
Ck!!!
Ailin berdecak sebal saat tidak mendapati satupun kendaraan melintas didepan-nya. Dari mulai taxi sampai ojek pun tak ada yang lewat.
Ailin nampak berbulak-balik didepan halte bis, bagaimana caranya ia bisa ke hotel?, daerah itu saja dia tidak tahu pasti. "Huh!!!, apa semuanya tak butuh uang, padahal aku bersedia bayar dua kali lipat kalaupun itu truk pengangkut pasir" cicit Ailin sebal.
Pandangan-nya beralih pada sang putra yang duduk sambil memainkan pensil dan buku gambarnya. "Sayang jangan sampai pensilnya hilang lagi ya, mamah sudah gak punya uang untuk membelinya lagi" Ailin beralasan. Ailin tak pernah kekurangan uang, selain kerja, Ailin juga masih dapat transperan dari sang ibu. Hanya saja Ailin ingin mendidik anaknya agar bisa lebih menghargai sesuatu.
Zico hanya mengangguk pelan.
Ailin kembali fokus menatap jalanan. Hari sudah semakin larut, kalau dia tak cepat menemukan tempat berlindung, mungkin malam ini Ailin dan Zico harus tidur dihalte bis.
Tak lama, sebuah bayang-bayang mobil nampak berjalan kearahnya. Wajah Ailin berseri. Sebagai seorang aktris yang dramatis, Ailin menjerit dipinggir jalan.
__ADS_1
"Tolong..., putraku sakit, berhenti pak, putraku sekarat" Cicit Ailin dengan mimik penuh penghayatan.
Dan benar saja, si pengendara tertipu lalu berhenti didekat Ailin. "Mampus!!!, kamu tertipu" gumam Ailin.
Tak lama seorang pria keluar dari bangku depan. "Ada masalah apa nona?" tanyanya heran sambil berjalan mendekat kearah Ailin.
Ailin segera memangku sang putra, lalu berlari tunggang langgang kearah jok belakang. "Pak tolong bantu saya, masukan koper dan tas itu kedalam mobil" Titah Ailin dengan angkuhnya.
"Tunggu nona, apa yang anda lakukan, cepat keluar dari dalam sana!!!" jangan sampai kakakku memarahimu lanjutnya dalam hati.
Sekejap suasana hening tak bersuara, Akhirnya aku bisa aman, Ailin nampak mendudukan putranya disebelah, namun sebuah deheman membuat Ailin terkaget.
"Ehem..." terdengar begitu keras hingga Ailin menatap siapa yang ada disampingnya.
__ADS_1
Seorang pria tampan bermata elang menatapnya dengan tajam. Sial!!!. "Keluar dari mobilku" titah pria itu dengan nada dingin dan jutek.
Ailin tak berkutip, dirinya masih terkesima saat melihat wajah tampan itu. "Apa kau tuli, sayang sekali padahal kau ini cantik" Timpal pria tampan itu dengan nada mengejek namun masih tetap dingin.
Ailin tersentak lalu kembali mendapatkan akal sehatnya. "Aku tidak tuli, hanya saja tolong antar aku ke sebuah hotel, kasihan putraku dia kelelahan" Sahut Ailin sambil mengusap lembutkepala Zico.
Pria tampan itu mengalihkan pandangan-nya pada Zico yang masih senang menggambar dibuku gambarnya. Entah mengapa hati beku pria itu meleleh saat melihat wajah tampan Zico.
"Baiklah, Liam, kamu turuti permintaan wanita gila ini" Titah Pria dingin itu.
"Apa kau yakin kak, mobilmu baru keluar dari deler, apa kita perlu menyeterilkan wanita gila ini terlebih dahulu agar tidak membuat mobilmu kotor?" Tanya Liam pada kakaknya untuk memastikan. Tak biasanya Leon berprilaku sebaik itu pada orang yang tidak dikenalinya. pasti ada udang dibalik bawan.
"Heh!!!, namamu Liam bukan?, camkan perkataanku baik-baik. Kau kira aku ini virus bakteri sampai harus disterilkan terlebih dulu?, sebaiknya kau cepat ambil barangku, jangan sampai aku memohon pada majikanmu untuk memecatmu sekarang juga" Cerocos Ailin meladeni perkataan pria yang baru ia kenal beberapa saat lalu.
__ADS_1
Liam hanya bisa bernafas pasrah lalu mulai menjalankan tugasnya. "Siapa wanita gila ini?, berani-beraninya dia mengancamku. Semoga saja kalau kak Leon menikah nanti, dia menikahi orang yang baik seperti bidadari" Liam membatin sebal.