


"Ya?" Ucap Hyeongjoon menatap Hara.


"Ini sebenarnya milik mu atau kau hanya bekerja disini?" Akhirnya keluar juga pertanyaan itu pikir Hara.


"Ohh.. Kau pasti sudah penasaran dari tadi. Sebentar ya aku pesankan dulu minumannya." Ucap Hyeongjoon lalu pergi menuju belakang kafè dimana itu dapurnya.


Tak berapa lama Hyeongjoon kembali dengan dua minuman segar dan tiga potong kue yang tersedia di kafè itu. Dia duduk setelah meletakkan semua itu diatas meja.


"Sebenarnya dulu aku hanya bekerja disini. Lalu pemiliknya bilang kalau sepertinya kafè ini akan bangkrut. Sebelum kafè benar-benar ditutup Seungwoo hyung datang membawa seorang pria yang lebih tua dariku dan lebih muda darinya. Kau tau siapa?" Ucap Hyeongjoon menaikkan sebelah alisnya.


"Apakah itu pak Yohan?" Tanya Hara ragu.


"Benar sekali. Awalnya dia sangat dingin dan nggak banyak bicara. Seminggu sebelum kafè ditutup dia sering datang kesini. Dia makin dekat dengan ku. Dan ternyata dia tau kalau kafè inibakan tutup. Jadi dia beli kafè ini dan bilang kalau aku pemilik kafè ini mulai saat itu. Ya sampai sekarang aku pemiliknya. Hahaha..." tawanya sungguh lucu didengar. Hara melihatnya tertawa mengerutkan dahi.


"Ah maaf. Yah memang begitu ceritanya." Ucapnya malu lalu meminum minumannya.


"Kafè ini awalnya akan tutup karena kurang pengunjung. Jadi bagaimana bisa seramai ini?" Tanya Hara yang juga meminum minumannya.


"Ohh itu sebenarnya aku sudah bilang sama pemilik yang lama kalau konsep kafè salah. Tapi dia tidak mau dengarkan aku. Setelah perubahan pemilik langsung aku ubah konsep dan juga aneka minuman dan juga kuenya." Ucap Hyeongjoon tersenyum.

__ADS_1


"Begitu rupanya. Tapi ini kue dan minumannya enak loh." Ucap Hara. Sekarang dia memakan kue yang dibawa Hyeongjoon.


"Benarkah? Ini kue dari tempat yang beda dari biasanya." Ucap Hyeongjoon juga mencicipi kue itu.


Selagi percakapan mereka ada seseorang yang menghampiri dan menyapa.


"Hyeongjoon? Sedang apa kau disini?" Ucap pria itu.


Hara dan Hyeongjoon menoleh ke arah suara. Hyeongjoon terkejut melihat siapa yang datang.


☆☆☆☆


Wonyoung dan Yohan sudah berada di dalam pesawat. Jangan lupa Seungwoo juga berada disana. Tapi Seungwoo duduk jauh dari mereka berdua. Karena kursi mereka berdua sebenarnya kursi untuk Yohan dan Seungwoo yang sudah dipesan dari awal.


Tapi karena Yohan meminta pesankan tiket lagi jadi kursinya dapat jauh dari mereka. Jadi tak mungkin membiarkan Wonyoung duduk sendirian disitu. Terpaksa Seungwoo yang duduk disana. Mereka duduk di bagian eksekutif.


"Apa nggak masalah kalau Seungwoo oppa duduk sendirian disana?" Tanya Wonyoung yang melihat Seungwoo dari jauh.


"Terus kamu mau duduk disana sendiri?" Tanya Yohan.


"Nggak sih. Aku hanya merasa nggak enak aja." Ucap Wonyoung. Dia berbalik menatap Yohan.


"Sudahlah nggak perlu dipikirkan. Yang harus kamu pikirkan perasaan mu. Gimana? Ada rasa mual nggak?" Tanya Yohan cemas.


"Yah untuk saat ini aku baik-baik saja. Tapi aku sekarang lapar." Ucap Wonyoung memelas sambil gelanyutan dilengan Yohan.


"Ehh? Lapar ya? Hmm.. Sebentar ya." Yohan pun memanggil pramugari dan memesan beberapa makanan.


"Belakangan ini nafsu makan kamu bertambah ya." Ucap Yohan setelah selesai memesan.


"Aku juga nggak tau. Rasanya cepat lapar. Apalagi ada kamu sekarang. Tapi kalau lagi sendiri aku nggak berselera. Mual terus bawaannya." Ucap Wonyoung.


"Mungkin bawaan anak kita nih." Ucap Yohan tersenyum sambil mengelus perut Wonyoung yang masih rata.


Disela obrolan mereka datang makanan yang Yohan pesan tadi. Wonyoung makan dengan lahap menghabiskan semuanya. Tentu dengan suapan Yohan.


Setelah selesai makan Wonyoung tertidur bersandar di bahu Yohan. Lalu Seungwoo menghampiri Yohan.


"Ini file yang akan dibahas dengan tuan Kim nanti. Pokoknya kau pelajari dulu filenya." Ucapnya lalu pergi kembali ke tempat duduknya setelah memberikan berkas.


Yohan membuka berkas tersebut selembar demi selembar. Lalu dibukanya laptop miliknya. Dia bergerak dengan hati-hati takut Wonyoung terbangun. Dia mengecek data tuan Kim yang sudah dari awal dia simpan.


Sibuk dengan pekerjaannya membuat Wonyoung merasakan pergerakan suaminya yang sibuk membolak-balik kertas. Wonyoung pun terbangun tapi masih menyenderkan kepalanya dibahu Yohan.


"Segitu pentingnya ya kerjaan kali ini?" Tanya Wonyoung dengan suara serak sehabis bangun.


"Kamu udah bangun? Maaf ya karena aku kamu jadi terbangun." Ucap Yohan yang masih sibuk dengan laptopnya.


"Nggak masalah kok. Kamu lanjut aja. Aku mau lanjut tidur." Ucap Wonyoung.

__ADS_1


"Iya kamu lanjut aja tidurnya. Kita masih lama sampai." Ucap Yohan mengelus pucuk kepala Wonyoung. Dan pesawat mereka masih harus mengudara sekitar 10 jam lagi.


☆☆☆☆


__ADS_2