Cinta Satu Malam CEO Tampan

Cinta Satu Malam CEO Tampan
hak dan kewajiban


__ADS_3

"Apa ini istana?" gumam Ailin terkagum saat melihat deretan rumah mewah tersusun rapi di kedua sisi jalan.


Rata-rata rumah yang ia lewati punya halaman luas dengan rumah yang didominasi warna putih atau silver menambah kesan elegan dan berkelas. Tak lama mobil hitam yang ia dan yang lainya tumpangi menepi di salah satu halaman rumah.


Pintu pagarnya menjulang tinggi. Rumah itu nampak paling berbeda dari pada rumah yang lain-nya.


Ailin keluar dari dalam mobil sambil terngangah. "Apa ini istana merdeka?" Ailin kembali terkagum. Hamparan bunga menghiasi halaman yang luasnya lebih luas dari pada stadion GLB.


"Ini istana untukmu, ratuku" Sahut Leon sambil menggandeng tangan Ailin. Ailin yang sedang menggendong Zico seketika tertegun kala tangan Leon menaut di lengan-nya.


"Ayo kita masuk" Ujar Leon sambil meraih sedikit pinggang Ailin.


Gadis itu tak berkutip, manik matanya masih menatap Leon dengan tatapan heran sekaligus bahagia. Tuan batunya punya sisi manis. Tadi dia bersikap seperti raja hutan yang sedang memperebutkan kekuasaan. Tapi sekarang Leon berubah, dia jadi seperti kelinci kecil tak berdaya yang ingin disayang dan diperhatikan.


Tak merasakan reaksi dari Ailin, Leon mengalihkan pandangan-nya pada Ailin. "Kenapa?, ayo masuk" Ujar Leon. Ailin tergertak lalu memalingkan pandangan-nya kearah depan sambil menggeleng-geleng pelan.

__ADS_1


Leon sedikit mengulum senyumnya saat melihat tingkah Ailin. "Sini biar Zico aku yang gendong" Ujarnya sambil meraih tubuh ngantuk Zico dari pangkuan ibunya.


"Apa kau suka rumah ini?" Lanjut Leon sedikit berbisik tepat di telinga Ailin.


Wajah gadis itu bersemu, "Ya aku pasti suka. Rumah kaya istana gini mana bisa ditolak" Sahutnya sambil berjalan cepat mendahului Leon.


Leon sedikit terkikik sambil menggeleng-geleng kepalanya pelan, rasanya akan sulit melunakan wanita nakalnya itu.


***


Langit mendung menghiasi malam ini. Membuat siapapun bosan kala menatap gelapnya malam berawan tebal itu.


Berbeda dengan Ailin, gadis kecil itu masih senang mengelilingi rumah mewah dan juga luas milik Leon. Rasanya seperti bertamasya ke istana ratu Elsa. Banyak bagian yang transparan karna terbuat dari kaca, membuat pemandangan rumah itu seperti sebuah istana es yang berkilawan.


"Apa aku boleh memilih kamarku sendiri?" Tanya Ailin pada Leon yang ikut menemaninya berkeliling.

__ADS_1


"Tidak!!!" Sahut Leon dengan penuh penekanan.


"Kenapa tidak?, Zico punya kamar sendiri, lagi pula di rumah ini banyak sekali kamar yang masih kosong. Terus aku harus tidur dimana kalo begini?" Tutur Ailin dengan mengomel, alisnya berkerut memandang wajah batu Leon yang tak pernah berubah.


Leon menutup mulutnya dengan punggung tanga, menguap tampa mendengarkan ocehan wanita nakalnya.


"Ih aku ini sedang meminta hak ku, kenapa kau begitu tak mempedulikan-nya?, aku ingin kamar sendiri!!!, aku ingin keadilan!!!" Timpal Ailin saat dirinya merasa tak dipedulikan sedikitpun oleh Leon.


"Kau bicara tentang hak?, kalo begitu aku akan menunaykan kewajibanku sebagai suamimu" Sahut Leon sambil membopong tubuh mungil Ailin.


Mata gadis itu membola "Turunkan, kau mau apakan aku?" ujarnya sambil memukul-mukul pelan dada bidang Leon.


"Menunaykan kewajibanku" Bisik pria tampan itu tepat ditelinga Ailin.


"Tunggu!!!, a... apa maksudmu?" Tanya Ailin dengan terbata, dia benar-benar lupa kalau dimata hukum hubungan keduanya adalah suami istri sah. berbicara tentang hak pada suami di malam yang syahdu pasti akan menimbulkan masalah baru.

__ADS_1


__ADS_2