Cinta Satu Malam CEO Tampan

Cinta Satu Malam CEO Tampan
super mama


__ADS_3

Dalam perjalanan itu hanya ada keheningan. Leon masih sibuk dengan ponsel ditangan-nya. Dan bocah kecil dipangkuan-nya sibuk dengan pensil dan buku gambarnya.


Liam yang tidak mendapatkan suara dari belakangnya segera menoleh kearah Leon. Dilihatnya Zico masih sibuk menggambar. "Wah gambarnya bagus sekali" Puji Liam.


Leon yang tadinya sibuk dengan ponsel seketika beralih memperhatikan Zico. Dilihatnya gambar yang Zico buat sudah rampung selesai.Mata elang Leon menatap lekat gambar tersebut.


"Apa kamu menggambar super hero?" Tanya Leon lembut. Bocah digendongan-nya segera menangguk-angguk semangat. "Ini cupel mama" Sahut Zico dengan senyum penuh kepuasan.


Leon mengernyitkan dahinya heran. Diliriknya wanita yang masih tertidur lelap dipundaknya. "Wanita gila sepertinya disebut super hero?," Batin-nya masih terheran.


"Wah hebat, bagus banget gambarnya" tutur Liam sambil mengelus pelan kepala Zico.


Zico kembali tersenyum. Begitulah anak-anak, hidupnya sangat indah, tak ada beban sedikit pun dalam hidupnya, hati dan pikiran-nya masih bisa terbang bebas tampa pengikat. Padahal bila melihat gambar Zico sekilas, rasanya gambar itu tak jauh dari sebuah coretan yang disatu-satukan. Tapi walaupun begitu, usahanya patut mendapatkan apresiasi tinggi.

__ADS_1


"Kenapa kamu menggambar mamamu sebagai super hero?" Tanya Liam, sepertinya pria tampan itu juga punya banyak pertanyaan dibenaknya tentang Ailin yang tak jelas asal usulnya.


"Kalena, mama itu olang paling hebat, dia kelja siang malam untuk Dico" Bocah kecil itu mulai bercerita. hatinya senang, hatinya puas karna bisa mendapatkan ibu seperti Ailin.


Setelah ucapan Zico, suasana mobil itu kembali hening tak bersuara. Pikiran dua pria tampan itu masih menerawang. Bagaimana mungkin Ailin bisa sehebat itu, padahal bila dilihat dari sikapnya, Ailin hanyalah wanita biasa?.


Kita tak bisa menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya. Kita sering kali berpikir seseorang yang kita lihat alim adalah orang yang baik. namun mata sering kali terbohongi penampilan tak selalu menjadi cerminan hati. bisa saja didalam hati orang itu ada sikap yang buruk.


Begitu juga dengan Ailin. Gadis itu masih punya banyak teka teki yang harus dipecahkan.


"Kalna Dico dak puna ayah" Sahut bocah kecil itu dengan lirih.


Leon seketika terdiam. Entah mengapa saat mendengarkan ucapan Zico hatinya sedikit sakit. Padahal selama ini dia tak pernah sesensitif itu.

__ADS_1


Begitu besar pengorbanan yang telah Ailin perbuat untuk Zico, membesarkan seorang anak sendirian itu tidaklah mudah.


Cukup lama dalam mobil itu hanya ada keheningan. Leon masih saja melamun panjang sambil menatap wajah bocah kecil yang ada dipangkuan-nya.


"Didepan ada hotel, apa kita akan menurunkan wanita alien ini disana?" tanya Liam.


"Tidak, kita langsung ke Jakarta saja" sahut Leon, tangan-nya masih setia mengusap kepala Zico lembut. Rasanya ada sebuah ikatan yang mengikat Leon dan Zico.


"Kita mampir ke mansion saja, kasihan anak ini, pasti diakelelahan" Lanjut Leon. Orang yang awalnya bersikap dingin itu kini menjadi orang paling hangat untuk Zico. Ya walaupun wajahnya masih tetap tak berekspresi.


"Liam, kenapa aku merasa kalau anak ini sangat dekat dengan hatiku?" Tanya Leon.


Liam hanya terdiam, pria tampan itu sepertinya juga punya pirasat yang sama tentang perubahan sikap Leon. "Kalau dilihat-lihat wajah Zico mirip sekali denganmu kak" Tutur Liam dengan yakin.

__ADS_1


Leon kembali menatap wajah tampan Zico, memang benar, bocah kecil itu punya mata dan bibir yang sama persis dengan miliknya.


Kalau menurut pepatah 'bagai pinang dibelah dua. Wajah Leon dan Zico tak banyak yang berbeda.


__ADS_2