
Rumah itu nampak ramai, beberapa tamu undangan mulai berdatangan.
Ya, hari ini Ailin dan Leon akan meresmikan hubungan keduanya. Mengikat cinta mereka untuk selamanya.
Mungkin banyak dari kalian yang berpikir, memangnya Ailin mencintai Leon?, apa Leon juga mencintai Ailin?. Tentu... segala sesuatu yang dimulai dengan niat baik pasti berakhir dengan bahagia.
Semua berjalan begitu singkat, baru beberapa hari mereka bertemu kini keduanya akan segera melangkah ke jengjang yang lebih tinggi.
Pernikahan, sebuah hubungan sakral yang paling didambakan dalam kehidup. Sebuah peristiwa dimana dua orang bersatu. Keluarga menyatu. Tentu ini hal yang paling membahagiakan.
Namun berbeda dengan Ailin, gadis cantik dengan gaun pengantin warna putihnya itu nampak gelisah, wajah berlapis riasan itu nampak temeram dan hawatir.
"Bodoh...., kenapa kau setuju untuk menikah?, harusnya kau minta uang saja dari pada terikat dengan si pria batu" Racaunya dalam hati. Ailin kini tak mampu berpikir dengan jernih, pikiranya kalut tak mampu mencari cara untuk lepas dari jeratan takdir yang cukup menyiksa.
"Mommy...." Seruan itu cukup kencang, mampu membuat Ailin tersadar dari lamunan dalamnya.
Diliriknya kearah suara, nampak bocah kecil dengan kemeja dan celana bahan selututnya itu berlari kearah Ailin yang masih mematung didepan meja rias.
"Mommy ada yang ingin beltemu denganmu" Ucap Zico sambil naik ke pangkuan ibunya.
__ADS_1
Ailin mengerutkan kening, "Siapa yang ingin bertemu denganku?, bukankah hutangku pada depkolektor sudah lunas?" Batinya sambil mengingat hutang yang dulu dan sudah berlalu.
"Siapa sayang?" Tanya Ailin pada putra kecilnya.
Zico menggeleng pelan, "Entah, Meleka sedang ngoblol dengan deddy, Dico kesini hanya ingin menyampaikan pelintah daddy" Celoteh bocah itu memberi penjelasan.
"Apa itu pak penghulu?, bukan-nya kemarin Liam sudah mengurusnya?" Ailin kembali membatin. Prasangka dan praduga berhamburan dibenaknya.
"Baiklah, ayo sayang kita temui deddy" Ajak Ailin sambil menurunkan Zico dari pangkuan-nya.
Keduanya mulai melangkah, meninggalkan kamar pengantin yang sudah dihias sedemikian rupa. Langkah ibu dan anak itu terhenti didepan papiliun yang tak jauh dari kamar Ailin.
Zico mengangguk semangat lalu berlari meninggalkan Ailin yang masih mematung didepan pintu.
Perlahan tangan gadis itu memutar daun pintu, netranya sekilas mengamati keadaan.
"Tuan apa kau menyuruhku kemari?" Tanya Ailin sambil berjalan pelan masuk kedalam papiliun.
Manik mata gadis itu langsung tertuju pada Leon, nampak juga dua paruh baya yang duduk bersebrangan dengan-nya.
__ADS_1
Ailin menatap dua orang itu lekat. "Ibu... Ayah..." Serunya saat melihat dua orang yang sangat ia rindukan.
Dua paruh baya itu juga nampak berkaca. Putri yang sudah hampir lima tahun menetap dinegara orang dan tak juga kembali kini benar ada dihadapan mereka.
"Lin... sini sayang" Ucap Nirwana. Seorang ayah yang selama ini tinggal berjauhan dengan buah hatinya tentu punya beban begitu besar. Apalagi saat mengetahui putrinya itu sudah bersuami dan memiliki putra. Tentu membuat Nirwana merasa jadi orang paling tak berguna karna tak bisa menemani putrinya disaat terpenting.
"Ayah..." Seru Ailin lalu berhambut kepelukan sang ayah, nampak Alisa juga ikut memeluk putri yang paling ia cintai. Putri satu-satunya yang paling berharga.
"Ayah... Ibu..., Lin kangen sama kalian" Tutur gadis itu masih setia dalam pelukan hangat orang tua.
"Iya sayang, harusnya dulu ayah tak memaksamu untuk pergi kenegara lain. Ayah menyesal sayang" Tukas Nirwana.
Terlintas dipikiran Nirwana saat dulu saat dimana Ailin baru lulus dari bangku SMA, Nirwana murka karna gadis kecilnya tak mendapatkan nilai memuaskan. Tampa berpikir panjang, Nirwana menyuruh Ailin pergi tampa ingin melihat wajah putrinya itu.
Sesal kini hanya tinggal sisa. Nirwana kini paham, mutiara hatinya tak ada banding dengan selembar kertas ujian.
Kini Nirwana menyesal, tak bisa menemani putrinya membuaka dunianya.
Menemani Ailin remaja bertambah dewasa, menemani putri tunggalnya membuka lembaran baru.
__ADS_1
Nirwana menyesal.