
Kurang dari 20 menit, mobil BMW hitam itu berhenti tepat didepan gedung. Tanpa ba-bi-bu lagi, Ailin dan Leon bergegas keluar dari dalam mobil mewah itu.
Keduanya berjalan beriringan masuk kedalam gedung perkantoran yang sudah hampir 20 tahun berdiri gagah. Membesarkan nama Leon sebagai CEO terbaiknya.
Banyak pasang mata memandangi kedua pasangan itu dengan tatapan sinis, Leon yang memang selalu bersikap dingin dan cool tak sedikitpun menghiraukan tatapan aneh para kariawan-nya.
Namun berbeda dengan Ailin, Kali pertama yang membuat nyalinya ciut seketika. Orang-orang di sekitarnya nampak menatap Ailin dengan tatapan jijik seperti melihat sampah busuk tepat didepan mata mereka.
Sial!!, kenapa mereka menatapku seperti itu?, mentang-mentang aku ini orang miskin yang gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba nikah sama bos mereka, apa mereka menganggapku lalat penjilat yang mencoba mencari kesempatan dalam kesempatan. Rutuk gadis itu dalam hati.
Ditengah-tengah perjalanan menuju ruangan Leon, nampak dua orang wanita muda menghampiri.
__ADS_1
"Selamat pagi pak, kopi bapak sudah saya siapkan diatas meja." ucap salah satu wanita cantik yang berperan sebagai sekertaris Leon.
Namun nampaknya Leon tak menggubris sedikitpun ucapan sekertarisnya yang cantik membahana, pria angkuh dengan ego selangit itu masih terus melanjutkan langkah tanpa ingin menyapa ataupun menjawab sapaaan para kariawan-nya.
Ailin yang merasa tak enak hati dengan para kariawan Leon itu segera mempercepat langkah, menghampiri dua wanita yang tadi menyapa Leon namun ditolak mentah-mentah oleh sang pria arogan.
"Selamat pagi, maaf atas ketidak nyamanan-nya, suamiku memang terlihat dingin bahkan lebih dingin dari pada kutub utara, tapi dia sebenarnya orang yang paling baik." bual Ailin mencoba membagus-baguskan Leon didepan dua karyawan suaminya itu.
Padahal hal yang sebenarnya, walaupun Ailin kini bersetatus sebagai istri sah nya, Leon tak sedikitpun megubah sikap arogan-nya itu, pria itu masih tetap seperti beruang kutub yang dingin dan akan marah jika habitatnya terganggu.
Ailin mengernyitkan dahinya beberapa kali, maksudnya itu baik, ingin meringankan rasa sakit yang dua wanita itu rasakan, lagi pula dia mau cari muka yang seperti apa, toh dia memang sudah cantik dari lahir, dan kenapa harus kata jal*ng, apa tak ada kata lain yang sedikit halus selain kata jal*ng.
__ADS_1
"Tunggu, jal*ng?, apa maksud kalian?." tanya Ailin dengan mimik wajah yang seperti menggambarkan kalau dialah orang yang paling tersakiti dan teraniyaya di dunia yang kejam ini.
"Iya, kau memang *******, dasar pelakor eh maksudku pepacor. Perebut pacar orang."
Dahi Ailin kembali mengernyit, pacar?, maksudnya Leon punya pacar?.
Tak ingin membuat keributan dipagi hari, Ailin hanya mengangguki ucapan kariawan suaminya itu. "Terserah kalian mau panggil aku apa, pelakor lah, pepacor lah, yang penting saya tak merasa kalau saya termasuk kedalam kategori wanita rendahan yang kalian maksud." ucap Ailin sambil perlahan pergi meninggalkan kerumunan orang yang sedang mengelilinginya.
Ailin kalah telak, dia benar-benar tak mampu menjawab julidan para netizen yang selalu urus campur dengan kehidupan pribadinya, orang-orang yang mengharapkan dia dan Leon cerai lalu berpisah.
"Jal*ng itu tahu diri juga, jelas-jelas pak Leon dan bu Jemitha adalah pasangan serasi," ucap salah seorang sambil sedikit berbisik.
__ADS_1
Namun masih dapat didengar oleh Ailin yang berada tak jauh dari kerumunan orang itu.
"Jemitha?", gadis itu terdiam beberapa detik, siapa Jemitha?.