
Waktu terus berganti, tak terasa malam sudah semakin larut, malam ini agak berbeda dari malam sebelumnya, kini Ailin menghabiskan malam ditanah air tercinta.
Ailin masih sibuk mengelus kepala putranya yang hampir terlelap. tatapan-nya menerawang membayangkan bagaimana reaksi ibu dan ayahnya saat tahu kalau gadis kecil mereka hamil di luar nikah saat menempuh pendidikan di negara orang.
Stres?, iya rasanya Ailin kini sedang mengalami depresi berat, beruntung putranya itu selalu berada disampingnya, menyadarkan Ailin bahwa semua yang menimpanya adalah takdir yang sudah diukir sang pencipta.
Ailin mengalihkan pandangan-nya pada sang putra, mengecup dahinya lembut lalu bangkit dari atas ranjang.
Pelan-pelan gadis itu meninggalkan Zico yang sudah tertidur pulas. Menutup pintu kamar pelan agar tidur nyenyak sang putra tidak terganggu.
Ailin berjalan pelan menyusuri setiap koridor mansion itu, hanya ada keheningan di sana. Liam dan supir belum juga kembali, kalau si tuan batu mungkin sudah tidur lebih dulu.
Ailin terus melangkah, tampa sengaja gadis itu menemukan sebuah bar mini disalah satu kamar yang ada disana. Ailin segera masuk lalu menghampiri deretan minuman beralkohol dengan merek-merek terkenal.
"Rasanya sudah hampir lima tahun sejak aku terakhir kali meminum ini" gumamnya pelan sambil mengangkat satu botol minuman.
__ADS_1
Kini hanya tinggal penyesalan, kalau saja dulu dia tidak meminum minuman itu, mungkin stres yang ia alami saat ini tidak akan terjadi.
Zico tak akan mungkin di produksi. hanya tinggal penyesalan dalam diri Ailin saat ini, kenapa ia begitu nakal hingga bisa mabuk dan membiarkan seorang pria menyimpan benihnya.
"Kalau minum sedikit tidak akan mabuk kan?" gumamnya lagi, gadis itu berusaha membuka tutup botolnya. Meneguknya sedikit lalu ia simpan lagi diatas meja.
Ailin duduk menunduk diatas lantai, perlahan tapi pasti tubuhnya menjadi panas dan kepalanya menjadi sedikit pusing.
Tampa sadar gadis itu membuka jubah mandinya, melemparnya asal karna tak nyaman. "Kenapa tubuhku seperti ini, aku tidak mungkin mabuk" Gumamnya pelan, padahal tadi Ailin hanya menyicipinya sedikit, mana mungkin dia bisa mabuk.
Ailin bangkit dari duduknya, berjalan pelan menuju kamarnya. Rasanya pusing, dengan langkah yang tertatih Ailin merayap di dingding mempertahankan kesadaran yang hampir hilang.
Ailin yang masih punya akal sehat segera memutar tubuhnya, berjalan menjauhi Leon yang terus mendekat kearahnya.
"Bagaimana ini, jika dia melihatku seperti ini habislah riwayatku" Gadis itu cukup tahu diri, walaupun akalnya sudah teracuni namun nalurinya masih bisa berpikir dengan jernih.
__ADS_1
Bagaimana mungkin seorang pria normal bisa bersikap biasa saja saat melihat wanita yang hampir telanjang.
Ada rasa takut dalam benak Ailin.
Semakin jauh Ailin melangkah, Akal sehatnya perlahan terkikis. "Heh kenapa kau berpakaian seperti itu?, ada apa denganmu?" seru Leon, pria itu berjalan setengah berlari kearah Ailin yang sudah kelimpungan.
Perlahan Ailin oleng dari posisinya, beruntung Leon mampu menahan tubuh gadis itu hingga Ailin jatuh dalam pelukan-nya.
"Kau kenapa?, apa kau mabuk?" Tanya Leon sambil menepuk pelan pipi gadis dalam pelukan-nya.
"Burung menari di kepalaku sayang" Racau gadis itu, Ailin benar-benar mabuk berat hingga tak tahu apa yang ia bicarakan.
"Astaga, apa kau minum minuman yang ada di bar mini ku, asal kau tahu ya, semua minuman disana mengandung 90% alkohol, pemula sepertimu tidak akan tahan walau hanya sete..." Gerutu pria tampan itu terhenti saat mulutnya dibungkam bibir manis Ailin.
Leon membulatkan matanya seketika, apa yang gadis ini lakukan?, Leon mencoba melepaskan tautan bibir mereka, namun Ailin semakin menekan tengkuknya agar tautan itu lebih dalam.
__ADS_1
"Bibirmu manis daddy" gadis kecil itu semakin menggila.
Orang waras saja akan tak sadarkan diri, apalagi kalau gadis gila seperti Ailin, mungkin dia akan sekarat. Leon berdecak kesal dalam hatinya. Sekarang dia dihadapkan pada gadis gila yang semakin gila.