
Kayla tidak bisa menunggu Dev pulang lebih lama lagi, ia harus bicara pada suaminya tentang kedatangan mertuanya, ini bukan lagi hal main-main pikir perempuan berwajah cantik itu.
Ia sudah beberapa kali menghubungi suaminya namun nihil, Dev tidak menjawab apapun pada ponselnya.
Tersenyum getir Kayla kembali bergumam, "Apa kau sibuk menjenguk Nika lagi hari ini? Ck....... Aku benar-benar payah," rutuk Kayla yang merasa kesal pada dirinya sendiri.
Pikirannya cukup terganggu oleh bayangan sang mertua yang menyuruhnya pergi tanpa bicara lebih dalam lagi dengan Dev, mengakhiri pernikahan tidak semudah mengakhiri permainan.
Ia harus bicara dengan Dev, harus.
Maka darinya Kayla memutuskan untuk keluar dari apartemen, berniat mencari Dev, Kayla tidak bisa hanya menunggu dan diam di rumah seperti ini.
"Ck, sialan..... Sudah ku duga," ucap Kayla setelah melihat keberadaan suaminya melalui teknologi canggih ponsel jaman sekarang, dimana Dev sedang di kawasan perumahan dan Kayla tahu itu adalah perumahan Nikayla sahabatnya.
Tanpa berpikir lama perempuan itu menyusul ke sana, ia tahu sekarang bahwa Dev benar-benar dalam pengaruh orangtuanya yang tentu ingin pria itu kembali pada Nikayla.
Kayla terdiam sesaat saat taksi online yang membawanya ke depan rumah besar Nikayla, benar saja ia melihat mobil suaminya berada di halaman.
Nyeri dadanya benar-benar nyata, ia tahu sekali bahwa ini memang akan terjadi cepat atau lambat. Apa memang seorang pengganti tidak boleh bahagia dalam waktu yang lama? Kecewa, Kayla kecewa atas pemandangan ini.
Bukan Kayla namanya jika tidak nekad, ia turun dari mobil setelah membayar ongkos dengan uang tunai.
Tanpa berpikir panjang ia pun menghilangkan rasa malu untuk bertamu ke rumah Nika demi menemui suaminya.
"Terimakasih Bi," sahut Kayla setelah dipersilakan masuk oleh pelayan rumah itu.
Perlahan tapi pasti Kayla melangkah menuju sebuah ruang keluarga dimana sedang berkumpul suami dan orangtua Nika di sana, tidak luput juga gadis yang berwajah cantik yang memberinya posisi pengganti di sisi Dev, Nikayla juga ada di sana duduk di samping suaminya.
Entah apa yang mereka bicarakan, namun suasana hangat terasa dimana orangtua Nika tampak ramah dan bahagia melihat putri mereka kembali bersemangat disaat ada Dev seperti sekarang.
Kayla terdiam di tempat, suaminya belum menyadari keberadaannya saat ini. Raut Dev biasa saja, terdengar mereka bicara tentang politik dan lain sebagainya.
Yang tidak biasa adalah, Nikayla yang perlahan menjatuhkan kepalanya di lengan Dev.
"Kau kenapa?" tanya Dev cepat setelah menangkap raut wajah lain dari mantan tunangannya itu.
"Entahlah, aku merasa pusing Bang Dev." Nika menjawab pelan, membuat orangtuanya segera berdiri dan mendekat dengan raut cemas.
"Nika, sayang kau baik-baik saja?" tanya sang Mama penuh perhatian menghampiri putrinya.
"Aku pusing Ma, aku mau ke kamar saja. Lanjutkan bicara kalian. Aku baik-baik saja," jawab Nika yang berusaha berdiri sendiri dibantu oleh Dev.
Belum juga berdiri dengan sempurna, tubuh Nikayla limbung jika tidak Dev menahannya dengan cepat.
"Nika!" ucap Dev dan orangtua Nika dengan panik.
"Dev, ayo bawa Nika ke kamarnya," perintah Papa Nika yang cemas dengan keadaan anaknya. Dev mengangguk.
Dev segera menggendong Nikayla agar membantu gadis itu ke kamar. Namun ketika hendak melangkah ia menjadi terdiam saat matanya menangkap sosok istrinya yang berdiri tidak jauh dari ruang keluarga.
"Kayla," gumam Dev pelan, ia melirik Nika yang lemas dalam gendongannya lalu melirik lagi sang istri yang juga mendadak lemas di tempatnya berdiri.
Nika mendengar Dev, ia pun menoleh juga orangtuanya.
"Kayla, kau kemari?" ucap Nika lemah.
__ADS_1
"Sebaiknya bawa Nika ke kamar dulu Dev," sela sang Papa tidak sabar.
Dev mengangguk. Kayla pun ikut panik, ia mendekat dan ikut mengantar Nika ke kamar setelah Mama Nika mengulurkan tangan padanya.
Sesampai di kamar, Kayla sibuk menenangkan Nyonya Anita yang sudah menangis karena cemas.
"Ayo panggil dokter," ucap Nyonya Anita pada suaminya.
"Mama jangan berlebihan, aku hanya pusing. Tidak perlu memanggil dokter, aku rasa aku butuh istirahat saja," jawab Nika menolak.
"Bibi tenanglah, Nika akan baik-baik saja." Ucapan Kayla membuat Nyonya Anita menatapnya dengan senyum.
"Bibi rasa Nika terlalu bersemangat saat ada Dev, hingga lupa dia baru saja sembuh dan belum boleh beraktivitas berlebih."
Mendengar itu Kayla menjadi bertambah sesak. Kayla butuh oksigen saat ini.
"Iya Bi, aku senang Nika bisa lebih semangat lagi untuk sembuh. Semua akan baik-baik saja, aku yakin itu," sahut Kayla sambil mengusap lengan Nyonya Anita.
Dev berdiri setelah memastikan posisi Nika berbaring dengan nyaman di ranjangnya.
Ia menatap istrinya dengan wajah lain, ia bahkan tidak bisa bicara lebih banyak.
"Baiklah nak, Bibi dan Paman akan keluar."
Orangtua Nika pamit keluar kamar, Kayla segera mendekati Nika dan duduk di samping gadis itu.
"Nika, kau kenapa? Apa masih pusing?" tanya Kayla memegang tangan sahabatnya yang terasa dingin.
Nika tersenyum sambil melirik Dev yang berdiri dalam keheningan menatap dua perempuan yang berhasil mengisi hatinya, meski kini hanya nama Kayla sang istri menguasai seluruh hidupnya.
Kayla tersenyum, wajah Nika yang seperti ini mana mampu ia patahkan hanya demi keegoisannya memiliki Dev seorang diri.
Tampak sekali Nika berharap pada Dev.
"Bang Dev tidak kemana-mana, dia ada untukmu," kata Kayla dengan senyum yang sama.
Dev menatapnya kesal, pria itu berdecak sambil geleng kepala.
"Kayla, kenapa kau kemari tidak memberitahu?" tanya Nika lagi.
"Ah, aku kemari hanya ingin menjenguk mu. Aku tidak sengaja lewat daerah ini, aku memutuskan untuk mampir sebentar," jawab Kayla gugup.
"Begitukah, aku senang mendengarnya. Aku akan lebih semangat lagi untuk sembuh dan normal lagi berkat kalian, aku bahagia pulang kemari setelah tahu kalian masih perhatian padaku, ternyata aku tidak sendiri."
"Kau tidak pernah sendiri sayang, semua mendukungmu dalam kesembuhan, jadi jangan lari lagi. Terlebih Bang Dev, dia sangat mencemaskanmu, dia mencarimu selama ini."
"Dan kau pulang, semua akan baik-baik saja," lanjut Kayla menggenggam tangan Nika dengan raut penuh arti.
Yang mana membuat Dev pias seketika, ia tidak menyangka Kayla bicara seperti itu pada Nika.
"Benarkah, aku tahu Bang Dev akan setia padaku. Aku jadi malu sendiri oleh ulahku, maafkan aku Kayla yang sudah menempatkan mu dalam posisi seperti ini."
"Oh sayang, aku senang bisa membantu. Lagi pula bayarannya mahal, kau tahu sendiri aku dan Ibuku butuh uang dan aku bahagia dengan uang itu."
"Apa temanku ini berubah matre setelah menikah dengan Bang Dev?" kekeh Nika.
__ADS_1
Kayla tertawa sumbang, ia mengangguk. "Iya, aku hanya memikirkan uang saja, jadi tenang saja aku tidak berniat merebut Bang Dev darimu."
Lagi Dev hanya bisa menatap Kayla dengan tajam. Demi apa pembicaraan antar sahabat itu membuatnya muak.
"Aku terharu, Bang Dev bisa menjaga hatinya meski godaan wanita secantik dirimu di sisinya, waktu empat bulan bukan waktu yang singkat. Aku tahu kau tidak akan merebut Bang Dev, aku senang bisa pulang dengan sembuh. Dan aku bahagia bisa kembali pada Bang Dev," ucap Nika sumringah.
Kayla tersenyum getir mendengarnya, ia melirik suaminya dengan wajah penuh makna.
"Bibi Lolita mengatakan aku harus sedikit bersabar menunggu proses perceraian kalian."
"Apa?" kali ini Dev bersuara, ia terkejut mendengar kata perceraian.
Kayla mengangguk, "Iya sayang, kau akan kembali pada Bang Dev seperti seharusnya Nika.... Tidak akan lama lagi, jadi bersemangatlah sebelum waktu itu, kau harus sembuh dan normal kembali jika ingin menikah dengan Bang Devano mu."
"Terimakasih Kayla, kau sahabat terbaikku."
Nika duduk dan memeluk Kayla dengan senyum terbaiknya.
"Aku akan menunggu di mobil," ucap Dev tiba-tiba, ia keluar tanpa menunggu tanggapan dari dua wanita itu.
Kayla tersenyum, "Kau lihat, aku rasa dia malu mendengar para wanita curhat, pembicaraan ini tentu tidak akan ada habisnya, ini biasa lelaki memang selalu begitu tidak suka ikut campur urusan hati perempuan," ucap Kayla agar Nika tidak merasa tersinggung saat Dev keluar kamarnya.
"Iya kau benar, mungkin Bang Dev salah tingkah saat kita membicarakannya," sahut Nika tertawa.
"Aku akan pulang," pamit Kayla.
"Apa kau masih satu atap dengan Bang Dev?"
"Tidak, aku akan pulang ke rumah orangtua ku. Nyonya Lolita sudah mengurus semuanya, kau akan menemukan kebahagiaan yang memang seharusnya menjadi milikmu Nika, aku akan pulang sekarang."
Kayla ingin berdiri, Nika menahan tangannya.
"Apa kau menyukai Bang Dev?" tanya Nika.
Kayla tersenyum.
"Semua wanita akan menyukai pria sempurna seperti dia."
"Dan kau?"
"Iya, aku menyukai Bang Dev. Dia baik, dia sering memberiku uang lebih dan boleh meminjamkan aku buku untuk mengerjakan tugas."
Nika terkekeh.
"Jadi jangan lari lagi jika tidak dia benar-benar akan ku rebut darimu, semangat dan sembuh agar kau bisa menjemput bahagia yang memang milikmu Nika, aku tahu diri untuk tidak terlena dalam posisi pengganti ini."
"Bang tidak mungkin suka padaku, aku hanya wanita bayaran. Selain uang apalagi yang bisa ku dapatkan darinya, dia milikmu Nika. Akan selalu begitu."
"Lagi pula hanya kau yang pantas menjadi menantu pilihan Pak Gubernur."
"Kau terlalu merendah Kayla, kau cantik. Aku cemburu padamu, empat bulan kau menggantikan aku di samping Bang Dev, aku bahkan tidak percaya jika Bang Dev tidak tergoda padamu."
"Dan kenyataannya, takdir memang berpihak padamu. Cantikku ini bukan apa-apa, kau juga akan menjadi pemenangnya. Kalian pantas bersama."
"Jangan terlalu dipikirkan, aku akan pulang ini sudah mau malam."
__ADS_1
Nika mengangguk, mereka berpelukan sebelum berpisah.