Cinta Satu Malam CEO Tampan

Cinta Satu Malam CEO Tampan
kau cantik dalam balutan baju hina itu


__ADS_3

"Kau sedang apa disana?" Suara dingin yang dihindari Ailin kembali terdengar, membuat gadis itu gugup dan takut seketika.


Ailin yang gugup sekaligus kaget tak sengaja menjatuhkan gelas yang ada ditangan-nya. Beruntung gelas itu terbuat dari pelastik dan nasibnya tidak sama dengan si naga.


Perlahan Ailin memutar tubuhnya menghadap kearah Leon. Matanya terkesima saat melihat apa yang disuguhkan pria tampan itu.


Sebuah dada dengan otot-otot yang indah, tentu membuat Ailin terpana dan tak bisa berkedip. Leon tampak sangat gagah dengan jubah mandi dan celana bahan selututnya. Jubah yang tidak di ikat membuat dada telanjang Leon nampak sangat jelas terlihat.


"Mama..." Suara bocah kecil itu terdengar begitu jelas. Dengan segera Zico memeluk kaki sang ibu. Tentu hal itu membuat Ailin tersadar dari lamunan-nya.


Ailin segera meraih tubuh sang putra yang bergelantung dikakinya. "Apa yang kau pakai ini?, apa kau ingin menggodaku?" Lanjut Leon sambil menatap penampilan Ailin dari atas sampai ke bawah.


"Ti...tidak, aku tidak menggodamu, hanya saja bajuku tertinggal didalam mobil dan hanya ada baju ini didalam kamar" Sahut Ailin dengan terbata.


Ck!!!, Leon berdecak lalu kembali pada mode batunya. Suasana kembali hening, Ailin hanya terpaku dalam posisinya. Sedangkan Leon duduk di kursi makan masih memperhatikan Ailin.

__ADS_1


"Emmm... apa Zico lapar?" Tanya Ailin basa basi untuk sekedar memecah kecanggungan. Gadis itu segera mendudukan Zico diatas kursi tepat bersebrangan dengan Leon.


"Sudahlah jangan bersikap seperti gadis polos yang tak tahu apa-apa, lupakan saja vas bunga itu, aku tak akan memaksamu untuk menggantinya" Tutur Leon.


Ailin yang masih memperhatikan putranya beralih menatap Leon. "Benarkah itu tuan?" Tanya Ailin dengan berbinar.


Leon tak menjawab hanya mengangguk kecil untuk menyahuti ucapan Ailin.


"Apa aku benar dimaafkan?" batin Ailin yang heran, mana mungkin ada orang yang merelakan vas bunga mahalnya?, sungguh penuh kecurigaan.


"Boleh-boleh saja jika kau ingin membayarnya, uang 150.000.000 atau kerja malam seperti yang kita bicarakan itu terserahmu" Sahut Leon.


Ailin yang mendengarnya langsung membuka mata lebar-lebar. Dia kira Leon sudah lupa dengan pembicaraan keduanya tadi sore ternyata pria dingin itu masih mengingatnya. Dasar mesum!!!.


"Tidak tuan, aku percaya dengan kebaikan hatimu" Tutur Ailin dengan tergesa.

__ADS_1


Zico yang tak paham dengan pembicaraan kedua orang dewasa itu hanya terdiam sambil menatap ekspresi gugup sang ibu. "ma... Dico lapal" ujar bocah itu meminta perhatian dari Ailin.


Ailin yang masih nampak menunduk gugup segera mengalihkan pandangan-nya pada bocah kecil yang duduk tepat disampinya. "Iya sayang sebentar ya" sahut Ailin lembut.


"Tuan apa aku boleh pinjam kunci mobilnya?, aku ingin mengambil pakaian dan makananku" Lanjut Ailin. Gadis kecil itu menggigit bibir bawahnya takut, karna Leon tak juga memberi jawaban.


"Apa dia menggodaku?" Batin Leon menerka-nerka, Melihat Ailin menggigit bibir bawahnya cukup membuat napsu birahi pria normal itu naik, apalagi saat tubuh molek Ailin nampak sedikit terlihat karna pakaian minim ahlak itu tak menutupi tubuh sintal Ailin sepenuhnya.


"Tidak ada, Liam dan supir membawa mobil itu pergi" Sahut Leon.


"Apa?, lalu bagaimana dengan baju-bajuku?, makananku?" Timpal Ailin dengan mimik wajah menghawatirkan.


"Ya biarkan saja seperti itu, kau indah dalam balutan baju hina itu. Dan soal makanan-nya kau tak perlu khawatir, semua ada dilemari" Tukas Leon memberi sedikit solusi.


Apa?, tinggal dengan pria yang baru di kenal beberapa jam lalu disebuah mansion sepi. Ailin merasa kalau ia sedang menggali kuburan-nya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2