
2 hari berlalu begitu cepat, Zico yang sempat terserang flu berat kini sudah sembuh dan bisa beraktivitas seperti sebelumnya. Sudah bisa berlari dan bermain, semua itu tak luput dari jasa Leon yang setia menemani sang putra siang dan malam.
Sampai-sampai 2 hari terakhir ini Leon tak pergi ke kantor hanya untuk menemani Zico tidur, bahkan Leon tak bisa pergi jauh dari sang putra walau hanya beberapa menit saja.
"Hari ini gak ke kantor lagi?." tanya Ailin saat melihat sang suami masih menggulung tubuhnya dengan selimut.
Leon menggeleng pelan, "Gak ah," jawab Leon singkat.
Ailin hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan nafas parsar. "Terserah lah, perusahaan kamu yang punya, untung ruginya juga kamu yang rasa, gak nambah beban buat aku." sahut Ailin masih dengan kegiatan rutin-nya.
Merapikan baju kedalam lemari sudah jadi agenda wajib setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan.
Setelah merapikan baju, Ailin nampak menujukan pandangan-nya pada jam yang menempel di dingding. Dilihatnya waktu baru menunjukan pukul 5 pagi, masih banyak waktu sebelum ia menyiapkan sarapan dan merapikan kamar Zico.
Ailin memanfaatkan waktu senggangnya itu untuk mengganggu Leon, gadis itu duduk disisi ranjang tepat disamping Leon, sambil tangan-nya bermain diatas pundak sang suami. Mencoba mengganggu tidur Leon yang semakin lama semakin lelap.
__ADS_1
"Hentikan." ucap Leon yang merasa terganggu dengan tingkah ibu muda yang menjengkelkan itu.
Tangan Leon dengan kasar mendorong Ailin agar tak terus menerus menganggunya.
"Ha ha ha, makanya ayo bangun, biasanyakan kamu yang suka bangun pagi, kok sekarang kebalik?." sahut Ailin makin gencar menganggu Leon.
Lagi-lagi Leon menolak sambil mendorong Ailin cukup kencang.
"Yaudah kalau kamu maunya gitu, aku keluar dulu ya." ucap Ailin sambil berdiri, berniat keluar dari dalam kamarnya. Namun sebelum Ailin benar-benar pergi, tangan Leon terlebih dahulu mencengkram lengan-nya, kemudian menarik Ailin cukup kencang, membuat gadis itu terjatuh kedalam pelukan sang suami.
"Lepasin, katanya tadi disuruh pergi." ucap Ailin sambil mengeliat, mencoba melepaskan diri dari kungkungan sang suami.
Namun nampaknya Leon tak mengindahkan ucapan Ailin sedikitpun, pria itu malah semakin mempererat pelukan-nya pada tubuh mungil sang istri.
"Ya kalau emang bisa, pergi aja." sahut Leon.
__ADS_1
Dahi Ailin berkerut, bagaimana bisa ia pergi kalau tubuhnya dihimpit oleh tubuh kekar Leon?. "Kalo gitu lepasin aku dulu, nanti aku bakalan pergi, terserah kamu mau tidur sampai kapan pun, baru bangun besok juga aku gak akan bangunin." sahut Ailin sambil masih terus memberontak.
Pada akhirnya, Ailin hanya bisa pasrah, gadis itu hanya bisa diam meringkuk didalam pelukan sang suami.
Semakin hari sikap Leon semakin berubah, entah apa yang pria itu mau, Ailin tak bisa memprediksinya dengan jelas, kadang-kadang Leon bersikap dingin dan cuek, kadang juga pria itu begitu hangat dan dekat.
Entah apa yang menjadi penyebabnya, Ailin sendiri tak tahu pasti.
"Apa kau sakit?." tanya Ailin membuka pembicaraan.
Leon melepaskan pelukan-nya pada Ailin, sambil merengangkang ototnya sebentar, setelsh itu tangan kekarnya kembali memeluk tubuh mungil sang istri.
"Tidak." sahut pria itu singkat.
"Lalu, kenapa kau tiba-tiba bertingkah seperti ini?, kemarin kau cuek, sekarang kau seperti besti, apa yang sebenarnya menghantuimu?." sahut Ailin dengan nada bicara naik satu oktaf.
__ADS_1
Leon tak menjawab, pria itu hanya kembali mempererat pelukan-nya pada sang istri.