Cinta Seorang Pengganti

Cinta Seorang Pengganti
Ayo antar aku pulang.


__ADS_3

Semuanya berjalan normal antara Dev dan Kayla saat di apartemen, tidak ada sikap yang mencurigakan. Kayla tidak mengungkit apapun tentang yang ia ketahui dari informasi Nikayla.


Pun Dev, pria itu sama sekali tidak menyinggung bahkan apapun tentang Nikayla meski ia sudah mengetahui semuanya.


Sampai pada suatu hari, di kampus pada saat jam mengajar tidak sengaja Kayla yang sedang berjalan dari toilet mendapati suaminya tengah menuju mobil.


Ia mengernyit heran, hendak kemana suaminya pergi sedang ia tahu jadwal Dev mengajar kelas lain sekarang. Tidak biasanya pria itu pergi saat jam mengajar di kampus.


Dev tipe dosen yang disiplin dalam mengajar, jika bukan hal penting tidak mungkin ia meninggalkan kelasnya saat ini pikir Kayla.


Bukan Kayla jika harus menahan penasaran. Ia merogoh ponselnya dari saku kemejanya, perempuan yang memakai pita merah pada rambutnya yang dikuncir itu menghubungi Dev segera.


Ia mengirim pesan namun tidak langsung dibalas oleh Dev.


"Ah, kenapa aku jadi seperti ini?" gumam Kayla merasa kesal sendiri merasa telah mencurigai suaminya sendiri.


Namun hatinya tetap berkata lain, memang benar sejak tahu informasi Nika tempo hari membuat Kayla menjadi gusar sendiri jika berjauhan dengan Dev.


"Ya Tuhan, kenapa jadi buruk sangka seperti ini? Mungkin Bang Dev ada urusan mendadak dan bisa saja itu penting misalnya?" gumam Kayla pada dirinya sendiri.


Ia menghembus napas kasar, mencoba bernapas dalam beberapa kali dan menjernihkan pikiran sebelum kembali ke kelas.


Namun hingga jam kuliah berakhir, sudah saatnya pulang tetapi tidak juga menunjukkan tanda-tanda Dev kembali ke kampus. Pesan yang dikirim Kayla pun hingga sekarang belum juga dibalas.


Kayla mencoba berpikir positif, tidak ada tanda-tanda suaminya akan menjemput padahal tahu jam Kayla pulang kuliah.


Perempuan ini mengangguk saat mendapat tawaran dari Susan yang ingin mengantarnya pulang.


Di dalam mobil, Kayla sibuk dengan pikirannya sendiri hingga kurang fokus pada ocehan sahabatnya yang mengajaknya mengobrol sejak tadi.


Sampai pada di persimpangan lampu merah, ia melihat mobil suaminya tengah menunggu lampu hijau.


"Itu mobil Bang Dev?" gumam Susan lebih dulu.


Kayla mengangguk. Wajahnya yang semula lesu mendadak cerah saat tahu mobil Dev tengah berada di depan mereka.


"Tunggu, biar ku hubungi," kata Kayla segera menggeser layar ponselnya untuk memanggil sang suami.


Nihil, tidak ada jawaban meski nomor yang dituju masih dalam keadaan aktif.

__ADS_1


"Tidak diangkat?" tanya Susan.


Kayla menggeleng, "Kemana Bang Dev, apa perlu kita ikuti?" saran Susan lagi.


Kayla tersenyum, "Ide bagus, meski terkesan memata-matai namun aku juga penasaran kenapa dia menghilang sejak siang tadi," sahut Kayla.


"Baiklah Nyonya, ayo kita lihat kemana suamimu pergi!" ucap Susan sambil melajukan lagi kendaraannya yang perlahan mengikuti alur lampu hijau dan mulai mengikuti kemana mobil suami sahabatnya pergi.


Kayla dan Susan saling menoleh saat mobil yang mereka ikuti berbelok ke sebuah komplek elit para pejabat.


"Ini arah rumah Nika!" gumam Susan tidak percaya.


Pun Kayla, hatinya sudah merasa aneh sejak mengikuti Dev tadi, terlebih sekarang mobil Dev ternyata masuk komplek rumah Nika berada.


Deg, jantung Kayla mendadak berat dalam memompa darah ke seluruh organ tubuh yang membutuhkan, hingga paru-parunya terasa sesak untuk bernapas, otaknya mendadak buntu untuk berpikir.


Benar sekali, mereka mendapati mobil Dev yang mulai memasuki pagar besar nan tinggi rumah paling mewah di antara rumah yang lain. Yang mereka tahu itu adalah rumah Nikayla.


Susan dan Kayla saling menoleh lagi seolah berpikir yang sama.


"Nikayla?" ucap Susan dan Kayla bersamaan.


Mobil Dev berhenti, pria itu turun disusul seorang pria lainnya, tidak lain tidak bukan kakak lelaki dari Nikayla, seorang politikus ternama di kota mereka.


Susan dan Kayla yang memantau dari luar pagar pun hanya terdiam, cukup terkejut atas apa yang mereka temui sore ini.


"Kayla, apa Bang Dev tahu tentang Nikayla? Apa teman kita yang menyebalkan itu sudah pulang?"


Kayla hanya diam.


"Aku tidak tahu," jawab Kayla lesu, sungguh ia tidak menyangka akan seperti ini, kenapa dadanya nyeri sekali.


Terlebih saat mata berairnya menatap satu mobil lain yang juga ia kenal, mobil mertuanya juga ikut hadir di halaman rumah Nikayla.


Mungkinkah Dev dan orangtuanya berkunjung untuk menjenguk Nika yang telah kembali seperti yang dikatakan Deni tempo hari jika Nika akan kembali ke tanah air dalam waktu dekat. Lalu kenapa Dev tidak mengatakan apapun padanya sama sekali.


"Kayla?"


"Kayla!" Susan memegang bahu sahabatnya yang masih terpaku di tempat.

__ADS_1


"Ayo kita pulang!" seru Kayla dengan nada rendah, ia menunduk menatap ponselnya yang belum mendapat respons dari sang suami.


"Ck, aku tidak suka ini! Mana Kayla yang agresif? Ayo aku akan menemani mu masuk, kita lihat kebenaran Nika, kenapa Bang Dev kemari?"


Kayla menggeleng lesu. "Bisakah kau antar aku pulang?"


Susan terdiam, ia menelan ludah ia tahu Kayla tengah terluka saat ini.


"Yakin tidak ingin memergoki suamimu menjenguk mantan yang tidak tahu diri itu?" ucap Susan kesal.


Lagi Kayla menggeleng, ia menatap ke luar jendela.


"Kayla."


"Bang Dev bersama orangtuanya."


"Apa?" Susan terkejut, ia melihat lagi ke halaman rumah Nika.


"Ayo pulang!"


"Kayla, jujur padaku apa Bang Dev mengatakan sesuatu tentang Nika?"


"Yang pasti, Bang Dev tidak melupakan Nika sedikitpun. Dia terus mencari informasi Nika di belakang ku meski sudah menerima ku sebagai istrinya sekalipun," jawab Kayla pelan.


"Oh God, aku tidak percaya ini, dan kau diam saja?"


"Nika sakit, bukan hamil seperti gosip," jawab Kayla lagi.


"Apa?" Susan kembali ternganga.


"Kau tahu ini?" tanya Susan kesal.


Kayla mengangguk. Susan mencoba bernapas seperti biasa.


"Kayla?"


"Nanti ku jelaskan, ayo antar aku pulang dulu."


"Huh, aku tidak percaya ini!" gumam Susan geleng kepala sambil menjalankan lagi mobilnya untuk berbelok pulang.

__ADS_1


__ADS_2