
Setelah mengetahui asal usul dan identitas Jemitha, Ailin belum bisa sepenuhnya tenang. Jemitha adalah orang berbahaya, dan sekarang Ailin sendiri tah tahu keberadaan gadis itu.
Entah Jemitha ada dikota ini atau ia sudah pergi. Yang pasti dimanapun Jemitha berada, pasti ada sesuatu yang sedang wanita jahat itu rencanakan.
Kini langit nampak mulai gelap, mentari nampak menyala jingga memenuhi angkasa, perlahan, rona jingga pudar berganti langit gelap berhiaskan bintang.
Ailin masih senang merenung dari atas balkon kamarnya, menikmati dingin-nya angin malam yang berhembus kencang menghujam raga, memberi kesejukan di tengah masalah yang kini tengah menyiksa.
Semakin waktu berjalan, masalah prihal Jemitha semakin berlarut dan membekas, wanita itu seakan menjadi sebuah misteri yang jejaknya lenyap ditelan bumi namun dampaaknya masih kental terasa.
Sekarang karyawan Leon bukan sekedar alasan mengapa Ailin terus mencari tahu tentang sesosok wanita cantik bernama Jemita. Setelah mendengar cerita dari Liam tadi siang cukup membuat Ailin takut, bagaimana jika Jemitha berniat jahat pada keluarga kecilnya?, terlebih kini ia punya alasan terpenting yaitu Zico. Bagaimana jika Jemitha tahu kalau Zico itu anaknya Leon?.
Membayangkan-nya saja sudah membuat Ailin merinding, berharap hal buruk yang terus menerus menari dalam pikiran-nya tak akan pernah terjadi.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau pikirkan?."
Ailin terlonjak kala mendapatkan pertanyaan itu, gadis itu kemudian berbalik, menilik sosok pria yang tadi melontarkan pertanyaan padanya.
"Aku tak memikirkan apapun." sahut gadis itu sambil mendekat kearah Leon, bibirnya masih enggan menceritakan hal yang sedang ia pikirkan pada sang suami. Ailin sadar Jemitha sudah membuat luka mendalam dihati Leon, jadi jika ia menceritakan keluh kesahnya tentang Jemitha pada Leon, luka Leon tak mungkin bisa sembuh bahkan bisa saja menusuk lebih dalam lagi.
Jadi untuk saat ini lebih baik Ailin bungkam.
"Bagaimana keadaan Zico?, apa flu nya tak kambuh lagi?." tanya Leon, pria itu nampak sedang membuka kancing kemejanya.
Gadis itu kemudian berbaring diatas ranjang, netranya terus menatap kearah Leon dengan tatapan kosong. Jemitha... Jemitha... wanita itu seakan jadi momok menakutkan yang terus menari-nari dalam pikiran.
Kenapa saat ia memulai kehidupan yang bahagia, selalu saja ada orang yang berusaha merusaknya.
__ADS_1
"Hey, kau sedang memikirkan apa?." tanya Leon.
Namun Ailin tak menggubrisnya sama sekali, matanya tetap menatap Leon dengan tatapan kosong.
Merasa tak dihiraukan, Leon melompat kesamping Ailin, membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Apa yang kau lakukan?." tanya gadis itu sambil masih mencoba mengatur deru nafasnya yang terengah-engah.
"Harusnya aku yang bertanya, ditanya tak menjawab, sebenarnya kau sedang memikirkan hal penting apa?."
Mendapatkan pertanyaan itu, Ailin diam sambil berpikir sejenak, "Emmm, sudah lama aku tinggal disini, aku mulai merasa jenuh dan bosan, bagaimana jika kita pergi berlibur." ucap Ailin mencari alasan, mencoba mengalihkan perhatian Leon agar tak terus menggertaknya.
Leon menggumam, menatap wajah Ailin seksama. "Baiklah, saat Zico libur nanti, kita semua akan pergi jalan-jalan." sahut pria itu sambil mengangguk-angguk tanda setuju.
__ADS_1
…
Maaf author jarang up, soalnya setelah lebaran kerjaan dan kegiatan author makin padet, jadi susah cari waktu buat untuk nulis naskah.