Cinta Seorang Pengganti

Cinta Seorang Pengganti
Lebih baik


__ADS_3

Kayla menunduk malu, ia tidak bisa berkata-kata lebih banyak tentang pernikahannya dengan Dev.


Sungguh ia gugup menghadapi situasi seperti ini, jiwa beraninya hilang entah kemana jika sudah berhadapan dengan gadis lemah lembut seperti Nikayla.


"Aku tahu semuanya," sahut Nika menoleh pada Rania dan Susan.


"Apa kau juga tahu tentang Bang Dev dan Kayla yang sudah....." ucapan Susan menggantung saat mendapat gelengan kepala dari Kayla sebagai tanda untuk tidak bicara terlalu dalam.


"Aku begitu frustasi saat itu, aku malu jika menikah dalam keadaan sakit, jika benar aku harus operasi waktu itu tentu aku tidak lagi menjadi perempuan sempurna untuk Bang Dev, aku hilang akal aku benar-benar tidak bisa menerima kenyataan, aku tidak mau kehilangan satu payudara ku apapun alasannya."


"Aku tidak mau Bang Dev kecewa punya istri yang tidak sempurna, makanya aku lari. Tapi lihatlah, berkat keluargaku aku berhasil bangkit dan berobat tanpa harus operasi," ucap Nikayla tersenyum senang.


"Dan kau Kayla sayang, terimakasih sudah menyelamatkan Bang Dev dari rasa malu hari itu. Perbuatanku salah tapi mengertilah pada saat itu aku tidak berpikir dengan jernih, aku depresi berat."


Kayla mengangguk saja, ia mengusap punggung Nika penuh perhatian.


"Lalu sekarang apa perasaanmu pada Bang Dev yang sudah menikah dengan Kayla?" tanya Rania tidak sabar ingin tahu perasaan Nika pada Dev setelah empat bulan berpisah.


Kayla terkejut, ia melirik Rania dengan tatapan tajam agar Rania bisa menjaga perasaan Nika yang bangkit dari keterpurukan seperti sekarang.


"Aku sudah sembuh Rania, aku tidak akan kehilangan payudaraku lagi, tentu aku mau kembali pada Bang Dev," ucap Nika sumringah.


Demi apa, Kayla seperti disambar petir mendengar pernyataan Nika. Pun Susan dan Dan Rania.


"Apa? Kau mau kembali pada Bang Dev? Nika yang benar saja, Kayla sudah jadi istrinya Bang Dev, kau tahu itu," sanggah Susan.


"Bukankah itu hanya kontrak saja? Iya kan Kayla?"


Kayla mengangguk kaku, ia lupa cara bicara sekarang.


"Hei kenapa kalian tegang begitu, Bibi Lolita susah menjelaskan padaku, Kayla dan Bang Dev hanya sebatas pernikahan kontrak saja, semua akan berakhir dengan baik nantinya, aku senang Kayla bisa melunasi hutang-hutang ibunya karena hal ini."


"Aku tahu Kayla tidak mungkin punya perasaan pada Bang Dev, aku juga tahu seperti apa Bang Dev, dia hanya mencintai ku. Aku yakin itu, tenang Kayla aku tidak akan marah padamu."


Demi apa Kayla benar-benar dibuat bungkam oleh ocehan Nikayla yang sudah tampak cerah sekarang.


"Kayla?" cetus Susan kesal pada Kayla yang diam saja sejak tadi.


"Kau benar sayang, hanya sebuah kontrak tidak lebih. Bang Dev mencintamu, dia selalu mencari mu selama ini, dia masih milikmu Nika. Aku tahu itu," jawab Kayla pelan, hatinya luruh seketika mendengar bahwa Nika masih berharap pada Dev setelah sembuh.


"Tidak begitu, sebenarnya......" sela Rania tidak sabar namun bungkam saat melihat Kayla menatapnya seolah sebuah kode agar ia tidak bicara.


Kayla melirik kedua sahabatnya, ia menggeleng agar Rania dan Susan tidak melanjutkan penjelasan.


"Aku tahu kau tidak akan suka pada pria serius seperti Bang Dev," kekeh Nika sambil menyandarkan kepalanya di bahu Kayla dengan manja.


Kayla hanya bisa tersenyum getir mendengar suara Nika yang perlahan terdengar bersemangat.


Sikap Nika seperti inilah yang membuat Kayla tidak ingin menyakiti gadis itu. Nika sudah menderita karena sakit diusia yang masih muda, tidak pula ia ingin menambah kesakitan itu dengan berterus terang soal hubungannya dengan Dev.


"Apa Bang Dev sudah menjengukmu?" tanya Kayla pura-pura tidak tahu.


"Sudah beberapa kali kemari, tapi sayang aku belum bisa bicara banyak berdua dengannya karena dia sibuk, kemari pun hanya sebentar itu juga bersama orangtuanya."


"Jangan sedih, nanti juga kau akan sering bertemu," ucap Kayla menghibur, membuat Rania dan Susan kesal sendiri.


"Apa Bang Dev bicara sesuatu padamu ketika kemari?" tanya Susan.


Nika menggeleng.


"Lama tidak bertemu cukup membuat kami canggung satu sama lain, tapi itu hanya masalah waktu saja aku percaya Bang Dev menjaga hatinya untukku, untuk sekarang kami belum banyak bicara," jawab Nika sambil menatap Kayla dengan senyum.


Kayla mengalihkan pembicaraan hingga mereka larut dalam percakapan hangat yang lama tidak mereka jumpai.

__ADS_1


Kayla pulang, ternyata Dev sudah lebih dulu berada di apartemen.


"Bang Dev, kau pulang secepat ini?" tanya Kayla heran.


"Aku mencarimu, kenapa ponselmu tidak aktif?" tanya Dev memeluk istrinya.


"Aku, aku....." Kayla kehilangan kata-kata.


"Apa berbelanja membuat wanita lupa suaminya? Mana belanjaanmu?" cecar Dev heran melihat Kayla tidak membawa apa-apa.


"Ah itu tidak jadi, kami hanya makan-makan dan nonton saja."


"Benarkah?"


Kayla mengangguk, "Baiklah. Karena kau sudah pulang jadi ayo kita mandi."


Dev mengangkat tubuh Kayla, hingga perempuan itu terkejut.


"Bang Dev, turunkan aku!"


"Tidak, kau harus mandi. Aku sudah menunggu mu sejak tadi, jadi mandi bersama lebih baik untuk sekarang."


Kayla hanya bisa berdecak, ia tersenyum meski hatinya tidak baik-baik saja saat ini. Mungkin benar, mandi bersama bisa membuat moodnya membaik pikir Kayla, ia mengalungkan tangan di leher Dev seraya mencium pipi suaminya dengan mesra.


"Aku mencintaimu Bang Dev."


"Me too, sayang."


Dev membalas dengan kecupan bibir sebelum mencapai pintu kamar mereka.


Malam harinya, di bawah cahaya temaram.


Kayla dan Dev saling memandang saat menjatuhkan diri ke ranjang setelah menyelesaikan tugas mereka sebagai dosen dan mahasiswa atas tugas-tugas kampus seperti biasa.


"Bang Dev," lirih Kayla pelan dengan nada ragu.


"Apa kau mencintaiku?"


"Tentu saja, kenapa bertanya seperti itu?" kata Dev setelah mengecup hidung istrinya dengan gemas.


"Apa kau tidak ingin jujur padaku?"


"Tentang apa?"


"Tentang hatimu," cetus Kayla mulai berkaca-kaca.


"Kenapa hatiku?"


"Iya, mana tahu hatimu berubah lagi misalnya," ucap Kayla seraya menggigit bibir bawahnya.


"Iya, berubah semakin mencintaimu," sahut Dev enteng disusul kekehan renyah pria itu.


"Aku tidak percaya."


"Belah lah dadaku."


"Ck, gombal," sungut Kayla kesal namun bahagia mendengarnya.


Dev terkekeh lagi, ia mengecup bibir Kayla sekilas, "Kau kenapa?" tanya Dev sambil menyibak anak rambut yang menutupi kening istrinya.


"Bang Dev."


"Bicaralah! Aku tahu kau ingin mengatakan sesuatu."

__ADS_1


"Iya, dan ini soal Nikayla."


Akhirnya setelah gugup dan berpikir lama Kayla ingin jujur soal yang ia tahu tentang Nika pada Dev.


Menarik napas dalam Dev mengangguk.


"Nika sudah pulang," jawab Dev pelan.


"Aku tahu," cetus Kayla yang mulai dag dig dug untuk mendengar penjelasan Dev selanjutnya.


"Dia sakit."


"Aku tahu," sahut Kayla lagi.


"Maaf," ucap Dev pelan.


"Untuk apa?"


"Aku menemuinya beberapa kali tanpa kau ketahui," jawab Dev.


"Bukan masalah besar."


Dev membelai wajah istrinya.


"Apa kau akan kembali padanya?" tanya Kayla tanpa basa basi lagi.


Dev tersenyum tanpa menjawab.


"Apa kau mengizinkan?" goda Dev.


"Bang Dev."


"Jangan terlalu dipikirkan," ucap Dev meraih bibir Kayla dengan serangan bertubi-tubi.


Kayla melepas Dev dengan paksa.


"Bang Dev, aku serius!"


"Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku belum siap untuk berpoligami," kekeh Dev yang mulai menindih tubuh istrinya.


"Bang Dev," rengek Kayla.


Suaminya tidak menghiraukan, ia terus melancarkan serangan bibir pada Kayla yang mulai kewalahan.


"Bang Dev kau mau apa?" Kayla menghentikan tangan Dev yang menyingkap dress tidurnya.


"Apa kau tidak sadar, kita sudah absen tiga hari."


"Huh, kenapa pikiran suami selalu saja mesum," ucap Kayla geleng kepala.


"Jika tidak mesum, bukan lelaki."


Dev terus menciumi leher istrinya.


"Bang Dev, aku serius."


"Tentang apa?"


"Tentang Nika."


"Lebih baik kau mendesah daripada membicarakan orang lain di atas ranjang."


Kayla terkekeh, Dev pandai mengalihkan suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Oh sayang," desis Kayla saat Dev berhasil menyelinap ke dadanya hingga membuatnya membusung sambil mencengkram rambut Dev dengan jari-jari lentiknya.


"Itu lebih baik," kekeh Dev yang semakin menggila di sana.


__ADS_2