
Waktu terus berputar, tak terasa langit sudah mulai menghitam, nampak bulan dan bintang sebagai penghiasnya. Siang yang sibuk berganti dengan malam yang sunyi, waktu dimana orang-orang tertidur untuk menikmati indahnya mimpi.
Ailin masih setia menemani Zico yang sudah terlelap, manik matanya terus saja menyusuri wajah tampan sang putra. "Pasti ayahnya juga punya wajah tampan seperti anaknya" gumam Ailin sambil mengikik pelan.
Matanya beralih menatap langit ruangan, tatapan-nya menerawang, mencoba mengingat kejadian lima tahun yang lalu. Mengingat hari dimana seorang pria yang tidak dikenalinya berhasil menanam cikal bakal Zico didalam rahimnya.
Sial!!!, Ailin benar-benar tidak ingat dengan wajah si petani.
Tring!!!
Sebuah notifikasi terdengar dari arah leptop yang masih menyala diatas meja, membuyarkan semua lamunan Ailin. Ailin bergegas mengecek apa yang ada dileptopnya.
Matanya membola saat melihat apa yang ada dilayar, satu buah email mampu membuat jantungnya berdegup tak karuan.
Lin kamu harus tenang, ini cuman ibumu!!!.
__ADS_1
Perlahan Ailin membuka email itu, lalu menghela nafas panjang sebelum benar-benar membacanya. Mata Ailin kembali membola saat ia melihat apa isi email itu.
Nak pulang sayang, ini sudah lima tahun, saatnya kamu pulang. Ibu rindu!!!
Isi email itu membuat jantung Ailin bergemuruh tak beraturan, Dia benar-benar ada dalam dilema. Satu sisinyaia malu bila harus pulang ke tanah air dengan membawa seorang anak tampa adanya pernikahan. Disisi lain-nya dia juga sangat merindukan sang ibu.
Lama Ailin berpikir hingga ngigauan Zico kembali mengalihkan perhatian-nya. Ailin kembali menatap wajah sang putra dari kejauhan.
Zico harus punya identitas, walaupun bukan identitas ayahnya, setidaknya Zico harus tau keluarganya. Ailin berpikir keras, cukup lima tahun ia bersembunyi dari kenyataan, kini saatnya ia menghadapi segala hal yang mengganjal dihatinya, mengungkapkan segala hal yang sebenarnya pada dunia.
***
Sore ini Ailin baru sampai di tanah kelahiran, karna delay yang cukup lama, Ailin ketinggalan bus yang akan mengantarnya ke kampung halaman.
"Pak, bus yang menuju Jakarta sudah habis ya?" Tanya Alilin pada petugas terminal. Pria yang ia tanyai hanya mengangguk-anggukan kepala untuk memperjelas.
__ADS_1
Yah!!!, dengan nafas lemah, Ailin beralih mendekat kearah putranya yang sedang tertidur lelap dibangku tunggu terminal.
"Sayang bangun yuk, kita harus pergi" Suaranya yang pelan, terdengar lembut dan berhasil mengusik mimpi indah Zico.
Bocah kecil itu mengerjapkan matanya, lalu menatap Ailin dengan lembut. "Mah cita mau ke mana?" tanyanya lembut.
Ailin tersenyum lalu mengangkat tubuh putranya, "Kita akan ketemu nenek, tapi malam ini kita tidur di hotel dulu ya" sahut Ailin sambil berjalan pelan meninggalkan terminal.
Zico yang masih mengantuk hanya menelusupkan kepalanya diceruk leher Ailin. Deru nafasnya kembali beraturan menandakan bocah itu kembali terlelap.
Jantung Ailin berdegup sangat kencang, harus bicara apa pada ibunya nanti, punya anak sebelum menikah?. Mungkin ibunya akan membakar Ailin hidup-hidup kalau tahu pergaulan Ailin dinegara orang itu buruk.
namun, bila menyangkut dengan Zico, Ailin akan melakukan apapun. Sekalipun ia harus dibakar atau digantung, Ailin pasti akan melakukan-nya.
Putranya butuh sebuah identitas, dia butuh tempat dihati keluarganya.
__ADS_1