
Ailin tertawa puas setelah berhasil memperdaya Leon. Eh, tungggu!!!, lebih tepatnya Zico yang berhasil melelehkan hati batu Leon.
Mobil itu mulai melaju dijalanan. "Liam apa kau masih jomblo?" tanya Ailin. Entah apa yang merasuki gadis itu hingga Ailin jadi menggila. Berbeda jauh dengan sang putra yang hanya berbicara seperlunya saja.
"Kau ini banyak sekali bertanya, lalu kenapa kalau aku masih jomblo, apa kamu mau menikah denganku?" desis Liam kesal.
Ha...ha...ha..., Ailin tertawa lepas. Mengganggu Liam sekarang menjadi hobinya. Melihat reaksi lawan bicaranya yang selalu marah-marah membuat Ailin tak gencar untuk mengganggu pria itu lagi dan lagi.
"Tentu, asalkan aku diberi mahar sebuah samurai ninja" Sahut Ailin dengan tawa yang masih tetap sama.
Ck!!!, Liam berdecak sebal lalu beralih menatap Leon. "Apa kak Leon tidak marah?, sukurlah" Batin-nya saat melihat wajah batu Leon masih tetap terjaga.
"Untuk apa kau minta samurai ninja, apa kau ingin bergabung dengan ninja hatori hah?" Liam masih senang menyahuti ocehan Ailin. Rasanya geram sendiri jika perkataan konyol Ailin tidak ia jawab.
"Kau ini lucu sekali, aku akan mengantongimu agar bisa membawamu pulang, Zico pasti senang jika punya mainan crewet sepertimu" Sahut Ailin sambil mencubit pipi Liam gemas.
Liam menggerutu kesal. "Beraninya dia menyebutku mainan cerewet, bukankah dia yang dari tadi bicara tak jelas, dasar radio butut" batin-nya terus merutuki Ailin si wanita alien.
__ADS_1
"Apa kalian bisa diam?, anak kecil saja tak banyak bicara" Tiba-tiba hawa dingin sangat terasa, bulu kuduk dua manusia yang masih senang bercanda itu langsung brigidik saat mendengarkan cicitan dingin dari Leon.
Keadaan menjadi hening, Ailin juga ikut terdiam. Namun Ailin tetaplah wanita alien yang selalu ingin tahu. "Apa dia patung prasasti dari kerajaan Majapahit?, kenapa dia seperti mayat hidup yang tak punya ekspresi?." Bisik Ailin pada telinga Liam yang ada didepan-nya.
"Shut!!! jangan bicara terlalu keras nanti dia dengar, Dia bukan sekedar patung prasasti, dia lebih pantas disebut bongkahan giok dari jaman Dinasti Tang." Sahut Liam masih berbisik.
Dinasti Tang, siapa itu?, apakah Leon benar mayat hidup?. Sungguh pikiran Ailin sudah melantur kemana-mana.
"Dinasti Tang itu apa?," Entah mengapa tapi Ailin menjadi sangat bodoh sampai tidak tahu Dinasti Tang yang terkenal sampai penjuru dunia.
Ailin hanya ber-oh tanda mengerti.
Lama dalam mobil itu hanya ada keheningan.
"Apa hotelnya masih jauh?" Tanya Ailin tiba-tiba.
"Di sekitaran sini tidak ada hotel, nanti saat diperbatasan pemisah kota Jakarta baru ada" Sahut Liam.
__ADS_1
"Jakarta?, Kalian akan pergi ke jakarta?, kebetulan sekali aku juga ingin kesana, kalau begitu kita tak perlu cari hotel, terus maju sampai Jakarta" Seru Ailin dengan semanagt berapi-api.
Keadaan kembali hening hingga tak terasa mata Ailin mulai terpejam lalu menjatuhkan kepala lelahnya pada pundah Leon.
Seketik Liam membolakan matanya. "Kak apa aku harus membangunkan-nya?" tanya Liam. Tangan-nya terangkat ingin meraih tubuh Ailin agar gadis itu pindah dari posisinya.
"Sudahlah tidak perlu melakukan itu, apa kau ingin telingamu panas lagi karna mendengarkan ocehan wanita gila ini?" Sahut Leon.
"Nak apa kau merasa pengap, sini biar paman gendong" lanjut Leon sambil merentangkan tangan-nya kearah Zico.
Bocah yang terhimpit itu segera neraih uluran tangan Leon lalu duduk dipangkuan si pria dingin.
Bila dengan anak kecil, sikap dingin dan angkuh Leon pasti akan sebikit melunak.
Liam yang melihat kakaknya bersenda gurau dengan Zico hanya mampu tersenyum, Jarang-jarang Liam melihat kakaknya itu bisa menerima kehadiran orang asing.
Apalagi otangnya adalah Ailin si wanita alien.
__ADS_1