Cinta Seorang Pengganti

Cinta Seorang Pengganti
Keputusan Dev


__ADS_3

Benar saja Kayla menghampiri mertuanya yang sedang bicara dengan seorang tamu penting.


Nyonya Lolita menatap Kayla heran saat menantunya itu datang dengan wajah merah padam padanya, ia berdiri dari duduk saat Kayla sudah di hadapannya.


"Kau benar-benar jahat Nyonya!" teriak Kayla marah.


Ayah Dev terkejut mendapat menantunya tiba-tiba marah seperti itu.


"Hei nak, kau kenapa?" tanya Tuan Hanan Sanjaya ikut berdiri.


Kayla tidak menghiraukan kata mertua lelakinya itu, ia fokus pada wajah Mama dari Dev itu dengan dada naik turun.


Dengan santai Nyonya Lolita menyilangkan tangannya di dada.


"Siapa dia?" tanya seorang perempuan sebaya ayah Dev yang menjadi tamu penting mereka hari ini.


"Bukan siapa-siapa," jawab Nyonya Lolita datar.


"Iya, kau boleh tidak menganggap ku siapa-siapa di rumah ini, tapi tidak seperti ini juga Nyonya. Kau tega sekali membiarkan Mama ku menunggu hingga berjam-jam tanpa dibolehkan masuk, apa maksudmu tidak boleh Mama ku menunggu di dalam?" teriak Kayla lagi.


"Tidak masalah kau tidak mengakui ku sebagai menantu, tapi setidaknya hargailah Mama ku yang datang jauh-jauh kemari untuk bertemu dengan baik!!" lanjut Kayla dengan nada lantang.


Tamu penting Tuan Gubernur itu kebingungan atas yang terjadi di hadapan matanya. Pun Papa Dev, ia tidak mengetahui bahwa besannya datang berkunjung untuk Kayla.


"Lolita?" lirih Tuan Hanan heran pada istrinya.


Namun demikian, Nyonya Lolita tetap tenang berdiri dengan wajah datarnya.


"Untuk apa aku meladeni orang seperti kalian!!" seru Nyonya Lolita memandang remeh Kayla yang sedang dalam puncak emosinya.


"Apa?" Kayla tidak menyangka akan mendengar hal demikian dari mulut sang mertua.


"Iya, dan aku tidak perlu menjawab pertanyaan mu!!! Aku tidak berkewajiban untuk menerima Ibumu bukan? Lagi pula siapa Ibumu bagiku? Bukan siapa-siapa yang harus ku hargai sebagai tamu," sela Nyonya Lolita dengan nada enteng pada Kayla yang sudah merasa benar-benar dilecehkan harga dirinya.


Plak. Sebuah tamparan melayang di pipi mulus seorang istri Gubernur di hadapan suami dan tamu pentingnya.


Kayla benar-benar dalam emosi yang tidak baik, ia marah sekali rasanya mendapat perlakuan dan kata-kata tidak pantas dari seorang ibu dari suami yang ia hormati selama ini.


"Kayla!" teriak Mama Hana yang datang menghampiri putrinya, ia menarik Kayla untuk mundur.


Tapi Kayla tidak bergeming, tangan yang semula ia pakai untuk menampar mertuanya itu kini berdiri dengan sebuah telunjuk mengarah pada wajah Ibunda dari Dev itu.


"Kau boleh menginjak harga diriku Nyonya yang terhormat, tapi tidak dengan Mamaku, aku tidak terima ini, kau tidak berperilaku sebagai Nyonya Gubernur yang seharusnya!!!" teriak Kayla marah bukan main.

__ADS_1


Nyonya Lolita memegang pipinya yang terasa panas, namun ia membalas tatapan Kayla dengan raut tenang, senyum miring perlahan muncul dari balik bibirnya yang cukup pedas membungkam Kayla selama ini.


Tuan Hanan terkejut, pun tamu nya beberapa saat lalu, tidak ada yang menyangka bahwa Kayla akan berani menampar seorang istri Gubernur di hadapan suaminya, terlebih mereka mertua Kayla sendiri yang patut disegani.


"Kayla?" sela Tuan Hanan mulai mendekati istrinya yang tampak memegang pipi merah akibat tamparan menantunya itu.


"Tuan, maafkan Kayla.... Maafkan putriku Tuan, sungguh dia tidak bermaksud," ucap Mama Hana terbata dengan nada takut sekaligus masih tidak menyangka putrinya akan berlaku demikian.


Tuan Hanan hanya menatap Kayla dengan kecewa, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang, ia tahu istrinya memang tidak menyukai Kayla sedikit pun.


Semua terkejut akan perlakuan Kayla yang berani menampar ibu mertuanya, tidak terkecuali seorang lelaki yang menyaksikan semua itu terjadi di depan matanya sendiri, Devano, iya Dev melihat Kayla menampar Mamanya dengan kemarahan luar biasa.


"Dev!" seru sang Papa yang baru menyadari anak sulung lelakinya datang mendekat.


Kayla tergagap, ia melihat ke arah suaminya. Wajah Dev menjadi lain, ia tidak menyangka Dev pulang dan menyaksikan apa yang telah ia lakukan.


"Bang Dev," ucapnya bergetar, ia mendekati Dev namun Dev lebih dulu mendekati Ibunya yang kesakitan.


"Kau lihat Devano, wanita yang kau bela telah melukai harga diriku. Kau putraku, aku tahu kau pasti mengerti sekarang kenapa aku menginginkan wanita bermartabat untuk mendampingi hidupmu, dan hari ini kau akan menyadari nya," ucap Nyonya Lolita dengan nada penuh arti.


"Bang Dev, tidak seperti itu. Aku bisa menjelaskan nya!" seru Kayla pada suaminya.


"Maaf Hanan, aku rasa aku tidak perlu menyaksikan masalah dalam keluarga mu ini, aku pamit kita bisa bicara lain waktu!" pamit seorang perempuan sebaya Hanan Wijaya sebagai tamu yang ikut menyaksikan semua ketegangan itu sejak tadi.


Dev hanya diam seribu bahasa, ia menatap Kayla tidak percaya.


"Mari kita bicara di kamar!" perintah Dev pada istrinya.


Ia berjalan lebih dulu, Kayla segera menyusul langkah Dev menaiki anak tangga dengan tergesa. Ia meraih tangan suaminya namun sia-sia, Dev mendadak dingin padanya.


Mama Hana lagi-lagi hanya bisa memohon maaf atas sikap putrinya pada pasangan gubernur itu, namun lagi-lagi ia hanya bisa menurut perintah bahwa ia disuruh menunggu diluar dan diminta tidak ikut campur urusan keluarga itu.


Mama Hana menunggu nasib putrinya dengan cemas di pos satpam, ia berjalan ke sana kemari untuk menunggu kabar putrinya yang sedang bicara dengan Dev.


"Bang Dev, kau tidak percaya padaku?" tanya Kayla dengan isak tangisnya.


"Entahlah, yang pasti aku sangat kecewa padamu! Aku menyaksikan semuanya Kayla, kau menampar wanita yang telah melahirkan ku. Kau marah-marah di hadapan tamu Papa."


"Aku melihat semuanya, meski kau marah tidak bisakah kau bicara baik-baik dan tidak seperti tadi?"


Berulang Kayla menjelaskan pada suaminya, namun seolah sia-sia saat Dev benar-benar merasakan kekecewaan pada Kayla yang ia kira tidak pantas menampar ibunya apapun alasan atas semua itu.


Kayla frustasi, ia memang tidak bisa mengontrol emosinya akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Bang Dev," lirihnya memohon.


"Aku kira dengan membawamu tinggal di sini akan membuat kau dan Mama akur, namun ternyata lebih buruk dari sebelumnya. Mungkin Mama benar, kita tidak pantas bersama!"


Demi apa kata-kata Dev bagai petir bagi Kayla yang meminta ampun sejak tadi.


"Bang Dev, apa maksudmu? Aku memang bersalah, aku aku juga tidak tahu kenapa aku seperti ini, aku mohon kita bisa bicara baik-baik soal ini, aku tidak bermaksud menyakiti Mama mu."


"Dan kenyataannya kau telah menyakiti Mama ku."


Kayla menatap Dev.


"Bang Dev?"


"Bersiaplah, aku akan mengantarmu pulang ke rumah orangtua mu!"


"Tidak, sayang dengarkan aku dulu," elak Kayla yang kembali terisak oleh tangisnya seraya meraih tangan Dev penuh harap.


"Kontrak pernikahan kita berakhir sampai disini, aku tidak bisa hidup dengan perempuan yang tega menyakiti Mama ku."


Dev berkata dengan mata berkaca-kaca, sungguh berat namun keputusan itu entah tiba-tiba datang dari mana, ia sungguh sakit jika mengingat wanita yang telah melahirkan nya ditampar oleh wanita yang ia cintai.


"Bang Dev, jangan seperti ini?" Kayla kembali meraih tangan suaminya.


Dev melepaskan tangan Kayla dengan pelan, "Ini keputusan ku, ayo segera berkemas aku akan menunggu di luar."


Dev meninggalkan Kayla yang tergugu menangis luruh ke lantai, ia tidak menyangka suaminya akan semarah ini hingga memutuskan hubungan semudah itu.


Kayla merasa putus asa, ia membanting diri ke ranjang, menangis kencang namun Dev tidak juga kembali ke kamar, ia


frustasi dengan perasaannya yang mendadak buntu entah kemana.


Tiba pula rasa marah di hatinya, ia juga tidak ingin seperti ini namun ia pula harus menjaga harga dirinya terlebih harga diri ibunya yang ia rasa telah diremehkan oleh mertuanya tadi.


Kayla perlahan bangkit dari ranjang, ia membuka lemari dan menyiapkan koper lalu berkemas, untuk apa bertahan jika Dev sudah tidak menginginkannya terlebih pria itu mungkin akan kembali pada Nikayla seperti rencana mertuanya.


Bukankah sudah jelas nasib seorang pengganti sepertinya, tidak perlu sampai seperti ini seharusnya Kayla sudah sadar arah nasib pernikahannya selama ini.


"Kenapa aku begitu bodoh, aku benar-benar payah!!!" gumam Kayla dengan isak tangisnya.


Pun Dev, ia menyeka air matanya saat mengintip Kayla berkemas, istrinya benar-benar berkemas untuk pergi dari hidupnya.


Keputusan tetaplah keputusan, meski cintanya pada Kayla sangat besar namun orangtuanya tetap nomor satu jika sudah seperti ini, ia tidak bisa melihat ibunya menangis apalagi telah disakiti fisiknya oleh siapapun termasuk istrinya.

__ADS_1


__ADS_2