Cinta Satu Malam CEO Tampan

Cinta Satu Malam CEO Tampan
Zico yang polos


__ADS_3

Langit mulai meredup, mentari perlahan terkikis dimakan senja yang mulai menyapa.


Sudah cukup untuk hari ini...


Hari yang penuh dengan rasa dan emosi, hari yang tak pernah bisa dibayangkan oleh siapapun termasuk Ailin dan Leon.


Kini hanya tersisa senyuman dibibir manis Ailin. Hati dan pikiran-nya kini merasa tenang dan lega. Nirwana dan Alisa sudah menerima Zico dengan segala kekurangan dan kelebihan-nya.


Kebahagiaan apalagi yang dicari seorang ibu bila anaknya sudah bahagia, bahagia dengan kakek nenek yang belum pernah Zico temui. Mendapatkan cinta dari ayah yang selalu Zico rindukan. Apalagi yang kurang dari bocah itu?. Apalagi yang kurang dari kebahagiaan Ailin?.


Ailin kini bisa bernafas lega, beban yang selama lima tahun ini ia tanggung sendiri kini bisa dibagi dengan ibu, ayah dan suami.


Keluarga kecil itu kini sedang berada dipapiliun, mengistirahatkan tubuh yang seharian penuh disibukan dengan ini itu pernikahan.


"Apa Zico senang bersama oppa dan omma?" Kata itu terlontar dari bibir Leon, pria batu yang biasanya cuek dan dingin itu menghangat bila melihat senyuman terlukis dibibir putranya.


Zico mengangguk semangat, "Iya..., Dico seneng banget, sekalang Dico punya daddy, punya oppa dan omma" Sahut bocah kecil itu dengan sumeringah.


Kebahagian Zico tak mampu dilukiskan dengan kata-kata, keluarga yang selama ini selalu bocah kecil itu idam-idamkan kini benar-benar terjadi, punya ayah dan ibu, punya nenek dan kakek, tak ada lagi yang bisa membandingi kebahagiaan Zico saat ini.

__ADS_1


"Sukur kalo kamu bahagia. Tapi daddy sedang sedih sayang" Lirih Leon dengan wajah temeram dihiasi sedikit tangisan buaya mengalir dikedua pipinya.


Zico yang ada dipangkuan Nirwana seketika mlompat, berlari kearah Leon lalu menghapus buliran air mata yang membasahi kedua pipi ayahnya.


"Kenapa daddy sedih?, disini ada Dico, kalo ada yang jahat sama daddy bilang ya sama Dico, nanti Dico yang akan lawan" Cicit bocah itu khawatir.


"Mommy..." Lirih Leon masih dengan tangisan palsunya.


Tak disangka, Leon punya bakat acting yang sangat hebat, kesedihan yang terlukis diwajahnya nampak sangat nyata.


Kini Ailin ada dalam masalah besar...


Bukan Ailin jika kalah dari rencana licik yang dibuat Leon.


"emmh...Aduh..., sakit..." Ringis gadis itu pura-pura.


"Zico jangan lakukan itu, nanti adik Zico akan terluka" Cicit Ailin.


Nirwana dan Alisa yang melihat tingkah konyol putrinya hanya bisa tertawa pelan. Ailin tak pernah berubah, dia masih sama seperti lima tahun lalu. Gadis manja dengan dumelan tak berguan walaupun kini setatusnya sudah menjadi seorang ibu dan istri namun sikap jahilnya tak pernah berubah.

__ADS_1


"Adik?" Zico nampak terdiam sambil meresapi kata adik yang tadi dilontarkan Ailin.


"Iya sayang, disini ada adiknya Zico, memangnya Zico ingin melihat adiknya terluka"


Bocah kecil itu nampak melamun dalam, pikiran polosnya perlahan mencerna ucapan Ailin.


"Belalti daddy yang jahat sama mommy?"


Ailin mengangguk pelan.


"huh... daddy halus dihukum" Ucap Zico lalu beralih mendekat kearah Leon, dan menggigit lengan pria itu kuat-kuat.


"Zico salah paham, mommy yang salah bukan daddy" Tutur Leon sambil memohon.


"No, daddy mau melukai mommy dan adik Dico" Sahut Zico disela gigitan-nya.


Rencana Leon gagal total...


Ailin hanya bisa tertawa puas, asuhan-nya tak pernah salah.

__ADS_1


Zico tak akan pernah berani menyakitinya walaupun hanya sehelai rambut saja.


__ADS_2