Cinta Satu Malam CEO Tampan

Cinta Satu Malam CEO Tampan
masih tentang Jemitha


__ADS_3

Setelah ayah dan anak itu pergi, Ailin merasa jadi gadis lajang lagi, tanpa memikirkan kalau ia sudah punya seorang putra dan juga suami.


Semenjak tinggal dirumah Leon sebagai istrinya, Ailin tak lagi harus memikirkan bagaimana keadaan Zico, otaknya selalu memutar laguan menenangkan. Tenang, Zico punya baby sister.


Berbeda dari saat ia menjadi orang tua tunggal dulu, makan harus sambil gendong anak, kerja sambil gendong anak, bahkan dalam beberapa kesempatan Ailin harus mandi dan buang air ditemani putranya.


Mengingat kehidupan menyedihkan-nya dulu cukup membuat Ailin tertawa geli sambil menangis miris, dulu ia sempat berpikir apa mental Zico baik-baik saja saat duduk diatas toilet duduk sambil memperhatikan-nya yang sedang mandi.


Ya sudahlah, namanya juga masalalu, masalalu biarlah berlalu, kalau masalalu yang tak berlalu itumah masalahlu.


Kini Ailin tengah berbaring sambil menonton sinetron kesukaan-nya ditelevisi, persis seperti ibu-ibu pada umunya, Ailin juga suka mengomentari setiap adegan dalam sinetron.


Waktu diluar negri dulu, Ailin tak begitu suka dengan yang namanya sinetron. Selain karna tak banyak sinetron disiaran televisi luar negri, Ailin juga menghindari sinetron kara sering kali membuatnya darah tinggi. Namun entah mengapa, setelah ia kembali ketanah air, tayangan pavoritnya adalah tayangan yang sangat ia benci dulu.


Mungkin virus warga +62 mulai menjalar keseluruh tubuhnya, sampai-sampai membuatnya menyukai film yang ia benci dulu.

__ADS_1


"Lagu lama nih, mau ketabrak bisa sambil nyuci dulu." ucapnya ngingir saat mendapati adegan tabrakan yang durasinya sangat panjang.


Namanya juga sinetron, mobil jaraknya satu kilo lagi si pemeran yang mau ketabrak malah udah teriak duluan, pita suara keburu putus kalau teriaknya kelamaan begitu.


Saat sedang seru-serunya menonton, terdengar ketukan dari arah pintu. Gadis itu segera bangkit dari atas ranjang kemudian mendekat kearah pintu.


Pintu kamar ia buka pelan, saat pintu sudah terbuka dengan sempurna, nampak sosok pria tampan berdiri diambang pintu. "Ada perlu apa kesini?." tanya Ailin pada adik iparnya.


"Kak Leon nyuruh kamu buat anterin berkas ke kantor, yang map nya warna hijau." sahut Liam lesu, entah ada masalah apa, tapi hari ini Liam nampak berbeda.


Liam hanya menggeleng tanda tak tahu. "Jangan lupa anterin ke kantor sebelum jam makan siang." ucap Liam memberi peringatan. Pria itu kemudian berjalan pergi meninggalkan Ailin yang masih terpaku didepan pintu.


"Liam tunggu!." seru Ailin saat mengingat sesuatu.


Liam yang sudah berjalan cukup jauhpun berbalik, kemudian berjalan mendekat kearah sang kakak ipar yang masih berdiri ditempat yang sama.

__ADS_1


"Apa?." tanya Liam saat dirinya berada tepat didepan Ailin.


Ailin nampak berpikir sejenak, bagaimana ya cara menanyakan-nya?, "Emmm, kau tahu sesuatu tentang wanita bernama Jemitha?." tanya wanita ragu.


Malu... rasa itu yang mungkin dirasakan Ailin sekarang, rasa gengsi yang selama ini Ailin jungjung tinggi kini rubuh hanya karna menanyakan identitas wanita yang pernah tidur seranjang dengan suaminya.


Liam nampak berpikir, dari wajahnya, nampak sebuah gurat gelisah. "Aku tak tahu, siapa itu Jemitha?." sahut Liam membalikan pertanyaan.


Ailin hanya menggumam, dari raut wajahnya saja sudah terlihat jelas, Liam mencoba menyembunyikan sesuatu. Namun karna suasana hati pria itu sedang kurang baik, Ailin tak ingin memaksa Liam untuk mengungkapkan siapa Jemitha.


Biarlah waktu yang menjawabnya. Lambat laun identitas wanita bernama Jemitha itu pasti terungkap.


"Yasudah, terima kasih." ucap Ailin.


"Memangnya ada perlu apa dengan wanita bernama Jemitha?." tanya Liam sebelum Ailin masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


Mendapatkan pertanyaan itu, Ailin menggeleng cepat. "Tak ada apa-apa, aku akan segera mandi lalu mengantarkan berkasnya ke kantor." ucap Ailin kemudian masuk kedalam kamar lalu menutup pintu nya lagi.


__ADS_2