
Sorot mata Ailin menatap wajah putranya lekat, Melihat sudut demi sudut wajah tampan Zico yang nampak semakin melemas.
Apakah dia harus menuruti kemauan putranya?, Ailin paham dengan perasaan Zico saat ini, bahagia bersama keluarga yang lengkap. Tentu putra kecilnya baru pertama kali merasakan sayang dan cinta sosok seorang ayah.
Apakah Ailin tega mengusik sedikit kebahagiaaan Zico?.
"Mommy... cepatlah, daaddy sudah menunggu" Rengek Zico keberapa kalinya.
Dengan lesu Ailin akhirnya mengangguki permintaan sang putra. "Yey... mommy, Dizo dan daddy akan mandi belsama" Seru bocah kecil itu gembira.
"Ayo mommy kita ke daddy" Ajak Zico, tangan kecil bocah itu memegang lengan Ailin erat, menariknya pelan kearah Leon.
Ailin menarik nafas panjang sebelum mengikuti langkah sang putra. 'Mimpi apa aku semalam' gumam Ailin dalam hati.
Ailin terus berjalan kearah Leon, matanya tak henti memperhatikan setiap sudut dari wajah dingin sang suami. 'Syukurlah dia pakai celana' Batin-nya bernafas lega.
Bisa dibayangkan bila Leon tidak memakai helaian kain itu, mungkin Ailin akan panas dingin tak mampu berpikir.
Zico masuk terlebih dahulu kedalam bathrub, "Daddy... bantu mommy buka bajunya" Titah bocah pecil itu pada sang ayah.
__ADS_1
Ailin terbelalak, "Tidak perlu sayang, mommy kedinginan jadi mommy akan pakai baju saat mandi" Tukas Ailin dengan sedikit terbata.
Leon yang hanya memperhatikan drama ibu dan anak itu hanya bisa tersenyum kecil sambil sedikit menggoyangkan kepalanya.
Putranya begitu pintar, tak perlu ambil pusing memberi kode-kode untuk proyek membuat bayi. Bila bersama Zico, semua masalah beres.
Ailin perlahan masuk kedalam bathtub lalu duduk tepat didepan Leon. "Yey... mandi belsama mommy dan daady sangat menyenangkan, Dico ingin mandi belsama setiap hali" Oceh bocah itu.
Zico tak hentinya tersenyum dan tertawa, kebahagiaan bocah itu terlukis jelas diwajah tampan-nya.
Sebagai orang tua, Leon dan Ailin merasa bahagia bila sang putra bahagia.
"Kalau begitu, Dico akan gosok punggung mommy" Timpal Zico dengan cengiran khasnya.
"Ti... tidak perlu, mommy akan gosok punggung daddymu saja" Tolak Ailin dengan lembut. Bila Zico menggosok punggungnya, otomatis Ailin harus menanggalkan jubah mandi yang masih melekat ditubuhnya. Di situasi keritis seperti ini, membuka baju sama seperti bunuh diri.
Tak ingin mengulur waktu terlalu lama, Ailin segera bangkit dan beralih duduk diujung bathtub tepat dibelakang Leon.
Perlahan tangan-nya mengusap punggug Leon lembut, jantungnya berdegup dengan sangat kencang, rasanya seperti tersengat listrik aliran rendah.
__ADS_1
Tubuh Ailin terasa terbakar hebat. Pipinya memanas dan mulai memerah. 'otot yang sangat indah' batin Ailin. Sesekali gadis itu menelan ludahnya kasar.
godaan apa ini...
***
Hampir satu jam keluarga kecil itu berendam dan mandi bersama.
Tubuh Ailin menggigil hebat, kulitnya nampak memucat karna terlalu lama berendam.
Kini ketiga orang itu sedang ada diatas ranjang, menggulung tubuh mereka dengan selimut tebal untuk menghangatkan tubuh yang hampir membeku.
"Sudah mommy bilang, seharusnya kita sudahi mandi bersamanya sebelum kedinginan. Ini akibatnya karna tak mendengarkan perkataan mommy" Ailin tak hentinya mengoceh, walaupun suaranya gemetar, tapi dia masih saja kuat mengomeli Zico.
"Jangan berisik, Lebih baik kita berjemur agar tak kedinginan" Sahut Leon.
"Ih... gak mau ah, dingin banget, aku gak kuat jalan" Timpal Ailin.
Zico yang berada ditengah tak mempedulikan sedikitpun perdebatan orang tuanya, bocah kecil itu terlalu bahagia. Walaupun tubuhnya kedinginan tapi hatinya merasa hangat.
__ADS_1