
Aku langkahkan kaki secepat mungkin saat ku lihat jam di pergelangan tangan ku sudah menunjukkan bahwa lima belas menit lagi kuliahku akan dimulai.
Beruntung saat mencapai jalan raya ku lihat bis kota ada yang lewat, aku segera naik dengan banyak buku di tanganku karena nanti akan ada diskusi kelompok dan akan dipresentasikan ke depan kelas.
"Ah....."
Aku tersungkur yang membuat semua buku pegangan ku terlepas dan berserakan, semua penumpang menatapku aneh, ada yang tertawa seraya mengejek.
"Oh sial, lututku," ku lihat lututku cukup lecet karena hal ini.
Ku bersihkan tanganku dari debu, ku pungut semua buku namun ada satu lelaki yang ikut berjongkok dan menolong ku saat itu.
"Lain kali berhati-hatilah, jangan terburu-buru." Aku menatapnya lama, mataku terbelalak.
"Kak Zian?"
Pria itu tersenyum. Demi apa Presiden BEM kampusku sekarang berhadapan langsung dan bersedia menolongku hari ini.
Kakak tingkat yang terkenal akan ketampanan dan kepintarannya ini sungguh berada di depan mataku, siapa yang tidak mengenal beliau ini.
Aku tahu kak Zian orang kaya, tampan dan menjadi idola di kampus tapi aku tidak menyangka dia bisa naik bis hari ini dan menolongku disaat semua orang ingin tertawa oleh kecerobohan ku.
Lelaki ini pantas untuk menjadi pemimpin sebuah organisasi.
"Aku ada plester, apa kau mau?"
Aku mengangguk saja, dengan perasaan campur aduk atas kejadian pagi ini. Benar saja lelaki ini tidak memberikan plester itu di tanganku namun ia memakaikannya langsung ke lututku yang terluka sedikit setelah ia mencarinya di dalam tas.
"Mimpi apa aku semalam."
"Kau mengatakan sesuatu?"
Kak Zian bertanya, aku langsung menggeleng dan segera merutuki ucapanku tadi.
"Ayo berdirilah, kau bisa duduk di sampingku." Lagi-lagi aku terkejut atas tawaran itu, aku tentu tidak akan menyiakan kesempatan ini bukan, siapa yang tidak ingin sebangku duduk bersama dengan idola kampus, aku akan pamer pada Rania dan Susan nanti pasti mereka akan histeris mendengar ceritaku.
__ADS_1
Aku mangangguk dan ikut duduk di sampingnya, siapa sangka di kampus ia menjadi idola dan cukup di segani karena predikatnya sebagai presiden BEM yang berwibawa dan mampu mensejajarkan diri dengan BEM kampus ternama lainnya, namun aku menemukan hal lain hari ini ternyata pria ini sungguh ramah dan pandai bicara pada siapa saja.
Kami mengobrol sepanjang perjalanan menuju kampus.
Bis menurunkan ku dan Kak Zian tepat di depan gedung, kami menyeberang jalan berbarengan. Dia juga membantuku membawakan beberapa buku.
"Kau sungguh baik Kak Zian, pantas menjadi teladan bagi mahasiswa lain terimakasih banyak atas bantuan mu tadi."
"Jangan sungkan Kayla, aku senang menolongmu," jawab pria itu tersenyum manis seraya memberikan buku-buku ku tadi
.
Aku sekali lagi ingin tenggelam rasanya, betapa tidak sejak tadi mengobrol bahkan aku sama sekali tidak mengenalkan diri.
"Kak Zian mengenalku?"
"Siapa yang tidak mengenal dua Kayla yang menjadi pemanis FKIP, cantik dan ceroboh dan satunya cantik yang kaya raya yang tempo hari menikah bukan? Aku rasa aku tahu kau Kayla yang mana hari ini," jawabnya terkekeh.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Kak Zian, aku dan Nika cukup dikenal oleh dua hal. Aku Kayla yang ceroboh, Nika adalah Kayla yang kaya raya. Aku benar-benar malu sekarang.
"Ayo akan ku bantu kau sampai kelas, jika kau berat membawa buku sebanyak ini," tawarnya lagi membuat aku mengangguk dengan cepat.
Namun baru beberapa langkah, aku cukup gugup dengan siapa kami tidak sengaja berhadapan.
"Bang Dev? Ah maksudku Pak Dev." Aku menunduk hormat saat tahu bahwa Bang Dev yang tengah ingin melewati kami. Kak Zian pun menunduk hormat setelah aku.
Bang Dev tampak menatapku penuh arti matanya melihat ke arah dress ku yang tampak kotor di bawahnya, pria itu mengangguk lalu melanjutkan jalannya melewati kami yang mana membuat jantungku kembali gusar saat aroma parfumnya tercium oleh penghiduku.
"Kau mengenalnya?"
Suara kak Zian membuyarkan tatapanku yang tertuju punggung Bang Devan.
"Iya, dia baru pindah mengajar di sini. Dia suami dari Nikayla," ucapku begitu saja, karena memang kenyataannya seperti itu, Nikayla yang dikira menjadi istri Bang Dev, padahal aku.
"Oh benarkah? Enak sekali ya satu kampus dengan istri sendiri, pengantin baru lagi.... Aku turut senang untuk temanmu, aku mendapat undangan dari orangtuanya tapi sayang aku tidak bisa hadir tempo hari."
__ADS_1
Aku tersenyum canggung dan mengangguk saja.
"Terimakasih banyak atas kebaikanmu Kak Zian."
Dan kami berpisah, aku akan ke kelasku dan Kak Zian ke kelasnya.
"Kayla."
Aku menoleh pada dua sahabatku yang melambaikan tangan memanggilku dari arah kelas, aku mengangguk dan segera menghampiri mereka.
"Hallo pengantin baru," goda Rania yang sudah cekikikan.
"Tutup mulut mu, Bang Dev tidak boleh ada yang tahu tentang kemarin," jawabku memajukan bibir kesal.
"Iya iya, kita juga sudah diingatkan oleh Ibunya Bang Dev agar merahasiakan tentang pernikahan kalian, tenang saja lagi pula tidak ada orang di sini." Susan menjawabnya tertawa.
"Apa kalian melewati malam pertama? ayo cerita, aku yakin mana bisa tahan iman jika lelaki sekamar dengan perempuan," sambung Rania lagi.
"Kenapa kalian tertawa? Apa kalian suka melihatku seperti ini? Jahat sekali."
"Jangan marah sayangku, kami hanya bercanda," ucap Susan sambil mengusap pipiku dengan gemas.
"Tidak ada malam pertama, kalian tahu itu... Bang Dev tidur di sofa sedang aku tidur di ranjang, tidak ada yang terjadi semuanya biasa saja seperti rencana kami hanya suami istri kontrak saja," jawabku enteng.
"Huh, aku tidak yakin itu akan bertahan lama, entah kau atau Bang Dev yang tergoda duluan nantinya, kau bisa buktikan ucapanku ini, kau dan Bang Dev sudah dewasa Kayla, aku yakin kalian akan saling menyukai nantinya meski ini kontrak sekalipun," imbuh Rania.
"Memangnya kau tahan iman bertemu pria tampan setiap hari tapi tidak bisa kau apa-apakan? Aduh sayang sekali jika Bang Dev kau anggurkan, begitupun sebaliknya aku yakin Bang Dev pria normal yang pasti tidak akan tahan jika harus melihat wanita secantik ini di kamarnya."
Aku terdiam mendengar Susan pidato pagi ini. Mereka tertawa menggoda.
"Lagi pula kalian menikah secara sah, untuk apa mengingat Nika yang sudah menghianati Bang Dev, ayo ambil hati suamimu, Bang Dev milikmu sekarang, lupakan Nika yang tidak tahu malu itu," Rania menimpali.
"Hei dia sahabat kita," tukas ku lagi.
Rania menutup mulutnya rapat lalu berkata, "Jika dia sahabat, tentu tidak akan seperti ini setidaknya beri kabar ke kita tentang apa yang terjadi sebenarnya bukan menghilang, semua masalah ada jalan keluarnya bukan? Kenapa harus kabur? Sekarang kau yang jadi korbannya."
__ADS_1
Aku kembali terdiam.