
Keadaan kembali hening, Ailin terus saja meremas tangan-nya karna gugup. Wajah cantik yang selalu ceria itu kini meredup. Bagaimana mungkin Leon bisa melakukan hal semacam ini?, dan kenapa tes DNA ini terasa sangat singkat?. Ailin masih terus membatin. Rasa takut dan khawatir mulai datang.
"Mari bicarakan tentang hak asuh putra kita" Tutur Leon.
Mendengar itu Ailin seketika membulatkan matanya, wajahnya terangkat menatap wajah pria dingin yang tepat ada di depan-nya.
Hal yang di takutkan itu benar terjadi. Leon pasti akan meminta hak asuh atas Zico.
Tidak!!!
Ini tidak boleh terjadi, Zico adalah putranya, harta satu-satunya, dia milik Ailin. Tapi Leon menganggap Zico itu apa?, semudahnya dia meminta hak asuh seorang anak yang baru pertama kali ia temui.
Rasa gugup dan khawatir berkecambuk dalam hati Ailin saat ini.
__ADS_1
"Tidak!!!, Zico adalah putraku, dia miliku, siapa kau, pria asing yang ingin mengambilnya dariku?" Tukas Ailin dengan penuh penekanan. Tak terasa buliran air mata berjatuhan di kedua pelupuk matanya.
Ailin kalah telak, bila kasus ini sampai ke pengadilan, dia bisa kehilangan Zico selamanya. Mengingat Ailin bukanlah wanita kaya, kemampuan-nya juga terbatas bila di bandingkan dengan Leon yang punya segalanya.
Sebentar keadaan hanya sepi hingga hembusan nafas berat terdengar dari arah Leon. "Dia putraku, dia juga miliku, bukankah kau tadi sudah baca suratnya?" Ujar Leon masih terdengar dingin.
"Surat ini?, surat ini yang kau jadikan Alasan?" Sahut Ailin sambil melemparkan hasil tes DNA itu ke sembarang tempat.
Matanya memerah, bom kebencian yang telah dikuburnya selama lima tahun kini merasa di tangtang. "Aku Ailin, ibu kandung Zico, wanita yang telah merawatnya sampai anak itu tumbuh se besar ini, merawatnya dengan kasih sayang dan cinta, wanita yang telah mengorbankan separuh nyawanya untuk kelangsungan hidup putranya. Siapa kau yang mengaku sebagai ayahnya?, apa sebuah hasil tes DNA dan pertemuan satu hari ini bisa mengganti empat tahun penderitaanku?" Lanjut Ailin dengan nada tinggi.
Leon tak bergeming, pria dingin itu masih di posisinya dengan tatapan yang sama. "Baiklah, dalam hal itu aku memang kalah, tapi setidaknya beri aku kesempatan untuk bisa bersama putraku" Sahut Leon, matanya tampak melukiskan sebuaj kesedihan.
Ailin menatap Leon dengan iba, Leon tak sepenuhnya bersalah. Begitu juga dengan dirinya, Zico hanyalah sebuah kecelakaan.
__ADS_1
"Dari dulu aku sudah menyiapkan hati untuk saat ini, saat dimana Zico tahu siapa ayahnya, saat dimana aku tahu pria lima tahun lalu. aku sudah siap tuan. Aku tidak akan melarang Zico bertemu ayahnya, begitu juga sebaliknya. Tapi aku minta satu hal, jangan bawa pergi Zico dariku" Tutur Ailin.
"Siapa bilang aku akan membawa Zico pergi?"
Mendengar itu Ailin tertegun, "Maksudnya?" Tanyanya meminta sebuah penjelasan.
"Aku tidak akan membawa Zico darimu, tapi aku akan membawa kalian berdua" Sahut Leon dengan senyuman tipisnya yang nampak kaku.
Ailin masih belum mengerti dengan ucapan Leon, matanya masih mencari titik kebohongan di wajah batu pria itu.
"Mari kita menikah"
Ailin membelalakan matanya, menikah?, apa itu tidak terlalu cepat?, mereka baru saling mengenal kemarin. Ailin terkaget mendengarnya, manik matanya terus menatap mata elang Leon tajam. Mencari sebuah kebohongan yang di sembunyikan.
__ADS_1
Melihat Ailin yang bungkam tak bersuara, Leon sedikit menyungingkan bibirnya. "Kita harus segera menikah, adik Zico pasti sekarang sedang berusaha tumbuh, mari kita rayakan " Tutur Leon dengan senyuman menyeringai.