Cinta Satu Malam CEO Tampan

Cinta Satu Malam CEO Tampan
darah orang kaya


__ADS_3

Suara riuh terdengar dari dalam rumah sederha itu, batita kecil itu masih senang berlarian ditengah ruangan kamar yang sempit. tangan kecilnya masih senang menghamburkan bedak tabur ke seluruh penjuru kamar, membuat seisi kamar itu nampak putih dan lantainyapun ikut licin.


"Sayang sini makan dulu" terdengar suara seorang wanita dari arah luar kamar, terdengar nyaring dan berhasil membuat batita kecil didalam kamar itu terdiam saat mendapatkan panggilan dari sang ibu.


Dengan tawa yang mereka batita laki-laki itu berlarian menuju pintu, namun karna lantai yang licin, si bayi langsung jatuh tersungkur keatas lantai yang putih karna bedak.


"Hwaa...hiks...hiks... hwa..." tangisnya pecah saat kepalanya menyentuh lantai.


Ailin yang masih sibuk didapur segera berlari kearah kamarnya saat suara tangis sang putra terdengar begitu jelas.


Namun saat dia membuka pintu kamar, tampaklah sebuah pemandangan indah yang membuatnya sangat takjub sampai-sampai matanya hampir meloncat keluar. Sebuah taman berbalut salju buatan tangan sang putra nampak sangat indah. Sangat mirip dengan suasana natal di Eropa.


Semburat kemarahan tampak jelas diwajah cantik Ailin, namun saat melihat wajah putranya yang putih karna tersungkur ke lantai yang penuh bedak membuat kemarahan-nya berganti dengan rasa gemas.


Ya ampun anak siapa sih ini?, batin-nya sambil menggeleng-gelengkan kepala pusing.

__ADS_1


Bayinya kini bukan lagi bayi yang hanya mampu menangis saat dia merasa lapar atau haus. Bayinya itu kini sudah berusia empat tahun dan menjadi anak paling bandel dijagat raya.


"Ck, Uluh anak mamah kenapa nagis sayang?" Ailin berdecak sebal lalu segera meraih tubuh putranya yang tergeletak diatas lantai, ia hanya bisa menekan bibirnya dalam saat melihat wajah tampan putranya putih seperti badut sirkus.


"Hiks... ma atit... hiks..." Batita itu masih terisak sambil menunjuk-nunjuk dahinya yang tadi sempat mencium lantai.


Ailin mengusap lembut dahi sang putra, nampak sebuah benjolan warna merah dan perlahan mulai membiru. "Dahi Zico sakit ya?, emm... anak mamah sayang" Ujarnya sambil mengecup singkat benjolan didahi Zico.


Zico seakan sudah tak punya rasa sakit, setelah diberi kecupan kecil dari Ailin, batita itu seketika sembuh lalu mulai tersenyum cerah seperti sebelumnya.


Kecupan seorang ibu memang paling mujarab diseluruh dunia.


Sorot mata Ailin beralih menatap mata elang putran-nya yang masih merah karna menangis. Zico segera menunduk lalu memeluk erat leher ibunya.


"Napin Dico ma, Dico dandi ga banel lagi" Didikan Ailin memang yang terbaik, hanya ditatap sedikit, batita itu segera faham dengan maksud tatapan tajam sang ibu.

__ADS_1


Zico mengecupi leher Ailin lembut, membujuknya agar tidak marah lagi.


Ya ampun modus cowok tampan memang mantab!!!.


Ailin mengelus kepala putranya lembut, "Iya mamah maafin, tapi Zico harus janji sama mamah gak akan bandel lagi ok"


Batita yang bergelantung di lehernya itu segera mengangguk, "Ok Dico ga banel agi" Suaranya terdengar lemah tanda menyesal.


"Awasloh kalo udah janji gak boleh di ingkari, bisa-bisa hidungnya panjang kaya punya Olap" Tukas Ailin sambil mencubit pelan hidung mancung putranya.


"idung Olap kan wotel, beda cama puna Dico" oceh Zico menepis perkataan Ailin.


Ailin tak mampu menjawab, bibirnya terasa kelu setelah mendengarkan jawaban brilian dari putranya. Ailin bebar-benar tak habis pikir, Zico yang baru berusia empat tahun itu sangat pandai dan jago berbicara.


Mungkin karna darah orang kaya mengalir ditubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2