
Perjalanan menuju Jakarta hanya tinggal beberapa kilo meter lagi. Namun karna melihat Ailin dan Zico terlelap, berikut pak supir yang sudah hampir mengantuk, perjalanan mereka cukupkan sampai mansion milik Leon yang jaraknya cukup dekat dengan posisi mobil.
Tak berapa lama mobil mewah itu masuk kedalam parkiran. "Li tolong kau bangunkan alien ini, aku masuk duluan" Titah Leon. Pria dingin itu bergegas masuk kedalam mansion sambil menggendong Zico.
Ailin yang tadinya bersandar pada pundak Leon seketika terjatuh. "Pria sialan!!!" Ailin mengigau saat tidurnya sedikit terganggu.
Namun mata gadis itu masih enggan terbuka. Rasanya berat sekali untuk membuka mata.
"Cepat bangun atau kau akan tidur di mobil malam ini!!!" Ujar Liam sambil menepuk-nepuk pipi Ailin agak keras.
Mata gadis itu perlahan terbuka, "Hemh... apa kita sudah di Jakarta?" Tanyanya sambil terus mengucek-ngucek mata.
"Tidak, kita di mansion kakakku" Sahut Liam. Gadis cantik itu segera bangun dari posisi tidurnya, menatap sekeliling yang sudah sepi tak ada penghuni. hanya ada Liam yang sedang membereskan barangnya.
"Mana Zico?" Tanya Ailin saat tak mendapati putranya.
"Dia sudah dibawa masuk kedalam oleh kak Leon" Sahut Liam acuh.
__ADS_1
"Heh pria batu itu, berani-beraninya dia menyentuh putraku" Ailin mendengus kesal, tangan-nya segera meraih tas besar yang ada di jok belakang lalu bergegas masuk kedalam mansion.
Mansion sederhana namun sangat mewah itu mampu membuat Ailin terngaga. "Wah indahnya" Gumamnya pelan saat melihat vas bunga bercorak naga disudut ruangan. Tangan-nya menyentuh lembut bunga yang menjadi pengisinya.
"Ehem... apa kau suka?" Suara dingin itu kembali menyapa, Ailin segera menatap arah asal suara. Namun tampa sengaja satu tangkai bunga tercabut dari vasnya, membuat bunga itu jatuh berikut dengan Vasnya.
Preng!!!
Pecahan kramik berceceran memenuhi lantai, pola naga tadi kini hanya tinggal pecahan-pecahan kecil.
Ailin yang kaget dengan sepontan menjauh dari apa yang telah ia perbuat. matanya menatap Leon yang masih tetap sama, duduk disopa empuk sambil memperhatikan-nya.
Namun nampaknya pria batu itu bersikap biasa saja, tak ada ekspresi apapun dari wajah tampan-nya. "Tuan saya berjanji akan menggantinya" Ailin kembali memohon. Melihat Leon yang tak berekspresi membuat Ailin merasa sedikit tenang, mungkin vas bunga itu tidak terlalu berharga bagi Leon.
"Baiklah, apa kau yakin bisa mengganti vas bunga itu?" sahut Leon sambil berdiri.
"Ah iya, tentu tuan, saya akan berusaha menggantinya" Tutur Ailin sambil ikut berdiri.
__ADS_1
"Vas seperti ini hanya ada satu di dunia, jadi tidak mungkin kalau kamu bisa mengganti yang sama persis. Kalau kamu mampu kamu bisa menggantinya dengan uang"
"Ya tuan, saya akan menggantinya dengan uang, berapa uang yang harus saya berikan?" Tanya Ailin dengan penuh semanagat. Bila hanya uang mungkin Ailin mampu membayarnya.
"150.000.000" Leon berkata masih dengan suara dingin-nya.
Mata Ailin terbelalak, dia kira vas bunga sekecil itu hanya berharga 5.000.000, namun ternyata dugaan Ailin sangat jauh berbeda dengan kenyataan-nya.
"Tu... tuan apa nol nya tidak terlalu banyak?" tanya Ailin dengan gugup.
"Kenapa?, kau tak mampu membayarnya?, Harga Vas bunga itu seharusnya 500.000.000, tapi karna itu vas bunga yang sudah lama, saya memotong sedikit harganya" Sahut Leon.
Kaki Ailin mendadak lemas, gadis itu terduduk sambil masih melamun panjang.
Leon yang melihat perubahan Ailin hanya mampu tersenyum licik didalam hati. "Bagaimana kalau kau bayar aku dengan tubuhmu, setiap hari" canda Leon, namun karna pria batu itu berkata dengan dingin-nya membuat kesan yang serius untuk Ailin.
"Apa?" pekik Ailin kaget, aku gak sudai!!!.
__ADS_1
"Sudahlah nanti saja pikirkan angkanya, sekarang kau beristirahatlah agar nanti malam kau bisa kuat memberikan pelayanan terbaikmu. Kalau kerjamu bagus, mungkin aku akan mengurangi satu nol nya" Tutur Leon sambil meninggalkan Ailin yang masih terduduk kaku diatas lantai.
Gadis itu sungguh merasa sock berat, entah mengapa candaan Leon ia anggap sebagai sebuah genderang perang yang akan segera dimulai.