Cinta Seorang Pengganti

Cinta Seorang Pengganti
Tak dihargai


__ADS_3

"Hei, selamat pagi...." ucap Dev seraya mengecup kening istrinya yang baru saja membuka mata.


"Bang Dev, kau sudah bangun?" Kayla terkejut, ia segera bangkit dari posisinya.


"Ini bahkan sudah jam 9," kekeh Dev sambil merapikan rambut Kayla yang terburai.


"Benarkah? Maaf, aku merasa tidak enak badan hingga bangun terlambat," balas Kayla memijat-mijat lehernya.


"Tidak masalah, lagi pula ini hari libur. Kau merasakan sesuatu? Ku perhatikan kau tidak bersemangat sejak kemarin. Ingin ke dokter?" tawar Dev sambil memegang kening istrinya.


"Entahlah, aku lesu dan tidak bergairah. Maunya tidur saja. Tidak perlu ke dokter, itu berlebihan. Aku hanya butuh tidur."


Kayla kembali menjatuhkan tubuhnya.


"Sayang ayolah," ajak Dev mendudukkan lagi Kayla.


Kayla menatap Dev yang tersenyum padanya, wajah tampan yang tidak rela ia bagi dengan wanita lain. Lalu bagaimana jika mertuanya tetap ingin mereka berpisah, ia tahu Dev akan menuruti kemauan orang tuanya sebagai anak lelaki satu-satunya di keluarga.


Sungguh Kayla tidak mau berpisah, tapi lagi-lagi bayangan perjanjian kontrak itu nyata adanya. Hubungan mereka memanglah diawali sebuah kontrak saja yang bisa diakhiri kapan saja terlebih ia memang tidak diakui sebagai menantu, mertuanya tidak menginginkan Kayla.


"Bang Dev."


"Kau kenapa? Masih marah padaku?"


Kayla menggeleng, ia menjatuhkan kepalanya di dada sang suami yang sudah segar habis mandi.


"Aku tidak mau kita berpisah," kata Kayla dengan nada dalam.


"Jangan bicara sembarangan."


"Mama mu mau kita bercerai."


Dev membawa Kayla untuk menatapnya, ia memegang pipi sang istri dengan lembut.


"Tidak akan, percaya padaku. Untuk itulah kau harus bangun sekarang dan bersiap."


"Bersiap kemana?" tanya Kayla heran.


"Aku sudah memikirkan hal yang mungkin akan membuat hubungan mu dan Mama menjadi lebih baik."


"Apa maksudmu Bang Dev?"


"Aku rasa kita sudah seharusnya tinggal di rumah utama, mungkin dengan dekat dengan Mama akan membuat kalian cocok satu sama lain."


"Apa?" Kayla tidak bisa menyembunyikan keterkejutan nya.


Dev mengangguk, ia menjelaskan bahwa mereka akan pindah ke rumah utama orangtua Dev. Meski orangtuanya lebih sering di rumah dinas namun akhir-akhir ini Mama dan Papanya cukup sering pulang ke rumah mereka sendiri jika akhir pekan.


Dev pikir dengan mendekatkan Kayla dan Ibunya akan membawa dampak baik bagi mertua dan menantu itu, hingga sang Mama bisa menerima Kayla jika sudah mengetahui ada banyak kelebihan yang Kayla miliki sebagai istrinya.

__ADS_1


Dengan begitu Dev berharap sang Mama bisa luluh dan menerima Kayla sebagai menantu yang sebenarnya, tidak lagi ingin mereka berpisah.


Selain itu ia juga ingin Kayla membiasakan diri dengan lingkungan keluarganya.


Kayla tidak bisa menolak permintaan suaminya, ia pikir hal yang sama dengan harapan Dev atas kepindahan mereka.


Akhir pekan berikutnya.


Kayla menelan ludah saat mertuanya pulang, ia cukup mudah beradaptasi dengan para pelayan di sana, namun dengan sang Mertua ia tetaplah takut luar biasa.


Nyonya Lolita menatap Kayla dengan datar, ia sudah diberitahu putranya soal anak dan menantunya yang memutuskan untuk tinggal di rumah megah mereka.


Kayla membawa secangkir teh hangat untuk Nyonya Lolita yang menyuruhnya menghadap di ruang keluarga.


Dengan gugup ia memberanikan diri mendekati sang mertua yang memang menunggunya.


"Ini tehnya Nyonya."


Kayla meletakkan cangkir teh dengan sopan layak seorang pembantu.


"Duduklah!" perintah Nyonya itu.


Kayla mengangguk, ia menyusul duduk di sofa sebelah mertuanya duduk saat ini, ruang keluarga yang menghadap ke balkon, pemandangan sejuk arah kolam renang.


"Aku tidak melarang Dev membawamu pulang kemari bukan berarti aku sudah setuju denganmu," kata Nyonya Lolita sambil meminum tehnya dengan elegan.


"Kenapa tidak kau tinggalkan Dev sejak hari itu?"


Kayla menatap Nyonya Lolita dengan mata berkaca-kaca.


"Aku mencintai suamiku Nyonya, tidak bisakah Nyonya mengerti bahwa kami sudah saling menerima satu sama lain?"


"Tapi sayangnya aku sudah punya pilihan lain untuk hidup Putraku, dan itu bukan kau!" ucap Nyonya Lolita membalas tatapan Kayla.


"Kontrak tetaplah sebuah kontrak, bukankah sudah ku akhiri beberapa waktu lalu? Kenapa kau masih ngeyel juga?"


Kayla terdiam, ia tidak bisa menjawab kali ini.


"Nyonya, aku akan menjadi istri yang baik untuk......" ucapan Kayla menggantung saat Nyonya Lolita langsung menyela, "Iya aku mengerti maksud mu, tapi kembali ke situasi awal kau hanya seorang pengganti sementara yang ku bayar. Kini masa bayaran itu sudah berakhir, aku ingin kau pergi dari kehidupan putraku."


Kayla menghembus napas berat dibuat mertuanya itu. Ia hanya bisa menunduk takut sekarang.


Setelah percakapan singkat itu, Kayla kembali ke kamarnya. Merenungi apa yang menjadi kemauan sang mertua, berpisah dari Devano yang ia cintai, pergi dan menata hidupnya yang berharap lebih pada pernikahan ini, sungguh Kayla dilema.


Belum lagi Nika yang terus bertanya sampai dimana urusan perceraian, raut bahagia sahabatnya tidak bisa ia abaikan begitu saja.


Tinggal satu atap dan berusaha mendekatkan diri dengan mertuanya tidak cukup membuat ia disukai keluarga gubernur itu, kedua orangtua Dev sibuk dengan kegiatan dinas dan tidak menghiraukan Kayla jika mereka kembali ke rumah utama.


Kayla bertahan demi Dev, ia mengikuti saran suaminya untuk tetap bersabar mendapatkan restu kedua mertuanya, jika bukan karena ia percaya Dev tidak akan meninggalkannya mungkin Kayla sudah pergi jauh sekarang.

__ADS_1


Sampai suatu pagi, Mama Hana datang bertamu untuk mengunjungi putri tercintanya, namun sayang, ia datang diakhir pekan dimana orang tua Dev juga ada di rumah utama.


Pelayan menyuruhnya menunggu, namun yang keluar bukan Kayla tapi pelayan lain yang mengatakan ia harus menunggu di luar saja jika ingin bertemu anaknya, ia tidak diperkenankan untuk masuk ke rumah besar itu sebab Tuan dan Nyonya Gubernur sedang ada tamu penting.


Mama Hana yang datang dengan kerinduan, membawa makanan kesukaan putrinya, hanya bisa sabar menunggu Kayla turun menemuinya di pos satpam.


Kayla tidak memegang ponselnya sejak bangun tidur, ia sibuk menyelesaikan tugas kuliahnya sebelum ujian semester Minggu depan dimulai. Hingga ia tidak menyadari ada banyak panggilan tidak terjawab dari sang ibunda.


Suaminya kebetulan sedang ada seminar di Hotel.


Ia merentangkan tangan menghadap jendela kamarnya dengan perasaan lega saat semua tugasnya selesai.


Ia mengernyitkan dahi saat matanya melihat ke satu arah pandangan, pos satpam. Beberapa kali ia mengucek matanya, penglihatannya tidak salah perempuan yang ia lihat sekarang adalah ibunya.


"Mama?" gumam Kayla terkejut.


Tanpa berpikir panjang, ia segera turun dari lantai dua kamarnya keluar menuju pos satpam yang jika tidak salah ibunya sedang duduk di sana ditemani seorang satpam yang berjaga.


"Mama," teriak Kayla setengah berlari.


"Kayla, sayang kau baru turun?" sahut sang Mama yang langsung memeluk anaknya penuh kerinduan.


"Mama kapan kemari kenapa tidak masuk?" tanya Kayla cepat.


Mama Hana ingin menjawab, namun Satpam di sampingnya lebih dulu memberi jawaban.


"Maaf Nona, Nyonya Hana ini sudah dari tadi menunggu Nona turun, bahkan sudah menunggu selama tiga jam lebih, apa pelayan tidak memberitahu Nona jika Ibu Nona Kayla datang?"


"Apa? Tiga Jam?" Kayla tidak bisa menyembunyikan keterkejutan nya saat ini.


"Hei, bukan masalah yang penting Mama sudah bertemu denganmu sekarang, Mama rindu padamu, kau sudah satu Minggu tidak pulang ke rumah, jadi Mama memutuskan berkunjung kemari. Ini Mama bawakan nasi dan sayur kesukaanmu," tunjuk Mama Hana pada sebuah kotak bekal yang ia bawa tadi.


"Mama menunggu tiga jam? Kenapa tidak ada yang memberitahu ku? Kenapa malah menunggu di sini?" tanya Kayla pada sang satpam.


"Maaf Nona, Nyonya Lolita tidak memperkenankan Ibu Nona untuk masuk," jawab satpam itu polos.


"Sayang, sudahlah ini bukan masalah besar. Ponsel mu kemana kenapa Mama telpon tidak dijawab sejak tadi, makanya Mama menunggu saja sampai kau turun."


"Apa?"


Mendengar itu mendadak Kayla menjadi panas, dadanya terasa sesak. Yang benar saja ibunya disuruh menunggu hingga tiga jam, dan tidak ada satupun pelayan yang memberitahunya soal ini.


Seolah emosi itu datang hingga ke ubun-ubun. Kayla benar-benar tidak terima ibunya tidak dihargai.


Matanya merah menyala menatap pintu rumah besar mertuanya itu.


"Mereka boleh tidak menyukaiku bukan berarti juga boleh memperlakukan Mama ku seperti ini, aku benar-benar sudah tidak tahan," ucap Kayla menggebu seraya berjalan masuk ke rumah dengan air mata yang sudah mengalir, dadanya terasa penuh otaknya mendadak panas oleh kenyataan bahwa mertuanya tidak menerima kedatangan ibunya kemari hingga tidak dipersilahkan masuk.


"Kayla, Kayla!!!" teriak Mama Hana menyusul langkah anaknya.

__ADS_1


__ADS_2