Cinta Satu Malam CEO Tampan

Cinta Satu Malam CEO Tampan
menikah?


__ADS_3

Kini langit cerah nampak mulai meredup, sayup-sayup dingin-nya malam mulai menyapa saat senja mulai terkikis.


Langit itu kini berwarna jingga, menandakan malam panjang akan segera tiba.


Hanya sepi yang menemani, tak ada kicawan burung yang selalu dirindukan setiap hari. Sama seperti sepinya mobil hitam yang melaju sedang di jalanan mulus beraspal itu.


Hening tak bersuara. Gadis kecil yang selalu berisik itu kini tertidur lelap di bahu Leon, entah mengapa, tapi baru beberapa menit Ailin duduk di dalam mobil, gadis itu sudah mulai terlelap dan menyentuh mimpi-mimpi indah.


Begitu juga dengan Zico, bocah kecil itu seratus persen mirip sang ibu. Keduanya paling suka tidur. Apalagi gaya tidur ibu dan anak itu sama persis. Keduanya tidur dengan mata sedikit terbuka, serta mendengkur halus yang terdengar sangat lembut.


Hanya ada keheningan di sana, tak ada yang berani bersuara. Takut menggau Ailin dan Zico yang tengah terlelap.


"Sudah ku duga, anak kecil ini adalah putraku" Tutur Leon membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Iya, beruntung kemarin kau segera mengambil tindakan untuk tes DNA. Diam-diam kita mengambil rambutnya saat bocah itu tertidur lelap. Tapi aku yang dirugikan, semalaman aku di rumah sakit untuk menunggu hasil tesnya yang kau minta secepat mungkin" Adu Liam yang merasa dirugikan.


Leon tak menjawab, hanya menggumam kecil untuk menyahuti ocehan adik manjanya itu.


"Aku beruntung karna Ailinlah wanita lima tahun itu, gadis baik yang mau mengasuh putraku sampai Zico setampan ini" Leon menyibak anak rambut yang menutupi wajah cantik Ailin, mengelusnya lembut sampai Ailin terusik dari mimpi indahnya.


Dengan segera Leon menarik tangan-nya lalu mengalihkan-nya pada Zico yang masih tertidur dipangkuan-nya.


Hampir saja ketahuan. Gumam Leon dalam hati.


"Perjalanan masih panjang, kau tidur lagi saja" Liam menyahuti Ailin sambil tangan-nya mengasongkan bungkusan makanan karna tadi Ailin belum sempat makan.


"Aku turun disini saja, nanti aku naik angkutan umum untuk sampai kerumah ibu" Tutur Ailin sambil meraih tubuh mungil Zico dari pangkuan ayahnya.

__ADS_1


"Kenapa harus pulang kerumah orang tua kalo kita sudah punya rumah sendiri?" Tegas Leon membuat Ailin tersentak.


"m... maksudnya?"


"Kita akan pulang kerumah kita, dalam waktu dekat ini kita akan menikah, aku juga sudah mengundang orang tuamu untuk datang dan menyaksikan putrinya bahagia" Sahut Leon memperjelas.


Ailin membeku tak bersuara. Menikah???, apa semudah itukah memulai sebuah hubungan pernikahan?.


Lama hanya ada keheningan disana, Ailin masih enggan membuka suara karna terlalu kaget saat mengetahui akta pernikahan-nya sudah ada ditangan Leon.


Dari mana pria itu tahu tentang identitasku. Dan kenapa akta pernikahan-nya sudah tiba padahal mereka belum menikah?. Banyak sekali dugaan dalam benak Ailin.


Siap menjadi ibu belum tentu siap untuk punya suami. Ya begitulah yang dirasakan Ailin. Mengurusi Zico tidaklah sulit namun bagaimana caranya mengurusi Leon yang serba ribet.

__ADS_1


Mengingat Leon adalah seorang pengusaha sukses. Apakah Ailin bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan royal Leon yang penuh dengan bisnis dan persaingan.


Mungkin hanya waktu yang mampu menjawab. Ailin kini hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi pada dirinya. Ailin terlalu takut kalau benih Leon semalam tumbuh lagi. Kini dia tak siap kalau harus hamil dalam keadaan masih lajang tak bersuami.


__ADS_2