
Tak terasa hari mulai berganti senja, langit nampak mulai menghitam, menandakan malam yang panjang akan segera tiba.
Kini Ailin nampak sedang menimang bocah empat tahun-nya. Karna tadi siang terlalu lama bernang, Zico akhirnya terserang flu dan sedikit demam.
Walaupun flu termasuk penyakit ringan, namun sebagai seorang ibu muda, Ailin punya kekhawatiran lebih.
Apalagi sekarang ia bukan lagi orang tua tunggal. Seharusnya Zico berada penuh dalam pengawasan dan tanggung jawabnya.
"Zico mau apa?." tanya Ailin saat merasakan gerakan tak biasa dari bocah yang sekarang ada dalam gendongan-nya.
Zico hanya menggeleng, wajahnya nampak semakin memucat, ditambah suhu tubuhnya perlahan naik. Mungkin hal itu yang membuat Zico merasa tak nyaman.
Tak lama suara pintu dibuka terdengar. Ailin seketika berbalik, menatap kedatangan sang suami yang terus melangkah kearahnya. Leon nampak sangat khawatir, setelah mendengar kabar bahwa Zico sakit, pria itu segera pulang untuk melihat kondisi putranya.
"Apa demamnya sudah turun?." tanya Leon sambil meraba dahi sang putra.
__ADS_1
Ailin menggeleng dengan mimik gelisah. "Demamnya malah naik." sahut Ailin khawatir, khawatir karna takut Leon memarahinya.
Leon segera mengambil alih sang putra dari gendongan ibunya, walaupun cukup kaku, tapi Leon lihay dalam mengurus Zico.
Leon membaringkan putranya diatas kasur, kemudian bergegas mengambil air kompres untuk menurunkan demam sang putra.
Setelah cukup lama dikompres, akhirnya demam Zico perlahan turun, "Apa perlu kita bawa Zico ke dokter saja?." tanya Ailin, walaupun demam Zico sudah turun, tapi siapa tahu, nanti malam demam Zico bisa saja naik lagi.
Leon menyelimuti tubuh sang putra dengan selimut tipis, kemudian menaruh handuk kompresan dikepala bocah itu lagi. "Untuk sekarang, rasanya tidak perlu, kita tunggu sampai besok, kalau besok pagi Zico masih demam, baru kita bawa kedokter." sahut Leon.
Leon hanya menggumam sebagai sahutan.
…
kurang lebih 30 menit, Ailin masuk kedalam kamar sambil membawa semangkok bubur ditangan-nya. gadis itu perlahan mendekat kearah Leon dan Zico yang sedang tidur diatas ranjang.
__ADS_1
Ailin hanya bisa diam kala melihat ayah dan akan itu tidur sambil berpelukan.
Ada sebuah getaran dihati Ailin, melihat Zico membuatnya mengingat tahun-tahun sulit yang sudah berlalu. Anak orang kaya yang dulu ia bawa hidup sengsara.
Ailin menyimpan semangkok bubur yang ia bawa keatas meja, perlahan gadis itu mendekat kearah Zico, mengelus lembut pucuk kepala bocah yang sedang tertidur pulas dalam dekapan ayahnya.
Teringat saat Zico sakit dulu, Ailin yang sibuk mencari uang hanya bisa menimang bocah kecilnya tanpa merawatnya. Dulu Ailin hidup susah, berpikir membawa Zico kedokter saja ia tak mampu, biaya rumah sakit diluar negri itu tidaklah murah, mana mungkin ailin mampu membayar pengobatan-nya.
Tapi berbeda dengan sekarang, Zico menjadi anak paling beruntung, punya ayah yang sangat sayang dan juga perhatian.
Hidup berkecukupan dan dikelilingi orang-orang yang baik. Ailin sangat bersyukur, hidup putranya tak semalang kehidupan-nya dulu.
Gadis itu mengecup lembut dahi sang puta, kemudian menyelimuti ayah dan anak yang sedang tertidur itu.
Tak lupa lampu kamar ia ganti dengan lampu tidur, agar tidur ayah dan anak itu semakin nyenyak.
__ADS_1