
Tak ingin larut dan hanyut dalam sebuah kegelisahan, Ailin bergegas masuk kedalam kamar yang tadi sempat ditunjuk Leon.
Mata gadis itu langsung tertuju pada ranjang dimana putra kecilnya masih tertidur pulas. Dengan pikiran yang tak tenang Ailin menghambur ke kamar mandi, bergegas untuk membersihkan diri.
"Sial kamu bodoh sekali lin, kenapa vas itu bisa kamu sengol, sial!!!, sial!!!" Gadis cantik itu masih terus merutuki kebodohan-nya.
"Mah..." Panggil Zico, mungkin bocah itu terbangun karna mendengarkan dumelan Ailin.
"Iya sayang, mamah dikamar mandi" Sahut Ailin sambil berteriak.
Ailin langsung membersihkan tubuhnya tak ingin membuat Zico menunggu terlalu lama.
Kurang dari sepuluh menit Ailin sudah kembali kedalam kamar. Rambut basahnya tergerai indah, dan tubuh polosnya hanya ia tutupi oleh jubah mandi warna putih bersih.
Matanya langsung tertuju pada sang putra yang masih rebahan diatas kasur. "Sayang yuk mandi dulu, biar mamah mandikan ya" Ujar Ailin sambil meraih tubuh mungil putranya.
__ADS_1
Zico hanya menurut saat ibunya memandikan-nya. Setelah tubuh Zico bersih, Ailin menggulung tubuh polos putranya dengan handuk lalu menggendongnya keatas ranjang untuk dipakaikan baju.
"Dico mau pake baju yang gambalnya mobil" Celoteh bocah kecil itu, Ailin hanya mengangguk-angguk lalu memakaikan pakaian yang diinginkan sang putra.
"Zico main di luar ya, mamah ingin ganti pakaian dulu" Ujar Ailin. Bocah kecil itu mengangguk lalu berlarian menuju pintu dan keluar dari kamar.
Ailin kembali terduduk diujung ranjang. Tangan-nya ia gunakan untuk menopang kepala yang terasa sangat berat. Bagaimana nasipnya sekarang?.
Setelah lama merenung, Ailin meraih tasnya untuk mengambil pakaian ganti, "Ke mana bajuku" gumamnya pelan saat tidak mendapati satupun pakaian-nya dalam tas itu.
Ailin mondar-mandir ditepi ranjang, Apa aku harus keluar dan mengambilnya?, em... tidak-tidak, kalau aku keluar seperti ini mungkin si tuan batu itu akan mengira kalau aku sudah memberi lampu hijau, Ailin kini hanya bisa gigit jari karna gugup dan hawatir.
Hingga matanya menangkap sebuah lemari besar disudut ruangan, Ailin bergegas mendekati lemari itu berharap kalau didalamnya ada selembar pakaian yang bisa ia pakai.
Saat lemari besar itu dibuka, hanya ada satu kain tipis bergelantungan didalamnya. Ailin meraih kain tipis berenda itu. Matanya terbelalak saat tahu apa yang sedang ia pegang.
__ADS_1
Sebuah lingeri warna hitam dengan kain tipis berenda. Banyak terdapat tali menghiasi baju hina itu. Pakaian minim ahlak yang biasa digunakan para wanita ****** tergelantung di mansion pria dingin?. Ailin tertawa jahil saat membayangkan apa yang dilakukan Leon pada lingeri itu.
"Apa aku harus pakai ini?, mungkin hanya mencoba tidak akan apa-apa kan?" Gumamnya pelan.
Setelah baju hina itu melekat ditubuh indahnya, Ailin beralih menatap pantulan dirinya dicermin. "Bagus juga, gak nyangka kalau baju kurang bahan kaya gini bagus banget" gumamnya masih berputar-putar melihat penampilan depan, belakang dan samping nya.
Lingeri sepaha itu tidak terlalu mengangkang, hanya saja bagian punggung dan belahan payudara nampak terbuka jelas. "Kalau aku keluar seperti ini, mungkin tuan batu akan mengira kalau aku ini wanita penggoda" ujar Ailin.
Dan sebuah ide brilian tiba-tiba muncul dibenaknya, Gadis kecil itu meraih jubah wandi yang ada diatas ranjang. "Kamu memang pintar lin, dengan begini punggungmu gak akan keliatan" Lanjut Ailin sambil tersenyum puas.
Dengan sedikit ragu Ailin keluar dari dalam kamar, matanya menyisir sekeliling. Tak ada seorangpun disana.
Gadis itu terus berjalan pelan menuju dapur, tenggorokan-nya terasa sangat kering. Beruntung penampakan pria batu itu tak juga muncul.
Ailin akhirnya bisa bernafas lega setelah satu gelas penuh air dingin ia tenggak habis.
__ADS_1