
Rasanya sudah hampir satu jam Ailin menunggu Leon di kamar mandi, namun pria yang tadi menjanjikan sebuah gendongan tak juga muncul ke permukaan.
Sambil menggerutu, Ailin berjalan keluar dari kamar mandi. Rasanya masih sama, perih dan sedikit sakit. "Pria berengsek, beraninya dia tidak bertanggung jawab setelah membuatku begini" Oceh Ailin tak karuan.
Gadis itu seketika diam saat melihat gaun merah jambu yang sudah disiapkan untuknya, lengkap dengan dalaman wanita dengan warna senada.
Wajah cantiknya bersemu, rasanya sedikit malu jika membayangkan seorang pria menyiapkan dalaman untuk wanita. "Apa batu prasasti itu yang menyiapkan-nya?, tak di sangka es balok juga pandai pilih pakaian" Tutur Ailin sambil tersenyum senang.
Tak bisa di bayangkan harga gaun itu, Ailin sangat-sangat bahagia, ini kali pertamanya mengenakan gaun indah dan mewah.
"Kalau di jual kira-kira harganya berapa ya?" Gumam Ailin saat gaun indah itu melekat di tubuh indahnya.
Masih senag memperhatikan tubuhnya di depan cermin, Ailin di kagetkan oleh teriakan Zico yang berhasil merusak kesenangan Ailin.
"Mommy..." Seru bocah kecil itu lalu memeluk kaki Ailin erat.
"Eh sayangnya mama udah bangun, gimana tidurnya nyenyak?" Tanya Ailin sambil berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Zico.
Bocah itu mengangguk semangat, "Cenapa tadi malam gak bobok sama Dico?, Dico cari mommy tapi mommy tetep gak ada untung ada paman baik yang nemenin Dico" Ujar Zico dengan wajah polosnya.
__ADS_1
Ailin hanya mampu terdiam. Paman baik itu pasti Liam, karna semalam Leon ada bersamanya. Ailin tersenyum canggung, ya ampun bagaimana cara mengelabui anak pintar ini?, batin Ailin sangat gugup. Dia tahu betul sikap Zico, bocah itu pasti akan mengintrogasinya sampai ada sebuah titik terang. "Semalam mama kejar tikus, takut tikusnya ganggu tidur Zico" Elak Ailin sambil mengelus kepala Leon lembut.
"oh..., tikusnya gigit mommy ya?, leher mommy melah-melah" Celoteh Zico sambil menunjuk cap bibir yang menghiasi leher Ailin, sebuat maha karya indah buatan Leon si batu prasasti.
"emmm..." Ailin menggumam kecil lalu memegangi lehernya yang di tunjuk Zico. Sudah ku duga, anak itu pasti akan bertanya se detail-detailnya. "emmm... kenapa sekarang Zico panggil mama 'mommy'?" tanya Ailin mengalihkan pembicaraan.
"Di suluh daddy?" Ujar bocah itu.
Daddy?
siapa?
Zico nampak memutar bola matanya menyisir seisi ruangan. "Itu daddy" Serunya sambil menunjuk pria yang baru masuk kedalam kamar. Ailin mengikuti arah tunjukan sang putra. Dasar pria batu!!!, gerutunya dalam hati saat melihat siapa yang di tujuk Zico.
"Zico main sama paman dulu yuk, daddy sama mommy mau ngomong berdua" Ujar Liam sambil melambaikan tangan-nya mengajak Zico agar mau ikut ke luar dengan-nya.
Bocah kecil itu berlari menghampiri Liam lalu keluar dari kamar itu.
Kini tinggal Ailin dan Leon yang ada di dalam kamar, keduanya hanya saling diam, Ailin masih menatap nanar pria yang ada di depan-nya.
__ADS_1
"Kau..., beraninya kau mengatur aku dan putraku" Seru Ailin sambil mengacungkan sebelah telunjuknya ke arah wajah Leon.
"Bukan hanya putramu, namun juga putraku" Sahut Leon dengan nada dingin-nya.
Ailin berdecak kesal, "Dia putraku dan hanya miliku" Tukas Ailin dengan penuh penekanan.
Leon nampak tertawa kecil di balik wajah dingin-nya. Lalu tampa banyak basa basi Leon mengasongkan selembar surat pada Ailin.
Ailin menerimanya dengan kasar, "Hasil tes DNA?" gumamnya saat melihat isi dari surat tersebut. Ailin membacanya sampai akhir "Ini gak mungkin" Tuturnya dengan penuh rasa ke tidak percayaan.
Bagaimana bisa Leon dan Zico seratus persen sama. Ailin masih tak mampu mempercayai kebenaran yang sudah ada di tangan-nya.
"Dari kemarin saya sudah punya pirasat kalau Zico adalah darah daging saya, dan semua di perjelas dengan ucapanmu saat mabuk tadi malam" Tutur Leon masih dengan dingin-nya.
Ailin merutuki kebodohan-nya dalam hati, apa yang telah mereka bicarakan semalam?, Ailin benar-benar tidak ingat dengan kebodohan yang telah di perbuatnya. "Emm... namanya juga orang mabuk ya omongan-nya gak bisa di percaya" Elaknya menangkal semua bukti.
Leon berdecak. "Apa itu gak salah, padahal kebanyakan orang bicara jujur pas mabuk" Sahut Leon.
Ailin semakin gugup, salah lagi.
__ADS_1