
"Apa?" Kayla membesarkan mata saat mendengar lawan bicaranya di telepon.
Ia terduduk lesu, bagaimana ia bisa menjelaskan pada Mamanya nanti soal kios yang mereka beli untuk membuka usaha toko kue ternyata masih bersengketa dengan tuan tanah.
Uangnya sudah habis untuk membeli kios dengan harapan akan membuka toko kue bersama ibunya untuk bertahan hidup di kota.
Jika sudah ditipu seperti ini kemana ia akan menuntut, sebab bukan hanya Kayla yang menjadi korban, ada banyak yang bernasib sama dengannya yang membeli bangunan di atas tanah di kawasan yang sama.
Kayla terdiam merenung memikirkan uang yang tertinggal di rekening hanya untuk modal usaha saja, itupun jika untuk makan hanya bertahan beberapa bulan saja.
Ia harus mencari pekerjaan pikir Kayla, harus jika tidak ingin uangnya habis hanya untuk makan.
Tanpa disadari waktu berlalu begitu cepat, Kayla yang memulai hidup baru dengan Mamanya di satu daerah pemekaran salah satu kecamatan Kota tempat mereka tinggal saat ini.
Kayla bekerja sebagai tukang payet kebaya pengantin di salah satu rumah jahit kebaya ternama milik majikan ibunya yang bekerja sebagai pengasuh seorang anak balita lelaki cucu dari sang tuan rumah.
Dua bulan pasca cerai dengan Dev, Kayla dan Mama Hana mulai menata hidup baru di tempat yang baru.
Namun akhir-akhir ini Kayla baru merasakan ada perbedaan pada tubuhnya.
Mama Hana masuk ke kamar, ia mengira Kayla bangun kesiangan. Saat masuk ia melihat putrinya tengah terpaku duduk di tempat tidur dengan air mata yang mulai deras.
"Sayang ada apa?" tanya Mama Hana yang perlahan mendekat lalu mengangkat wajah Kayla yang tertunduk lesu.
"Aku hamil Ma," jawab Kayla langsung memeluk ibunya dengan sebuah tangis yang mulai pecah.
"Apa?" Mama Hana tidak bisa menyembunyikan keterkejutan nya.
"Aku baru menyadarinya, aku baru ingat jika sudah tiga bulan tidak menstruasi. Aku baru saja melakukan tes kehamilan dan benar hasilnya positif."
__ADS_1
Kayla menunjukkan hasil tes pack pada ibunya yang masih tidak percaya, sebab Kayla tidak menunjukkan adanya ciri-ciri kehamilan setelah berpisah dari Dev.
Mama Hana menerima dan melihat jelas alat uji itu.
"Kau tidak ber kb saat bersama Nak Dev?"
Kayla menggeleng.
"Kau tahu pernikahan mu hanya sebuah kontrak?"
Kayla mengangguk.
"Lalu kenapa ini bisa terjadi? Seharusnya kau antisipasi Kayla," ucap Mama Hana frustasi.
"Aku tidak memikirkan ke arah ini Ma, aku bahkan lupa dengan jadwal datang bulan ku. Sampai aku merasa ada yang berbeda dari tubuhku, aku merasa terlalu berselera makan akhir-akhir ini, berat badanku juga naik drastis. Saat teringat sudah lama tidak datang bulan makanya aku periksa."
"Kau tidak merasa mual atau pernah muntah sebelum ini?" tanya Mama Hana yang kehilangan kata-kata.
Mama Hana menghembuskan napas kasar.
"Kita harus bicara dengan Nak Dev tentang ini, dia harus bertanggung jawab."
Kayla menggeleng, air matanya menetes lagi.
"Anak mu butuh ayahnya, ayolah Kayla? Mama yakin Nak Dev akan menerima mu kembali, menjadi orangtua tinggal itu tidak mudah apalagi kehidupan sekarang. Dev harus tahu hal ini."
Kayla menggeleng lagi.
"Tidak Ma, aku rasa anak ini tidak punya tempat di keluarga mereka. Aku harus tahu diri, lagi pula Bang Dev mungkin saja sudah menikah dengan Nika, aku tidak bisa menggunakan kehamilan ku untuk kembali padanya. Aku tidak mau berhadapan dengan orangtuanya lagi. Aku tidak berani."
__ADS_1
Kayla menggenggam tangan ibunya seraya meyakinkan.
Mereka berpelukan, sungguh nyeri jantung Mama Hana memikirkan arah nasib cucunya nanti yang hanya bisa dibesarkan oleh orangtua tunggal. Ia merasakan sendiri betapa tidak enaknya hidup tanpa suami dalam membesarkan anak.
Terlebih di tengah ekonomi yang serba sulit saat ini, ia dan Kayla hanya perempuan lemah yang bertahan hidup demi masa depan yang lebih baik.
"Baiklah, percaya pada Mama bahwa kita akan baik-baik saja apapun yang terjadi. Jangan stress, bayimu akan ikut stress. Mama akan jadi nenek di usia yang masih muda, huh itu pasti menyenangkan," hibur Mama Hana sambil memegang perut Kayla.
Kayla terkekeh, ia mengangguk sambil menghapus air matanya. Perlahan mereka sama-sama menerbitkan sebuah senyuman tanda ingin berdamai dengan keadaan.
*******
Kayla Khanzaniah, seorang janda muda yang cantik jelita, berpenampilan apa adanya. Mengakui sudah bercerai dan sedang hamil saat ini pada bosnya agar tidak disangka yang tidak-tidak nantinya.
Beruntung bos tempat Kayla bekerja adalah majikan ibunya sendiri, hingga ia mudah diterima dengan baik.
"Kay, kemari lah!" ajak sang bos yang merupakan seorang wanita pengusaha sekaligus desainer kebaya pengantin yang suaminya berkarir di bidang politik. Pasangan ini hanya memiliki anak tunggal yang baru saja ditinggal istrinya yang berselingkuh.
Punya satu cucu yang kini berumur satu tahun, anak lelaki itu diasuh oleh Mama Hana yang bekerja di rumah mereka karena hak asuh anak itu jatuh pada putra majikan nya yang kini resmi menjadi duda.
"Iya Nyonya," sahut Kayla yang segera mendekat.
"Ini gajimu mu, dan ini sebagai bonus karena kerja mu sangat rapi dan cekatan. Uang ini bisa kau pergunakan untuk periksa ke dokter, aku lihat perutmu mulai membesar, aku rasa kehamilan mu sudah lebih dari tiga bulan dan kau belum sekali pun periksa ke dokter."
Kayla tertegun, ia sama sekali tidak menyangka bosnya perhatian pada anak buah yang baru bekerja dua bulan di rumah jahit itu. Memang benar, Kayla kagum pada Nyonya Aulia yang ramah pada setiap karyawannya yang bekerja.
Kayla tersenyum lalu mengangguk, ia sangat berterimakasih pada Nyonya Aulia yang masih mau menerima bekerja padahal ia belum punya pengalaman dalam bidang ini.
Berkat tekad dan keuletan Kayla dalam belajar hingga ia bisa bekerja dengan baik sejak di sana, itulah penilaian Nyonya Aulia pada Kayla yang pantang menyerah dalam belajar meski memasang payet kebaya pengantin tidaklah mudah.
__ADS_1
"Dan jangan lupa siapkan kebaya pengantin yang kemarin selesai kau payet di manekin ya, nanti calon pengantinnya mau fitting siang ini, habis itu kau boleh pulang dan ke dokter oke?"
Kayla mengangguk lagi, "Baik Nyonya, akan ku siapkan."