Cinta Satu Malam CEO Tampan

Cinta Satu Malam CEO Tampan
berlibur


__ADS_3

Akhirnya akhir pekanpun tiba, sore hari seisi rumah sudah heboh menyiapkan barang-barang yang akan mereka bawa ke tempat wisata hari ini. Seperti janji Leon, hari ini Ailin sekeluarga termasuk para asisten rumah tangga akan berlibur.


Tempat liburan yang mereka pilih adalah pantai yang letaknya tak begitu jauh dari pusat kota, kurang lebih hanya butuh waktu 3 jam perjalanan untuk sampai ditempat wisata yang akan mereka tuju.


Sengaja mereka memilih waktu malam untuk berangkat, agar sempat melihat matahari terbit dipantai nanti.


Leon menyiapkan 2 unit bus yang akan membawa mereka semua ke pantai. Rombongan bus satu akan di pimpin oleh Liam dan bus dua akan di pimpin oleh Leon dan Ailin.


Sesuai kesepakatan yang sudah dibuat, bus 2 hanya di isi oleh Leon dan Ailin, serta barang-barang bawaan yang jumlahnya cukup banyak.


"Kenapa kita harus naik bus berbeda?, padahal kan akan lebih asik jika kita semua pergi bersama dengan rombongan Liam." tanya Ailin sesaat setelah mereka berdua sudah naik kedalam bus.


Rasanya seperti bukan liburan, apalagi Zico ikut dengan rombongan Liam, membuat bus berukuran sedang itu terasa sangat sepi.


"Sudahlah, kita akan bertemu mereka saat sudah sampai nanti." sahut Leon santai.


Ailin hanya menggumam sebagai jawaban. Tak ingin memperpanjang perdebatan yang pasti tiada akhirnya. Ailin sadar siapa orang yang kini menjadi lawan bicaranya, Leon, pria cuek yang tak mau kalah bicara.

__ADS_1


Kurang lebih 1 jam perjalanan sudah ditempuh, Ailin nampak mulai merasa bosan, ditambah Leon yang sibuk dengan laptop menambah kejengkelan Ailin.


"Sudah kubilang, kalau mau berlibur, lupakan pekerjaanmu sebentar saja, kalau tau dari awal, aku gak mungkin mau diasingkan di bus ini." gerutu Ailin kesal.


Jauh dari anak, jauh dari teman membuat Ailin cukup kesal, ia kira Leon merencanakan sesuatu yang sepesial karna mengajaknya naik bus berbeda, tapi ternyata Leon hanya mengajaknya untuk menemaninya bekerja saja.


Sebal!!!


Setelah bicara panjang lebar, Leon nampak tak menghiraukan sedikitpun, pria itu masih sibuk mengutak ngatik berkas di laptopnya.


Merasa tak dianggap, Ailin bangkit dengan wajah masam, kemudian berjalan kearah pak supir yang masih sibuk memperhatikan jalanan.


Supir itu spontan mengangguk, "Silahkan bu." sahutnya. Walaupun sedang sibuk, pak supir masih sempatnya menjawab, berbeda dengan Leon yang kalau sudah menatap laptop, matanya tak bisa dialihkan sedetikpun.


Seakan-akan ada sihir dari layar laptop yang membuat Leon terhipnotis dan tak sedikitpun menghiraukan orang disekitarnya sama sekali.


"Pak, berapa lama lagi kita akan sampai?." tanya Ailin membuka pembicaraan.

__ADS_1


Pak supir sedikit menggumam, mungkin memikirkan waktu yang akan mereka tempuh untuk sampai ke tempat tujuan. "Kurang lebih dua jam-an lagi bu." sahut pak supir sambil tersenyum.


Ailin hanya mengangguk-anggukan kepalanya sebagai sahutan.


Perjalanan dilanjut dalam keadaan hening, tak berapa lama, laju mobil bus terhenti disisi jalan yang berada dekat dengan perkebunan.


Ailin yang merasakan hal itu terdiam sambil menatap sekeliling dengan tatapan heran, rasanya tak terjadi kesalahan pada mobil, bahan bakar pun baru di isi beberapa saat yang lalu.


Rasanya tak mungkin jika ada masalah pada mobil yang sedang mereka naiki.


"Pak kenapa berhenti?, apa yang salah?." tanya Ailin bingung.


"Saya hanya menjalankan perintah pak Leon."


"Perintah?."


__ADS_1


Maaf part nya acak-acakan, author lagi sibuk-sibuknya, jadi belum sempat revisi dan bikin chapther yang panjang.


__ADS_2