
Matahari nampak semakin meninggi, tersenyum cerah menyinari bumi yang ia sinari. Waktu dimana orang-orang berbahagia melakukan aktivitas mereka.
Namun jauh berbeda dengan Ailin saat ini, gadis itu masih senang menggulung tubuhnya dibalik selimut, keadaan ruangan yang panas membuat keringatnya mercucuran deras.
Bagaimana ini?, Ailin tak bisa berpikir dengan benar, hati dan pikiran-nya di buat bingung oleh si pria batu. Satu sisi hatinya tak ingin membagi Zico dengan orang lain. Namun kalau tidak begitu, Leon akan membawa Zico pergi darinya.
Ailin mengacak rambutnya kasar, pusing!!! pusing!!!, tubuhnya kini serasa panas dingin.
Sayup-sayup terdengar langkah kaki berjalan ke arahnya, "Mommy yuk kita pelgi" Tutur Zico membuat Ailin semakin waspada.
"Mommy gk enak badan sayang, bilang sama pama..., eh daddy mu, mommy dan Zico akan pergi sendiri setelah istirahat sebentar" Sahut Ailin yang masih menggulung tubuhnya dalam selimut.
"Oh kalo mommy kurang enak badan, kita pergi nanti sora aja ya, kita temenin mommy istirahat dulu"
Suara itu membuat Ailin semakin mempererat selimut yang menutupi tubuhnya.
__ADS_1
sial!!!
pria batu itu ada di sini, bagaimana aku bisa kabur?.
Tak lama tangan kecil Zico menggulung tubuh Ailin erat, di susul tangan Leon yang memegang erat pinggangnya.
"Mommy liat Dizo" Ujar bocah kecil itu.
Jantung Ailin berdetak sangat kencang, perlahan tubuhnya berbalik menghadap kearah Zico. Namun tatapan-nya langsung tertuju pada mata elang Leon.
Seketika Ailin memutar bola matanya, enggan menatap wajah tampan Leon. "Mommy Dizo mau nyenye" Rengek Zico tiba-biba.
Ailin membulatkan matanya menatap bocah kecil yang sedang memeluknya erat. Ya ampun, kenapa bocah ini meminta sesuatu yang seperti itu?, rutuk Ailin dalam hati.
Walaupun Ailin sudah tak punya Asi, namun Zico selalu senang mengempeng sumur yang sudah kering itu. Sejak beberapa minggu lalu Zico tak pernah lagi meminta hal aneh seperti itu, namun sekarang?, kenapa bocah itu sangat manja apalagi di depan Leon.
__ADS_1
Leon nampak mengikik pelan saat melihat ekspresi Ailin.
"Em... tidak boleh sayang, Zico sekarang sudah besar" Ailin mencari-cari sebuah alasan agar di hindarkan dari kekonyolan permintaan Zico.
Kalau dia menurutinya, bukan hanya Zico yang akan senang, tapi tikus besar juga akan merasa bahagia.
"Yah padahal kata paman baik, mommy sama daddy mau punya bayi, telus Dico dak bisa nyenye lagi kalo bayinya dah ada" Tutur Zico dengan wajah yang temeram.
Ailin membolakan matanya. Leon dan Liam benar-benar sudah mencuci otak polos putranya.
"em..." Ailin tergagu karna tak mampu menjawab sang putra.
"Justru karna Zico mau punya adek, Zico ngak boleh nyenye lagi ke mommy, nanti kalo adeknya kelaperan karna gak bisa nyenye gimana?" Tutur Leon memberi penjelasan pada putra kecilnya.
Dengan sekali angkat, Leon mendudukan Zico di atas perutnya. "Kan adek bayi bica nyenye dali sapi" Celotehan Zico berhasil membuat Leon dan Ailin terkikik sambil geleng-geleng kepala mendengarnya.
__ADS_1
"Kalo adeknya nyenye ke sapi, nanti suaranya kayak sapi. Mo...." Ailin menyahuti celotehan Zico dengan penuh tawa.
Bocah kecilnya itu benar-benar pintar. Darah Leon mengslir deras di dalam tubuhnya, membuat Zico punya gen pintar tak seperti Ailin yang hanya bisa meraih peringkat nomer satu di akhir.