
Aku ingin tertawa dibuatnya, sungguh manis bisa mengerjai Bang Dev seperti ini. Pria yang hanya punya satu pacar dalam hidupnya, cinta pertama yang bertahan hingga lima tahun namun sayang kandas sesaat sebelum pernikahan hingga akulah yang mengisi pelamiman mereka sebagai mempelai wanitanya.
Bang Dev tampak menghela napas panjang karena kesal, namun ia tidak juga bisa marah terlebih kami bicara berbisik-bisik takut ada yang mendengar.
"Aku akan teriak, kita akan ketahuan berdua di sini."
"Kau mengancamku?" Manik mata hitam milik lelaki itu menatapku dengan raut kesal.
Aku tersenyum sambil mengedipkan satu mata menggodanya, jariku menunjuk pipi yang siap dikecup sang suami. Menghembus napas kasar Bang Dev tampak mengalah, ia memajukan bibirnya ingin mengecup pipiku namun ku ambil kesempatan hingga bukan pipi melainkan bibir bertemu bibir.
Cup.
Kecupan singkat, namun bermakna bagiku bahwa aku berhasil mendapatkan ciuman bibir oleh suamiku sendiri, aku sangat bahagia ingin tertawa juga dalam hati ketika melirik wajah Bang Dev yang tampak berbeda setelahnya.
Aku tahu, pria itu cukup terkejut melihatku yang terlalu nekad dan berani seperti ini.
Aku segera keluar dari toilet yang pengap itu tanpa menoleh lagi.
Beruntung masih sepi, tidak ada orang di sana.
*****
Hari-hari berlalu begitu saja, Bang Dev terkesan menghindar sejak aku mendapatkan ciuman bibirnya ketika di kampus tempo hari.
Malam ini di apartemen.
Aku menatap meja kerja Bang Dev yang terletak di sudut perpustakaan mini. Aku sedang membaca buku mencari referensi untuk tugas kuliahku, tanpa sengaja aku tertarik mendekati meja kerja suamiku tempat mengoreksi tugas-tugas dari mahasiswanya.
Belum pernah aku melihat dari dekat, karena penasaran aku mendekatinya. Aku duduk di kursi Bang Dev.
Tepat di depan mataku, sebuah figura kecil menjadi penghias meja, aku menelan ludah saat menyadari gambar Nika dan Bang Dev yang saling merangkul sambil memperlihatkan cincin pertunangan mereka.
Sebuah foto yang diabadikan pada momen pertunangan mereka beberapa waktu lalu. Deg, dadaku berdegup serta merasa nyeri yang cukup membuat airmata ku menggenang.
Aku seharusnya sadar, Bang Dev begitu mencintai Nika. Lalu kenapa aku repot-repot berharap sedang aku tahu siapa pemilik hati suamiku itu.
__ADS_1
Aku terpaku, terdiam dalam kebisuan ruangan yang begitu hening. Siapalah aku ini berani mencintai pria sempurna dari segala segi kehidupan. Pria tampan dengan karir cemerlang, berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya, putra seorang Gubernur pula, tentu tidak sembarang bisa mendapatkan lelaki ini.
Pantaskah aku lanjutkan perasaanku? Pertanyaan seperti ini kerap menghantui beberapa malam terakhir, terlebih saat Bang Dev terlihat dingin dan menghindari ku seolah jawaban telak bahwa ia menolak perasaanku.
Krekkk, bunyi pintu terbuka. Aku terbelalak saat Bang Dev masuk tanpa berkata-kata.
Aku segera berdiri.
"Maafkan aku Bang Dev, aku tidak bermaksud....." ucapanku menggantung saat Bang Dev menarik tanganku untuk menjauh dari meja kerjanya.
"Maaf, apa kau marah? Aku sama sekali tidak menyentuh apapun, aku hanya duduk saja percayalah?" Aku memelas saat melihat ekspresi dingin wajahnya.
Bang Dev menatapku, demi apa lelaki itu tersenyum meski tipis.
"Ini sudah malam, tidurlah."
Suara Bang Dev menyadarkan ku bahwa betapa aku jatuh cinta pada pria ini. Sungguh.
"Aku tidak mengantuk."
"Kau ada tugas?"
"Sudah selesai, aku sengaja menunggumu pulang," jawabku jujur.
"Jangan menyakiti dirimu sendiri Kayla, aku tidak pantas kau tunggu, sedang aku menunggu wanita lain," sahutnya pelan sambil menatap figura berisi foto Nika.
Aku tertunduk lesu mendengarnya, tidak langsung ku jawab, aku mengambil napas dalam berulang kali guna menetralisir rasa nyeri yang tercipta.
Ku raih wajahnya, ku pegang rahang kokohnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu dengan tatapan serius.
"Aku mencintaimu Bang Dev, kau masih mengharapkan Nika atau tidak, aku tidak peduli. Kau suamiku, sebelum kontrak ini berakhir kau milikku..... Kita menikah sah secara agama maupun negara, aku tidak menyerah begitu saja. Selagi kita terikat pernikahan aku akan mendapatkan hati suamiku ini."
Kami saling menatap cukup lama, mata bertemu mata. Bang Dev tidak menghindar sama sekali.
"Aku mencintaimu, kau dengar itu? Aku akan membuka hatimu, aku akan mengobati luka yang Nika ciptakan. Aku bukan perempuan lemah dalam hal berharap, kau suamiku Bang Dev. Tidak ada istilah kontrak dalam pernikahan yang sah di mata Tuhan."
__ADS_1
Bang Dev bungkam, aku menempelkan bibirku ke bibirnya yang terdiam tanpa kata-kata. Aku yakin, pria ini sudah mulai jinak, tidak ada pria yang benar-benar setia jika dihadapkan dengan wanita cantik seperti ku.
Terbukti, meski aku mengejarnya meski ia terus menghindar namun satu hal jika sudah ku cium, dia diam juga. Tidak menolak meski tidak juga membalas.
Ku elus lembut rahangnya, matanya tidak beralih dari wajahku.
"Selamat malam, aku akan tidur dengan tenang karena suamiku sudah pulang. Aku mencintaimu Bang Dev, aku harap kau mau memberi sedikit harapan dalam cinta sendirian ini."
Ku raih tangannya, ku kecup telapak tangan pria itu dengan lembut, lalu ku taruh ke pipiku dengan manja, lagi-lagi Bang Dev terdiam tanpa bisa menolak.
"Aku akan ke kamar."
Kata terakhir yang ku ucapkan malam ini, meninggalkan Bang Dev yang mematung berdiri tanpa ku tahu apa isi hatinya saat ini, tergodakah dia padaku? Aku rasa dia hanya malu untuk mengakuinya.
Kami suami istri, tinggal satu atap. Akan selalu ada cinta dalam setiap pernikahan, aku yakin sekali itu. Hanya saja sekarang belum waktunya saling mengakui.
"Kayla," panggil Bang Dev, aku terkejut mendengarnya beruntung aku belum mencapai pintu.
"Iya? Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanyaku lagi seraya mendekat.
"Selamat tidur," ucapnya ambigu.
Aku tersenyum, ku kecup lagi bibirnya yang menggemaskan itu.
"Malu-malu kucing apa malu-malu tapi mau? Mengaku saja? Kita dua orang dewasa tinggal di sini hampir satu bulan, tidakkah kau berhasrat padaku?" Aku menggodanya sambil menggigit bibir bawahku dengan gemas.
Bang Dev tampak merah.
"Kayla jangan bercanda!"
"Baiklah, jika bukan malam ini mungkin malam besok atau lusa. Aku akan sabar menunggu jawaban cinta darimu."
"Maafkan aku."
"Baiklah, aku akan keluar sekarang. Malam sudah larut, dingin mulai menyapa. Ingatlah jika kau butuh kehangatan, aku masih setia menunggumu di ranjang kamar kita, jangan tidur di sofa terus nanti punggung mu bisa sakit."
__ADS_1
Aku terkekeh melihat wajah menggemaskan yang kian terdiam itu. Senyum tipis menghiasi wajahnya, aku bahagia dalam hati bahwa aku percaya Bang Dev akan takluk padaku juga nanti.