Cinta Satu Malam CEO Tampan

Cinta Satu Malam CEO Tampan
malam yang buruk


__ADS_3

"Tuan kepalaku pusing" adu wanita mabuk itu. Leon memutar bola matanya jengkel.


Sungguh sial nasibnya harus tinggal seatap dengan gadis gila seperti Ailin. Leon menggusur wanita dalam pelukan-nya kasar hingga mereka sampai di kamar Ailin.


Netra coklat pria itu tertuju pada ranjang dimana Zico tertidur dengan pulasnya. "Kau diam disini, aku akan membawa anakmu" Ujarnya sambil menghempas tubuh Ailin, beralih pada Zico yang tidur diatas ranjang.


"Daddy janji kau akan kembali" racau Ailin yang sudah tak sadarkan diri.


Leon memutar bola matanya jengkel lalu mengangkat tubuh mungil Zico dan berjalan keluar dari kamar itu. Zico ia bawa ke dalam kamarnya.


"Sayang tidur dengan paman dulu ya, ibumu sedang kurang sehat" Ujar Leon saat merasakan Zico hampir terjaga.


Tangan kekar itu mengelus lembut punggug si bocah, beberapa kali Leon menjatuhkan bibirnya di dahi Zico. Rasa sayang nya pada bocah kecil itu sangat besar, entah mengapa dia merasa kalau Zico adalah bagian terpenting dalam hidupnya.


Suasana kamar kembali hening, namun gedoran dan teriakan itu membuat Leon benar-benar muak.

__ADS_1


"Daddy cepat buka pintunya, aku ingin masuk" Ailin berteriak-teriak seperti orang gila, menggedor pintu kamar Leon cukup kencag hingga Zico hampir saja terbangun karna suara gaduh dari sang ibu.


Karna melihat Zico yang tidurnya terganggu, Leon memberanikan diri untuk menemui si wanita gila. Saat pintu kamar dibuka lebar, mata pria tampan itu terbelalak saat melihat gadis yang ada didepan pintu.


Kini tubuh Ailin terekspos sempurna, hanya saja bagian-bagian sensitipnya masih tertutup lingeri hitam berenda yang Ailin gunakan.


"Kau ini gila, aku harus benar-benar panggilkan dokter" Seru Leon lalu memeluk tubuh Ailin erat, membuat tubuh indah Ailin menempel pada dada bidangnya.


Leon segera membawa gadis mabuk itu kedalam kamar yang ada disamping mereka, lalu menghempas tubuh gadis itu keatas ranjang dan menggulungnya dengan selimut tebal.


"Aku ini pria normal, jika kau terus begini aku bisa kehilangan kendali" Ujar Leon dengan nada membentak.


Disaat hasrat mulai memuncak, nafsu yang akan bertindak. Tampa kehendak Leon, tubuhnya bergerak sendiri.


Membuka lilitan selimut yang menutupi tubuh indah Ailin. "Kau yang memintanya baby" Suara itu terdengar serak, tubuh Leon benar-benar sudah tak dapat dikontrol.

__ADS_1


Tubuhnya terbakar api gairah yang sangat dahsyat. "Aku pernah menghilangkan harga diri seorang gadis muda, aku tidak ingin mengulanginya" Batin Leon terus berucap, namun akal dan pikiran-nya hanya tertuju pada satu obyek, Ailin...


Lama keduanya melakukan penyatuan itu, "Daddy keluarkan itu di luar, aku tidak ingin kejadian dulu terulang lagi" Racau Ailin saat keduanya hampir menggapai puncak.


Leon tertegun mendengarkan penuturan Ailin, akal pikiran-nya perlahan kembali, apa yang mereka lakukan ini salah. Leon menghentikan aksinya lalu menatap wajah Ailin lekat.


"Da... daddy kenapa kau berhenti?, sebentar lagi saja, ah... aku hampir gila" Ailin kembali meracau tak karuan. Saat akal pikiran-nya dibawa terbang oleh Leon, namun pria itu seketika menghempaskan-nya jatuh kelapisan paling bawah.


"Apa yang kau katakan, katamu ayah Zico sudah tiada?" Dengan nafas tersenggal Leon menanyai gadis yang ada dibawahnya.


"Aku berbohong, aku sendiri tidak tahu siapa ayah dari anak itu. Cepat daddy lanjutkan, aku hampir gila" Jawab Ailin.


Leon berpikir sejenak, dia sudah berjalan terlalu jauh, akan sia-sia jika berhenti ditengah jalan seperti ini. Leon kembali menghujami Ailin dengan banyak kenikmatan.


Hingga keduanya tak tahu lagi berapa kali mereka mencapai puncak, yang mereka tahu, malam ini adalah malam yang buruk.

__ADS_1


Dimana kisah lama yang mereka kubur dalam terjadi kembali.


__ADS_2