Cinta Satu Malam CEO Tampan

Cinta Satu Malam CEO Tampan
masuk paud


__ADS_3

Tak terasa, hari ini genap satu minggu dua insan itu menjalin hubungan pernikahan. Tak banyak hal istimewa yang terjadi dalam waktu sesingkat itu, Ailin dan Leon lebih memilih saling diam. Apalagi Ailin, gadis itu memilih untuk sedikit menjauh dari kehidupan sang suami.


Toh mereka menikah karna Zico, jadi tak banyak alasan jika keduanya harus sering-sering bersama.


Pagi ini adalah hari pertama Zico masuk paud, melihat kepintaran bocah itu yang semakin hari semakin bertambah, membuat Leon memutuskan untuk memasukan-nya ke fasilitas pendidikan sejak dini. Setidaknya skill yang dimiliki sang putra bisa dikembangkan dengan baik.


"Mommy, apa kita sudah sampai?." tanya bocah kecil yang kini tengah duduk di jok belakang, tepat ditengah-tengah kedua orang tuanya.


Wajah tampan Zico nampak berseri-seri, paud pasti akan sangat menyenangkan, bertemu dengan teman-teman baru, dan bisa main sepuasnya sampai dijemput mommy pulang. Pikir bocah itu.


"Sebentar lagi, kita akan segera sampai." sahut Ailin sambil tersenyum.


Melihat betapa antusiasnya Zico masuk paud, membuat Ailin senang, walaupun usia bocah itu masih terbilang sangat muda untuk masuk paud, namun Ailin bisa bernafas lega karna putranya pintar dan mudah bergaul.


Tak berapa lama, kendaraan yang mereka naiki berhenti tepat di depan gerbang masuk paud ternama kota itu.


Ailin bergegas menyiapkan tas gendong Zico lalu memakaikan-nya dipunggung bocah itu. "Bekalnya sudah mommy masukan kedalam tas." ucapnya kemudian membukakan pintu untuk sang putra.


"Ok mommy, Dico masuk dulu ya." sahut bocah kecil itu sesaat setelah keluar dari dalam mobil. Dengan wajah berserinya, Zico masuk kedalam paud ditemani seorang babby sister yang ditugaskan untuk menjaganya.

__ADS_1


Setelah melakukan say good bay dengan sang putra, Ailin kembali menutup pintu.


Diliriknya Leon yang kini sedang sibuk berkutat dengan laptop dan berkas ditangan-nya. Leon nampak sangat serius membolak balikan lembaran berkas ditangan-nya seakan akan kertas-kertas itu akan gosong kalau tak dibalik.


"Sesibuk itukah sampai gak sempet liat anak pamitan?." ngingir Ailin dengan nada sedikit jengkel.


Seperti orang tuli, Leon tak menggubris ataupun menyahuti ucapan Ailin, pria itu masih senang membolak-balik berkas sambil sesekali menandai beberapa bagian menggunakan pensil.


"Maklumlah, hari ini kak Leon ada meating sama klien penting, omsetnya sampai miliaran, jadi berkaanya harus di cek ulang lagi dan lagi." Liam yang ada di jok pengemudi segera menyahuti ucapan sang kakak ipar.


Mendengar penjelasan dari Liam, Ailin hanya merespon-nya dengan anggukan kecil. Menandakan kalau ia paham akan situasi yang kini dihadapi Leon.


Mobil BMW hitam itu kembali melesat menyisir jalanan aspal, kali ini ketiga orang yang masih ada dalam mobil itu akan menuju kantor milik Leon.


Mengingat hari ini akan ada klien penting dari luar negri, Leon mengajak serta Ailin untuk ikut menyambut kedatangan para klien tersebut.


Ya walaupun Ailin tak banyak berpengaruh, tapi setidaknya Leon ingin menciptakan kesan kekeluargaan pada para investor yang akan menyuntikan dana bagi perusahaan-nya.


Ditengah-tengah perjalanan menuju kantor, Leon nampak menutup laltop dan berkas yang ada di atas pangkuan-nya.

__ADS_1


"Ingat, saat bertemu klien nanti, pakai bahasa Inggris yang baik dan benar." ucap Leon memperingati.


Ailin yang mendengarnya hanya terdiam sambil mencerna apa yang suaminya ucapkan barusan, dahinya mengernyit beberapa kali. "Tuan, aku tahu kalau aku ini orang bodoh, tapi jangan coba remehkan kemampuanku dengan ucapanmu yang seperti menginjak harga diriku secara gaib dan tak kasat mata." cerocos Ailin.


"Aku gak ada maksud menginjak-nginjak harga dirimu, aku cuma ngingetin kalau klien kita ini orang bule, mana ngerti bahasa ikan asin sambel terasi kamu."


Ailin mendengus kesal. "Heh tuan pintar yang budiman, aku ini keturunan orang bule, dari orok udah dikasih makan roti ama susu, gak mungkin kalo bule aduhai ini gak bisa bahasa Inggris." sahut Ailin dengan suara naik satu oktaf.


Leon nampak mengangguk-anggukan kepalanya dengan mimik wajah seperti meledek. "Aku kira gadis nakal sepertimu itu makan paku berkarat dan minum oli bekas, soalnya kamu gak mirip bule."


Ailin tak menggubris ucapan melantur sang suami, gadis itu hanya mencibir sambil merutuki nasibnya.


Kenapa ia harus menikah dengan bongkahan batu kali?.


Langit, bisakah kau turunkan palu dan pahat?, aku teringin sekali memecahkan batu sombong ini menjadi kecil sekecil mungkin, agar aku bisa menjadikanya sebagai alat gasrok daki.


***


Ini cuman hiburan, author gak ada maksud untuk menyinggung atau merendahkan pihak manapun.

__ADS_1


__ADS_2