
Ailin mulai mengerjap-ngerjapkan matanya saat sebuah cahaya menusuk netranya. Matahari nampak sudah mulai meninggi menandakan hari yang baru sudah dimulai.
"Aduh kepalaku pusing" gadis kecil itu mengeluh sambil memegangi kepalanya yang pusing dan berdenyut- denyut. Sekujur tubuhnya terasa sangat sakit.
Ailin benar-benar tidak sadar dengan apa yang baru saja menimpa dirinya. Namun pirasatnya mengatakan sesuatu itu adalah hal yang buruk.
Sebuah dengkuran halus terdengar begitu lembut dari arah sampingnya, Ailin mengalihkan pandangan-nya pada si pemilik dengkuran.
Ailin menyusuri wajah tampan itu. "Zico jadi jauh lebih tampan" gumamnya saat melihat sesuatu yang berbeda dari wajah itu. Namun sebuah bulu halus di rahang pria itu berhasil membuat Ailin kaget bukan kepalang.
"Argh...." Pekiknya sambil menjauh dari pria yang tadi ia pandang. Mana mungkin Zico yang usianya baru empat tahun sudah mempunyai bulu halus dirahangnya.
Ailin kembali menatap sekeliling. "Argh...." wanita itu kembali berteriak saat menyadari tubuhnya tak tertutup apa-apa. Dengan cekatan Ailin menarik selimut yang masih menutupi tubuh Leon.
Gadis itu kembali membulatkan matanya saat melihat tubuh telanjang pria yang ada disana. "Argh.... apa yang kau lakukan?" jeritan Ailin berhasil membuat Leon terbangun.
"Shut... apa kau ingin membuat Zico bangun karna teriakanmu?" Leon segera membungkam mulut Ailin agar berhenti berteriak seperti orang gila.
__ADS_1
"Lalu... lalu apa yang kau lakukan padaku?" Tanya Ailin dengan terbata.
Leon melepaskan bekaman-nya dari bibir Ailin. "Tunggu sebentar lagi, aku masih ngantuk" ujarnya sambil kembali berbaring tampa memperdulikan tubuh polosnya yang masih terbuka.
"Tidak, aku ingin penjelasan mu sekarang juga" Ailin kembali berteriak tak karuan.
Leon menghembuskan nafas pasrah, baru beberapa menit lalu ia terpejam, namun Ailin membuat istirahatnya itu terganggu. Leon bangkit dari posisi tidurnya, menatap Ailin dengan jengkel. "Apa yang harus aku jelaskan?, semalam kau mabuk lalu membuatku menjadi pelampiasanmu, apa aku harus menjelaskan bagaimana gayamu menggodaku semalam hah?" ujar Leon dengan nada yang naik satu oktap melebihi Ailin.
"Tidak ini tak mungkin." sahut Ailin masih belum terima, ini semua pasti cuman mimpi, ini cuman mimpi.
"Mungkin saja, aku punya banyak bukti nona, wine mahal kesayanganku sudah kau minum, apa aku harus bawa buktinya kemari?."
"Aku tahu aku yang salah, tapi seharusnya kau tidak melakukan itu" Sahut Ailin dengan nada menyentak.
"Semalam aku sudah berusaha menyadarkanmu, tapi aku ini pria normal nona, walaupun aku menolak, tapi tubuhku yang ingin. Apalagi saat ******* penuh kenikmatan keluar dari bibirmu, aku sudah tidak berdaya" Tutur Leon dengan mimik memprihatinkan.
Ailin sudah tak mampu berucap, pria batu saja bisa luluh lantah karna kelakuan-nya. Pasti Ailin sudah melakukan sesuatu yang patal.
__ADS_1
"Aku akan ke kamar mandi" Ucap gadis itu sambil turun dari atas ranjang, namun baru beberapa langkah kakinya berjalan, Ailin seketika merasakan rasa sakit yang sama seperti lima tahun lalu.
Gadis itu terjatuh karna kakinya sudah lemas tak mampu berjalan lagi.
"Kau butuh bantuan?" Tanya Leon, pria itu berjalan mendekat kearah Ailin yang duduk tak berdaya diatas lantai.
"Tidak... tidak, aku bisa sendiri, awas kalau kau berani menyentuhku" tolak Ailin, gadis itu betul-betul keras kepala, Ailin tak ingin dipandang seperti wanita lemah yang hanya mampu merengek bila punya sebuah rasa sakit.
Walaupun tubuhnya benar-benar lemas, tapi gadis itu berusaha tetap tegar. Karna tak mampu berjalan, Ailin berusaha menggapai kamar mandi dengan merangkak layaknya seorang bayi.
Leon berdecwk sebal saat melihat tingkah Arogan gadis itu.
Dengan sekali angkat Leon membopong tubuh mungil Ailin. Gadis kecil itu tak mampu mengelak ataupun menolak. Ailin hanya bisa pasrah, tubuhnya benar-benar lemas dan tak mampu menghindar.
"Kau mandilah, aku akan mengambilkan pakaianmu dulu, jangan berani-berani keluar sendiri, tunggu aku" Tegas Leon sambil menurunkan tubuh sintal Ailin.
Mendapatkan perhatian dari orang yang baru di kenalinya kemarin tentu membuat Ailin meleleh seperti es krim yang dibakar.
__ADS_1
Dia rasa hatinya sudah jatuh pada si pria batu yang ia benci.