
Terkadang orang yang kita anggap dekat bisa menjadi musuh dikemudian hari. Setelah mendengar ucapan Leon barusan, kini Ailin tak mampu berkutip ataupun membela diri lagi.
Sekarang Ailin cukup tahu diri, dia memang orang miskin, menikah dengan Leon saja tak akan cukup untuk mengubah statusnya.
"Permisi, aku ada urusan." ucap Ailin kemudian pergi.
Pergi dan menghindar, mungkin hanya itu yang sekarang Ailin bisa lakukan, dia tak punya kehendak untuk mengubah takdir, percuma menolak kalau semuanya sudah terjadi.
Sebelum Ailin pergi, dengan cepat Leon meraih lengan gadis itu, "Tunggu, maksud ucapanku tadi tidak seperti yang kau bayangkan." ucap pria itu sedikit lembut, namun tak menginggalkan kesan dingin dan cool nya.
Dengan mata berkaca, Ailin memutar tubuhnya, menatap mata elang sang suami dari dekat. "Lalu maksudmu bagaimana?, bukankah benar aku ini orang miskin?, ucapanmu tak salah, jadi tolong jangan hentikan aku." entah mengapa, semenjak menikah dengan Leon, emosi gadis itu jadi sulit terkontrol, terkadang Ailin ceria, kadang pula cengeng dan baperan.
"Menikah artinya mengubah status. Kau menjadi istriku sedangkan aku suamimu. Jadi apa bedanya jika kau miskin sedangkan aku kaya?. Semua sama saja dalam pernikahan." jelas Leon sejelas-jelasnya.
Setelah mendengar penjelasan Leon, kini Ailin paham dengan jalur pembicaraan suaminya itu. "Itu artinya milikmu adalah milikku juga?." tanya gadis itu sambil menatap penuh harap.
__ADS_1
Leon tak menjawab, ia hanya menganggukan kepalanya untuk meng-iya kan pertanyaan Ailin.
Melihat respon sang suami, Ailin ber-hore dalam hati. Akting nya barusan sangat natural dan alami, bakat ratu drama memang melekat kuat dengan dirinya.
Sebenarnya ia tak sakit hati karna dikatai miskin, memang ia miskin, jadi apa yang membuatnya tersinggung. Semua itu hanya ia lakukan untuk melihat seberapa dingin Leon pada istrinya sendiri.
Dengan cepat gadis itu mendekat kearah Leon, kemudian merogoh kantong jas pria itu, mengambil dompet tebal milik sang suami.
"Apa aku bisa memilikinya?." tanya Ailin sambil mengambil black card dari dalam dompet sang suami.
Leon dan dua kariawan yang ada dalam ruangan mengernyitkan dahi mereka beberapa kali. "Tentu." sahut pria itu dengan mimik wajah tak mengerti.
Leon hanya mengangguk. "Tentu, tapi aku punya satu syarat untukmu." ucap pria itu sambil tersenyum menyeringai.
Kemudian tangan-nya terulur meraih pinggang ramping Ailin, menariknya sampai keduanya berada begitu dekat, sampai-sampai mereka bisa merasakan deru nafas satu sama lain.
__ADS_1
Dua wanita yang masih ada disana saling menyenggol satu sama lain. Keadaan-nya begitu canggung. Apa mereka akan bermesraan didepan kami?. pikiran itu berkecambuk dalam hati dua wanita yang masih ada diruangan itu, berdiri tepat didepan bos dan istrinya yang sedang bermesraan.
"Pak boleh kami pergi?." tanya seorang wanita dengan ragu.
Leon menoleh, ia benar-benar lupa dengan dua karyawan-nya yang masih ada disana.
"Tunggu." cegah pria itu.
Leon kemudian mengambil berkas dari atas meja, lalu memberikan-nya pada sang sekertaris yang masih berdiri disana. "Ini tugas terakhir yang akan aku berkan pada kalian." ucap Leon pada dua wanita yang ada didepan-nya.
"Maksudnya pak?." tanya salah satu wanita.
"Aku kira aku telah mempekerjakan orang-orang pintar diperusahaanku, tapi ternyata kalian bodoh sampai tak tahu maksud perkataan simpel yang aku ucapkan."
"Kalian cepat keluar, setelah pekerjaan itu selesai, segera temui Liam." lanjut Leon dengan dingin-nya.
__ADS_1
…
Maaf kalau alur ceritanya agak membingungkan. Ini karna ada kesalahan di chapter sebelumnya, makan-nya mau tidak mau author harus rubah sedikit chapter ini.