Cinta Satu Malam CEO Tampan

Cinta Satu Malam CEO Tampan
miskin


__ADS_3

Dalam keadaan terpuruk dan dikucilkan, Ailin terus melanjutkan langkahnya menyusul Leon yang sedari tadi sudah hilang dari pandangan. Walaupun orang-orang disekitarnya terus saja menghujat tak berkesudahan, namun Ailin mencoba untuk menjadi tuli.


Setelah cukup lama berputar-putar mencari ruangan Leon, akhirnya gadis itu menemukan ruang kerja sang suami. Berada tepat diantara ruangan sekertaris dan manager.


Ailin mengetuk pintu itu beberapa kali, setelah mendapatkan sahutan dan dipersilahkan masuk, gadis itu perlahan memasuki ruangan.


Ruang kerja yang sengaja di disain ala-ala klasik moderen, purnitur kayu berukiran indah tertata rapih disetiap penjuru ruangan, dengan warna coklat memikat, ruangan Leon nampak lebih kasual namun tetap menimbulkan kesan serius.


"Dari mana saja kau?." suara itu datang dari pria tampan yang kini sedang duduk diatas meja kerja nya. Dengan mata elangnya, Leon memperhatikan Ailin dengan seksama.


"Aku habis menyapa para pegawaimu, mereka sangat ramah bahkan membuatkan kata-kata sambutan selamat datang untukku." sahut Ailin sambil menyunggingkan bibirnya.


Leon memutar bola matanya jengkel, jelas-jelas pria itu memperhatikan Ailin dari kejauhan saat Ailin di intimidasi oleh karyawan-nya sendiri, Ailin pembohong.


Ailin beralih duduk diatas kursi kayu yang berada di pojok ruangan. Untuk sekedar menghilangkan bosan, gadis itu nampak membuka beberapa majalah yang disimpan diatas meja.

__ADS_1


Tak lama, suara ketukan di pintu membuat perhatian dua insan yang ada dalam ruangan teralihkan. Alilin segera berdiri saat melihat dua orang wanita yang tadi ia ajak bicara masuk kedalam ruangan.


"Ada apa pak?, kenapa bapak memanggil kami berdua?." tanya salah seorang wanita.


Melihat dua wanita yang ada didepan-nya, pelan-pelan Leon bangun kemudian beralih menyender pada meja, lalu kedua tangan-nya ia tautkan didepan dada.


Seketika suasana dalam ruangan berubah angker. "Kalian tahu apa kesalahan kalian?." tanya Leon dengan suara dingin-nya.


Dua wanita yang ada didepan-nya hanya menggeleng, mereka bergantian menelan ludahnya sendiri.


Mendengar itu, Leon mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali, "Jangan coba-coba membodohiku." ucap nya mengintrogasi, pria itu berjalan berputar mengelilingi dua karyawan yang kini berdiri mematung sambil menundukan kepala mereka.


Kemudian jemarinya memencet sebuah remot, dalam hitungan detik, sebuah proyektor menyala, menampilkan video dimana Ailin di kelilingi banyak orang dan di intimidasi oleh dua propokator yang kini berada tepat di depan Leon.


"Apa itu pantas kalian lakukan pada klien?" tanya Leon.

__ADS_1


Ailin yang ada di pojok ruangan hanya bisa diam sambil memperhatikan adegan yang sedang terjadi.


"Tidak pak, kami tak mungkin melakukan hal seperti itu, klien bagaikan raja, sedangkan kami hanyalah budak." sahut salah seorang wanita dengan penuh percaya diri.


"Benarkah?, lalu kenapa kalian melakukan hal seperti itu pada klien penting kita." sahut Leon kurang puas dengan jawaban pegawainya.


Dua wanita yang ada didepan-nya kemudian saling menatap satu sama lain. "Pak, bukankah nyonya Ailin itu miskin?, jadi mana mungkin ia bisa menjadi investor perusahaan kita." ucap seorang wanita sambil tertawa mengejek.


Duar..., sebuah petir menyambar tepat pada sasaran. Miskin?, apa itu alasan mereka tadi merendahkanku seperti sampah?. Pikir Ailin sedikit kesal.


"Apa maksud kalian?, aku kira kalian membenciku karna iri aku bisa menjadi istri bos kalian, ternyata, kalian membenciku hanya karna aku ini miskin?." cerocos Ailin yang terlanjur tersulut emosi.


Gadis itu perlahan mendekat, kemudian berdiri tepat disamping Leon. "Iya, kau memang miskin." sahut Leon singkat padat dan tepat.


Duar..., petir kembali menyambar. Kini harga dirinya benar-benar jatuh dihadapan para karyawan Leon.

__ADS_1


Ailin menangis darah didalam hati. Bagaimana orang lain bisa menghargainya?, suaminya saja tak sedikitpun menghargai keberadaan-nya.


__ADS_2