
Keesokan harinya.
Sikap Leon yang seperti tak suka dengan wanita bernama Jemitha masih membuat Ailin penasaran setengah mati, mana mungkin tak suka tapi bisa tidur bersama?, bahkan dalam keadaan telanjang.
Hal itu cukup membuat tensi darah Ailin naik, sampai tidurpun tak nyenyak, mandi terasa tak basah, makan sebakulpun belum terasa kenyang.
Siapasih wanita bernama Jemitha itu?. Apa orang itu punya posisi penting dalam kehidupan Leon?.
Selesai memasak untuk bekal Leon dan sang putra, Ailin bergegas naik kelantai atas untuk melihat keadaan Zico. Walaupun belum sepenuhnya sembuh, tapi bocah itu terus memaksa ingin pergi ke paud.
Mungkin rindu dengan guru dan teman-teman-nya.
Ailin sebagai orang tua hanya bisa meng-iyakan, kalau Zico janji tak nakal dan menghabiskan seluruh bekalnya, dengan senang hati gadis itu akan melepas sang putra untuk pergi.
Sesampainya dikamar Zico, nampak sang puta sudah siap dengan seragamnya. Begitupun sang baby sister yang juga nampak sudah rapih untuk mengantar tuan mudanya pergi ke paud.
"Mommy gak bisa anterin Zico ke paud hari ini, jadi Zico berdua sama mbak Sinta aja ya, nanti pas pulang mommy janji bakalan jemput Zico."
"Ok mommy." sahut Zico kemudian lari kelantai bawah untuk sarapan.
"Mbak, larang Zico kalau panas-panasan sama main air, pastiin bekelnya juga diabisin." pesan Ailin untuk sang baby sister.
Kalau bicara dengan gaya seperti itu, Ailin sudah layak diberikan acungan 10 jempol. Lulus seleksi menjadi nyonya rumah paling baik dan perhatian.
__ADS_1
Setelah itu, Ailin beralih masuk kedalam kamarnya, nampak Leon sedang menyisir rambutnya. Melihat hal itu, sebuah ide jahil melintas dikepala Ailin.
Perlahan gadis itu mendekat kearah Leon sambil berjingkik, mencoba membodohi Leon seakan-akan tak ada orang disekitar pria itu.
"Ada apa?." tiba-tiba suara sedingin salju berhasil membuat Ailin merinding.
Gadis yang sudah bersiap untuk melompat itu segera mengurungkan niatnya. Leon terlalu peka untuk dijahili.
"Tidak ada apa-apa." sahut Ailin santai, seolah-olah hal tadi tak pernah terjadi.
Seperti biasa, setelah selesai menyisir rambut, Leon membalikan tubuhnya kehadapan Ailin, Ailin yang sudah cukup lama menjadi istri Leon paham dengan gelagat sang suami.
Dengan pasrah gadis itu mengambil dasi yang disimpan diatas ranjang kemudian mengikatkan-nya pada leher leon.
"Yang benar saja, kau ini sedang mengikat dasi atau mengikat lemper?, ini terasa mencekik." protes Leon sambil menarik ujung dasinya.
Mendengar sahutan sang istri, Leon sedikit menyunggingkan bibirnya. "Apa kau cemburu?." goda pria itu sambil melayangkan sentuhan manja pada pinggang sang istri.
"Tak mungkin, aku tak mungkin cemburu pada gitar spanyol yang sudah tak perawan." sahut Ailin sekenanya.
Leon menggelengkan kepalanya sambil masih tersenyum. Tak terasa, tangan-nya meringan lalu menjatuhkan sebuah jitakan pada kepala sang istri, membuat Ailin meringis menahan sakit.
Cukup lama berkutat dengan dasi yang tak ada ujungnya. Ailin akhirnya menyelesaikan rutinitas paginya sebagai istri.
__ADS_1
Gadis itu kemudian membuka handuk yang melilit di kepalanya lalu melemparnya keatas ranjang. "Kenapa masih disini?, cepat pergi, aku juga harus membereskan rambutku." ucap Ailin sambil mendorong pelan tubuh Leon agar menjauh.
Namun Leon sama sekali tak bergerak. "Kau melupakan sesuatu." ucap pria itu.
Ailin mengerutkan keningnya bingung, apa yang terlewat?, bukan kah bentuk segi tiga didasinya sudah sempurna?.
"Apa yang aku lupakan?." tanya Ailin penasaran.
Leon mengangkat tangan Ailin kemudian menyimpan-nya dirahang tegak milik Leon. Mendapatkan perlakuan seperti itu belum seratus persen membat Ailin paham.
"Apa aku harus mencukur janggutmu?."
Mendengar sahutan polos sang istri, leon menepuk dahinya prustasi, kenapa istrinya sangat bodoh.
Bukankah pepatah bilang jodoh itu bagaikan cermin?, tapi kenapa hal itu tak berlaku pada Ailin?, kalau Leon pintar, kenapa Ailin tidak?.
"Cium aku."
Mendengar sahutan Leon membuat Ailin membelalakan matanya. "Cium?, aku saja tak pernah mencium ayah, kenapa juga aku harus menciumu." sahut Ailin tak terima.
"Karna aku suamimu." ucap Leon sambil menjatuhkan sebuah kecupan pada dahi sang istri.
Ailin membuka matanya seketika. "Beraninya kau." seru gadis itu sambil memukul Leon yang berjalan menjauh.
__ADS_1
Setelah Leon keluar dari kamar, Ailin terus saja mengusap dahinya kasar sambil berucap sumpah serapah untuk sang suami. Walaupun terasa menjengkelkan, tapi hati Ailin tersenyum jika mengingat hal yang baru saja terjadi.
Tak disangka, batu prasasti juga bisa romantis.