Cinta Satu Malam CEO Tampan

Cinta Satu Malam CEO Tampan
"melakukan sesuatu yang asik.. ."


__ADS_3

"Huh... akhirnya aku bisa menyentuh kasur" Ucap Ailin sambil menghempaskan tubuhnya keatas ranjang yang empuk dan sangat ia rindukan. Gadis kecil itu nampak sudah sangat kelelahan. Seharian ini ia disibukan dengan rangkaian acara pernikahan yang cukup membakar tenaga.


Beberapa kali Ailin menghembuskan nafas beratnya, lalu mulai benar-benar terlelap diatas ranjang yang terdapat banyak kelopak bunga mawar diatasnya.


Cuaca malam ini nampaknya sedang mendung, tak ada hiasan bulan dan bintang yang mempercantik langit dimalam itu hanya awan tebal yang menyelimuti malam yang syahdu.


Hawa dingin mulai menusuk kulit Ailin, beberapa kali gadis yang sudah terlelap itu mengusap lengan-nya yang terasa membeku.


"Apa disini tak ada selimut?, bagaimana aku bisa tidur jika dingin begini?" Dumel Ailin masih dengan mata yang tertutup. Sungguh gadis kecil itu ada dalam zona tak nyaman, antara kantuk atau dingin. Yang mana yang harus ia obati?, mengobati kantuknya dengan tidur atau mengobati dingin-nya dengan bangun dan mengambil selimut?.


Tampa sadar Leon yang sedari tadi memperhatikan Ailin tergerak, entah kesambet atau kerasukan. Sesuatu yang tak akan pernah terjadi itu benar dilakukan Leon.


Pria yang tak pernah menghiba pada siapapun kini luluh lantah menyelimuti tubuh sang istri.


"Emmm... terima kasih suamiku" Racau Ailin dalam kantuknya.

__ADS_1


"Aku akan membiarkanmu tidur sebentar, setelah itu mari kita lakukan hal yang seru untuk pertama kalinya setelah pernikahan" Sahut Leon lalu berlalu dari tepi ranjang, sambil tangan-nya membuka kancing kemeja yang ia kenakan.


Ailin yang mendengar ucapan Leon seketika bangun dari tidurnya, matanya seketika mengencang tak lagi merasakan kantuk yang tadi sempat menyiksa.


"Apa...?" Seru Ailin terkaget, matanya memicing menatap Leon dalam-dalam.


Gadis itu tak habis pikir, setelah apa yang mereka lewati hari ini, Leon masih tetap berenergi padahal dari tadi pagi mereka tak bisa duduk sedikitpun karna melayani para tamu.


Leon yang menerima penolakan seketika memutar tubuhnya. "Kenapa...?, kau tidak ingat malam ini adalah malam pernikahan kita?" Sungut Leon.


"Iy...iya, aku tahu itu, tapi apa kau tidak lelah?" Tanya Ailin dengan gugup, wajahnya menunduk menyembunyikan rona merah yang menghiasi wajah cantiknya.


'...Aduh sepertinya aku dihadapkan dengan Samson si otot kawat tulang besi, bagaimana mungkin dia tidak merasakan lelah sedikitpun...' Batin Ailin terheran-heran.


Dengan keberanian penuh, Ailin mengangkat kepalanya, menatap Leon dengan intens. "Terserah kau saja, tapi jangan salahkan aku jika goyanganku kurang mantap" Tutur Ailin lalu segera menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang dan menyelimutinya rapat-rapat.

__ADS_1


Leon yang tak paham dengan ucapan Ailin hanya bisa berkerut kening. "Goyang...?, sebenarnya apa sih yang ada diotak kecilmu, malam ini bukan malam dangdutan, malam ini malam pernikahan kita" Tukas Leon sambil mendekat kearah Ailin.


"Iya, aku tahu malam ini adalah malam pernikahan kita, tapi rasanya tubuhku sangat lelah untuk melakukan sesuatu yang mengasikan itu"


Leon menggeleng-geleng kan kepalanya jengah. "Otakmu hanya bisa mencerna sesuatu yang cabul, maksudku kita akan membuka kado-kado dan amplop dari para tamu undangan" Ucapnya sambil menyingkap selimut yang dikenakan Ailin.


Ailin yang mendengar penjelasan suaminya hanya bisa menyengir kikuk. "Maafkan aku sayang karna telah berpikir hal seperti itu tentang dirimu, aku kira sesuatu yang mengasikan itu adalah bergoyang diatas ranjang hehe..." Tuturnya sambil memeluk pinggang Leon.


"Susah kukatakan dari kemarin, kau sudah gila, kau harus bertemu pisikiater" Sahut Leon.


Ailin yang merasa malu hanya bisa mempererat pelukan-nya pada pinggag atletis Leon.


"Hentikan itu, bisa-bisa ularku bangun dan minta sesuatu yang asik" Lanjutnya sambil mendorong sedikit tubuh Ailin.


Dengan gusar Leon menjauh dari Ailin.

__ADS_1


"Sayang, sarangheo oppa" Seru Ailin sambil menyatukan jari jempol dan telunjuknya, membuat sebuah tanda love.


Leon yang melihatnya hanya brigidik takut, tapi dalam lubuk hatinya ada sebuah senyuman yang tak mampu diartikan.


__ADS_2