
Malam semakin larut, keadaan kota malam itu sangat sepi. Rintik kecil gerimis perlahan mulai membasahi jalanan aspal yang dingin.
Angin bergemuruh tiada usai, menjatuhkan daun dan ranting yang telah mati. Menandakan akan terjadi badai dimalam yang sunyi ini.
Nampak sebuah mobil putih melaju sedang dijalanan yang sepi. Nampaknya mobil putih itu baru keluar dari bandara yang tak jauh dari pusat kota.
Tampak kepala seorang perempuan mengintip dari balik kaca mobil, mengawasi sekeliling dengan seksama.
"Aku sangat rindu tempat ini" Lirihnya sambil menghembuskan nafas panjang. Wajah wanita itu nampak sangat sehat dan terawat. Mata hasil oprasi juga nampak sangat indah, bibir hasil sulaman terlihat cantik merah merona.
Perlahan jemari lentiknya menggeser layar ponsel, matanya terbelalak saat mendapati sebuah pesan tak terduga masuk tiba-tiba.
Tiba-tiba wajahnya memerah, tangan-nya mengepal kuat. "Ini tak boleh terjadi..." Ucapnya dengan nada kesal.
Karna terlalu kesal, wanita itu membanting ponselnya keatas jalanan aspal saat mobil sedang melaju, membuatnya hancur berkeping-keping.
***
Pagi yang indah setelah hujan badai tadi malam.
__ADS_1
Hari ini adalah hari pertama Ailin menjadi istri sah dari Leon Atmajaya.
Seperti pagi biasanya, gadis kecil itu sudah mulai berkutat diwilayah kekuasaan. Memotng sayuran, nenggoreng daging sudah jadi kebiasaan setiap pagi.
Diliriknya jam yang menempel di dingding, waktu sudah menunjukan jam tujuh tepat, namun suami dan putranya belum juga turun untuk sarapan.
"Bik tolong siapkan di meja makanya, saya ingin mengecek suami saya dulu" Titah Ailin pada seorang pelayan yang menemaninya memasak.
Pelayan itu mengangguk patuh, masih memperhatikan Ailin yang mulai menghilang dari radarnya.
Dengan gusar, gadis itu menaiki setiap anak tangga untuk sampai kekamarnya, sungguh menyebalkan.
Pertama Ailin membuka kamar sang putra yang berada tepat disamping tangga, netra gadis itu nampak mengamati sekeliling, namun tetap saja tak menemukan keberadaan Zico.
Ailin beralih kekamarnya yang berada tak jauh dari kamar Zico. Dibukanya daun pintu itu pelan, dan kamar itu juga nampak sepi.
Namun pendengaran-nya menangkap sesuatu, suara putra kecilnya terdengar nyaring dari arah kamar mandi.
Ailin bergegas masuk kedalam kamar mandi itu. Alangkah kagetnya saat dia saat mendapati Leon dan Zico mandi bersama.
__ADS_1
"Argh... ya ampun" Jerit Ailin kaget, dengan segera gadis itu memalingkan pandangan-nya, bergegas keluar dari kamar mandi.
"Mommy..., mali mandi belsama" pinta bocah kecil yang masih berendam dengan Leon.
"Tidak sayang, mommy baru selesai mandi" Tolak Ailin lembut.
Jantung gadis kecil itu bergemuruh tak beraturan, malu!!!. Ailin tak sanggup melihat kebelakang.
Tiba-tiba tubuh kecil Zico sudah berada tepat didepan-nya. "Mommy ayo mandi belsama" pinta bocah kecil itu manja.
Ailin berjongkok didepan Zico, mensejajarkan tubuhnya dengan bocah kecil itu. "Tidak sayang, mommy sudah mandi, Zico mandi dengan daddy saja ya" Ucap Ailin memberi Alasan.
"Tidak, Dico seling mandi dengan mommy, dan sekalang Dico mandi dengan daddy, kapan kita akan mandi belsama?" Ucap Zico memelas.
"Nanti ya sayang, sekarang mommy kedinginan" Ailin kembali beralasan.
Leon yang sedari tadi hanya diam nampak membenarkan posisi duduknya. "Sudahlah turuti saja permintaan putramu" ucap Leon dengan nada dingin-nya.
'Itu mah maumu...' Ailin membatin
__ADS_1