
"Bang Dev."
Kembali untuk kedua kalinya suara Kayla membuyarkan lamunan panjang suaminya yang menatap ke arahnya seolah terpana.
"Ah, maaf kau sudah siap?" Dev tampak salah tingkah setelah menatap penampilan Kayla secara keseluruhan, bukan hanya gaun yang sangat pas namun juga dandanan wajah yang dipoles tipis dengan uraian rambut sebahu yang begitu hitam dan indah.
"Apa dandananku berlebihan?" Kayla menyisipkan rambut ke belakang telinga.
"Tidak, ayo kita harus pergi sekarang!" jawab Dev sambil meraih tangan istrinya itu menuju keluar apartemen.
Senyum mengembang dari bibir Kayla saat tangan Dev tidak melepasnya hingga turun gedung apartemen menuju mobil mereka.
"Bang Dev," lirih Kayla pelan sambil terus mengulum senyum. "Hmmmm."
"Apa aku cantik malam ini?" pancing gadis itu.
"Kau selalu cantik Kayla," jawab Dev tanpa sadar.
"Oh benarkah? Kau mengakuinya sekarang?" goda Kayla setelah mereka mencapai mobil. Dev menatap Kayla dengan perasaan gugup.
"Semua wanita itu cantik, penampilan fisik itu relatif," jawab pria itu, membuat Kayla memajukan bibirnya kesal.
Dev terkekeh, tanpa ba bi bu ia mengecup bibir yang menggemaskan itu sekilas, secepat kilat, membuat Kayla membesarkan matanya seketika.
"Bang Dev?" Kayla merasa seperti sedang mimpi, demi apa ia mendapat kecupan bibir dari suami dambaannya itu.
"Ayo, nanti kita terlambat. Kau terlalu banyak mengoceh," seru Dev sambil membukakan pintu mobil untuk gadis yang sedang bersemu merah itu.
Perlakuan yang manis, menggandeng tangan hingga ke mobil, tanpa basa basi memberi kecupan bibir singkat namun efeknya sungguh membuat Kayla ingin jantungan, dan sekarang ia mendapat penghormatan dibukakan pintu mobil oleh suaminya yang mendadak manis malam ini.
Kayla menatap Dev yang menyusul masuk mobil dan mulai menyalakan mesin, sungguh ini diluar dugaan pikirnya.
"Bang Dev, kau menciumku? Benarkah?" kata Kayla seolah tidak percaya.
Dev melajukan mobilnya perlahan sambil melirik Kayla dengan senyum tipis ia menjawab, "Maaf aku khilaf."
"Jika begitu sering-seringlah khilaf," tukas Kayla sambil terkekeh. Dev hanya melirik tajam lalu kembali fokus pada kemudi.
"Bang Dev," rengek gadis itu lagi.
"Apa?"
"Beri aku kecupan lagi," ucap Kayla memajukan bibirnya ke arah Dev sambil menggoda dengan mata dan alisnya.
"Kayla jangan bercanda!"
"Ayolah, khilaf sekali lagi tidak masalah bukan?" Dev hanya menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan sikap istrinya, meski dalam hati sungguh ia malu digoda seperti itu, Kayla benar-benar berbeda dari perempuan manapun yang pernah ia kenal, bahkan Nika sekalipun. Cantik dan menggemaskan, bersikap apa adanya tanpa malu meski menyatakan cinta pada seorang pria yang belum tentu bisa menerimanya.
Dev mulai dilema pada hatinya sendiri, perasaannya pada Kayla masih belum bisa ia artikan hingga saat ini meski gelanyar itu sering kali datang saat mereka bersama seperti malam ini, hatinya menghangat hanya dengan menatap wajah cantik dan polos di sampingnya itu.
Kayla terkekeh, ia tanpa malu menjatuhkan kepalanya di lengan Dev. Pria itu sama sekali tidak menghindar, senyum tipis ia sembunyikan sambil terus mengemudi menuju hotel dimana orangtuanya menggelar pesta.
"Aku mencintaimu Bang Dev!" seru Kayla dengan penuh perasaan. Dev hanya diam.
"Aku harap rasa itu perlahan muncul di hatimu, karena aku yakin tidak ada cinta yang tidak hadir setelah pernikahan, meski terkesan tidak tahu malu tapi inilah aku."
"Aku telah jatuh cinta pada suamiku ini, bahkan jauh diawal pernikahan. Aku akan mendapatkan hatimu Bang Dev, dan aku harap aku bisa sebelum kontrak pernikahan ini berakhir."
__ADS_1
"Aku mencintaimu Bang Dev, aku akan menunggu balasanmu." Dev masih diam, lagi hanya senyum tipis yang coba ia sembunyikan.
Kemudian hening berlarut dalam perasaan masing-masing sampai mereka tiba di hotel.
Di tengah keramaian pesta, Kayla mulai merasa asing berada diantara orang-orang yang belum ia jumpai sebelumnya, mayoritas para pejabat deerah hingga kolega bisnis ibu mertuanya, semua orang kaya dan kalangan atas membuat nyali gadis itu menciut seketika.
Dev menggenggam tangannya seolah menenangkan. "Kau gugup?"
"Aku tidak pernah berada di pesta seperti ini Bang Dev, aku rasa ini bukan tempatku."
"Santai saja, karena ini memang pestanya para orangtua."
"Huh, aku gugup sekali. Mereka pejabat dan orang besar semua," sahut Kayla lagi sambil menggigit bibir bawahnya melihat sekeliling.
"Ini biasa," ucap Dev lagi.
"Iya, dan aku yang tidak biasa. Aku malu Bang Dev."
"Kenapa harus malu?"
"Aku, aku orang rendahan. Tidak pantas berada di pesta para orang kaya seperti ini."
"Hei tenanglah, semua ini tidak seburuk yang kau pikirkan. Sudah ayo kita temui orangtuaku!" Dev menarik pelan tangan Kayla menuju yang empunya pesta malam ini.
Kayla menunduk hormat saat bertemu kedua mertuanya, takut dan canggung.
"Dev, ada teman lama mu juga hadir malam ini. Temui beliau di sudut sana, Mama yakin kalian sudah lama sekali tidak bertemu."
Mama mertua Kayla itu langsung memberi perintah pada putranya tanpa berbasa basi pada Kayla yang baru saja mengucapkan selamat hari jadi pernikahan.
Kayla masih menunduk dan terdiam, ia tahu kehadirannya tidak diharapkan malam ini. Matanya berkaca-kaca merasa sedih karena tidak dihargai.
Kayla menatap punggung suaminya yang menjauh dengan perasaan gusar.
"Kau duduklah di sana, jangan bicara pada siapapun apalagi tentang kau dan Dev." Suara Mama Dev membuyarkan lamunan gadis itu.
Segera ia mengangguk, "Baik Nyonya," jawab Kayla gugup.
"Hmm," sahut Mama Dev, ia meninggalkan Kayla lalu menyusul suaminya menyapa tamu.
"Huh, mertua yang menyeramkan," gumam Kayla bernapas dalam. Ia memilih duduk di sebuah kursi yang mejanya masih kosong kebetulan berada di sudut ruangan. Tanpa sengaja ia menabrak seorang perempuan.
"Hei, apa-apaan kau ini!" Perempuan itu kesal saat minuman Kayla tumpah kena gaunnya.
"Maaf, maafkan aku. Aku tidak sengaja," ucap Kayla panik.
"Kau?" ucap perempuan itu lagi, terkejut saat menatap wajah Kayla yang menabraknya.
"Kak Weni?" Kayla tidak menyangka ia telah menabrak Weni, seniornya di kampus lebih tepatnya teman dekat Zian. Weni menatap Kayla dari kaki hingga ke kepala.
"Bagaimana bisa kau berada di sini?" tanya Weni heran. "Aku, aku kemari....." Ucapan Kayla menggantung, bingung sendiri.
"Apa kau simpanan pejabat? Oh, aku tidak percaya ini." Weni berdecak melihat penampilan Kayla.
"Apa?" Kayla terkejut mendengar kata simpanan pejabat.
"Jika bukan simpanan pejabat lalu kenapa kau ada disini? Semua juga tahu kau Kayla yang miskin, atau kau kemari atas undangan sahabatmu Nikayla yang jadi menantu Pak Gubernur? Ah, setelah menikah ternyata Nika masih ingat pada temannya, mana temanmu yang lain?"
__ADS_1
Kayla ternganga, ia bertambah bingung. Weni tidak suka padanya karena Zian pernah memberinya kopi waktu di kampus tempo hari, sepertinya Weni cemburu pada Kayla takut Zian menyukai gadis itu.
"Aku, aku," Kayla bingung ingin jawab apa.
"Kayla, Kayla..... Penampilanmu tidak merubah siapa dirimu, kau tetaplah Kayla yang miskin dan sederhana. Gaun ini tidak membuatmu berkelas, karena semua orang tahu siapa dirimu. Jangan kira Zian suka padamu, kau tidak akan selevel dengannya, mengerti!"
"Iya, aku memang miskin. Tapi untuk menilai berkelas atau tidaknya seorang perempuan tidak terletak pada gaun atau penampilannya, tapi dari tutur kata dan cara dia memperlakukan seseorang. Dan kau Kak Weni tidak lebih baik dari gadis miskin ini, soal Kak Zian jangan khawatir. Aku sama sekali tidak mendekatinya, kami hanya junior dan senior sama seperti kau dan aku."
"Maaf sudah menabrakmu, aku disini bukan sebagai simpanan pejabat. Betul Nikayla yang mengundangku kemari, karena kami bersahabat bukan karena kaya atau miskin, aku beruntung Nikayla tidak pernah menganggapku begitu."
"Permisi."
Kayla berlalu dari sana tanpa menunggu tanggapan Weni, sambil menghapus butiran bening yang jatuh di sudut mata. Pesta ini memang bukan tempatnya pikir Kayla.
Kayla melewati Dev tanpa sadar, ia terus berjalan menuju keluar dari ballroom.
"Kayla?" Dev mengernyit heran, ada apa dengan istrinya itu hingga berjalan menunduk tidak menghiraukan bahwa telah melewatinya. Tanpa ragu, ia menyusul setelah pamit pada kedua temannya.
Dev mengejar langkah Kayla, ternyata gadis itu pergi menuju toilet. Sepi, kebetulan tidak ada yang menggunakan toilet.
Perlahan Dev mendekati punggung Kayla yang bergetar karena menangis. Gadis itu menunduk di hadapan cermin wastafel, ia tidak menyadari Dev sudah berada di belakangnya.
"Kayla, kau kenapa?" tanya Dev berani menyentuh pundak gadis itu. Kayla terkejut.
"Bang Dev?" ia segera menghapus airmatanya.
"Apa Mama membuatmu tersinggung?" Kayla menggeleng, "Tidak Bang Dev, bukan itu. Maafkan aku, hanya masalah kecil."
"Jangan menangis lagi, kau ingin pulang?" Dev menghapus sisa airmata di pipi istrinya tanpa bertanya lebih lanjut.
"Kita baru datang, tidak mungkin pulang."
"Tidak masalah, lagi pula ini seperti perkumpulan orangtua. Aku juga tidak nyaman, ayo!" Dev menggenggam tangan Kayla keluar dari toilet.
"Aku tahu jajanan yang enak tidak jauh dari sini, kita bisa jalan sebentar sebelum pulang," ucap Dev menghibur.
Kayla tersenyum lalu mengangguk semangat.
"Aku baru tahu kau bisa juga menangis rupanya," kekeh Dev dengan nada bercanda.
"Bang Dev," rengak Kayla kesal. Dev tertawa pelan, tanpa sadar ia mengecup gemas puncak kepala Kayla.
"Bang Dev," rengek gadis itu lagi.
"Apa?"
"Aku mencintaimu." Dev hanya tersenyum tanpa menjawab.
"Bang Dev."
"Apa lagi?"
"Jawab!"
"Kau yakin ingin aku menjawabnya?" Dev menghentikan langkah kakinya.
"Tidak tidak, jangan dijawab. Aku tahu kau tidak akan suka padaku!" Kayla menutup mulut Dev.
__ADS_1
Dev terkekeh lagi, ia kembali meraih tangan gadis itu lalu melanjutkan langkah menuju lift berniat keluar dari hotel.