Cinta Seorang Pengganti

Cinta Seorang Pengganti
Benar cemburu


__ADS_3

Karena pakaiannya kotor oleh ulahnya sendiri, Kayla urung belanja baju seksi bersama dua sahabatnya hari ini. Ia memilih untuk pulang dan fokus pada ponselnya yang basah.


Sudah malam Dev belum pulang, Kayla hanya bisa menunggu karena tidak bisa menghubungi sebab ponselnya telah mati total beruntung ia masih sempat mencadangkan data dan dokumen yang ia simpan dalam ponsel itu ke drive lain.


Kayla lelah, hingga ia tertidur sendiri di atas ranjang yang biasa ia tiduri.


Dini harinya ia terbangun, ia lega ternyata Dev pulang namun memilih tetap tidur di sofa seperti biasa.


Kayla menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum suaminya bangun, ia membiarkan Dev tidur tanpa mengganggu. Kayla selesai berberes hingga pagi.


Ia mandi dan bersiap ke kampus karena jadwal mata kuliah pagi, namun terhenti saat menatap Dev yang juga telah bersiap dari arah kamar.


"Bang Dev, kau sudah bangun?" basa basi gadis itu.


"Hmmmm," sahut Dev datar.


"Bang Dev juga ada jam pagi?" tanya Kayla membuntuti Dev ke dapur.


Pria itu hanya mengangguk tanpa menjawab. Kayla kegirangan ia berpikir mungkin saja ia akan diperbolehkan ikut pergi bersama ke kampus.


"Apa boleh aku ikut?"


"Tidak boleh," jawab Dev jutek.


"Bang Dev," rengek gadis itu bergelayut manja di lengan suaminya.


"Ayolah, aku akan turun di tempat biasa," rayu Kayla lagi.


"Terserah kau saja."


Kayla tersenyum, ia mulai berpikir bahwa Dev tidak bisa menolaknya lagi jika dibuat rengekan manja yang tentu lelaki manapun tidak akan sanggup mengabaikannya.


Di dalam mobil.


"Bang Dev."


"Hmmmmm."


"Kenapa kau diam saja?" tanya Kayla heran.


Dev tidak menjawab. "Apa aku berbuat kesalahan?" tanya gadis itu lagi.


"Tidak," jawab Dev dingin.


"Ayolah jangan seperti ini, kau berubah baik dan manis padaku sudah satu minggu lebih. Kenapa sekarang cuek lagi? Kau selalu membuatku salah paham," rajuk Kayla.


Dev tidak menggubris, membuat Kayla menyeringai kesal, ia meraih lengan suaminya lalu ia gigit dengan geram.


"Kayla kau ini kenapa?" akhirnya Dev bersuara juga setelah berhenti mendadak saat mendapat serangan istrinya itu.


"Kau marah padaku?" tanya Kayla sambil mengusap bekas gigitannya di lengan pria itu.


Dev hanya bisa menghembus napas kasar, entah kenapa wajah Kayla terlalu imut untuk ia marahi, malah menciptakan lengkungan senyuman di bibirnya oleh kelakuan Kayla tersebut.

__ADS_1


"Maaf," rayu gadis itu lagi.


Dev menatap wajah istrinya dengan raut penuh arti, membuat Kayla merasa gemas wajah tampan suaminya memanglah tidak bisa diabaikan begitu saja.


Gadis itu meraih rahang Dev lalu mendaratkan beberapa kecupan bibir dengan tatapan mata indah nan penuh cinta.


"Aku mencintaimu, jangan marah oke?" ucap gadis itu membalas tatapan Dev yang tidak beralih dari wajah yang selalu membuatnya senam jantung akhir-akhir ini.


"Aku tidak marah," jawab Dev pelan.


Kayla terkekeh.


"Ayo lanjut, kita akan terlambat," tegur Kayla, Dev tersenyum, ia mengusap kepala istrinya dengan gemas sebelum melanjutkan perjalanan mereka.


"Bang Dev."


"Hmmmm," sahut Dev menoleh sekilas.


"Jika aku gigit yang lain boleh?" goda Kayla.


"Yang lain bagaimana?"


"Gigit sesuatu yang berharga milikmu misalnya," goda Kayla sambil memperagakan giginya dengan gerakan mesum.


Dev membesarkan matanya, ia mengusap wajah Kayla dengan gemas seraya berkata, "Pagi-pagi sudah berpikiran mesum." Disusul tawa pria itu.


"Mesum pada suamiku sendiri tidak ada salahnya kan? Yang salah itu kau, berdekatan dengan istri secantik ini malah tidak hidup, heran! Jangan-jangan benar kau memang impoten, makanya Nika tidak mau menikah denganmu!"


"Kau meragukan kejantananku? Ingin melihatnya hidup sekarang?" ucap Dev mendekati Kayla.


Gadis itu terkejut, ia hanya bisa menyengir dengan wajah memerah.


"Aku hanya bercanda Bang Dev, jangan tersinggung oke!" jawab Kayla tiba-tiba ciut sendiri saat menatap mata Dev yang memancarkan kemarahan.


"Ayo kita lanjut, nanti aku terlambat."


Kayla mendorong tubuh suaminya agar kembali pada posisi kemudi dengan benar. Membuat Dev geleng kepala atas ulah dan ucapan istrinya yang benar-benar menantang secara tanggung.


Sebelum turun mobil saat mereka tiba di kampus, Kayla kembali menahan Dev yang ingin segera keluar.


"Bang Dev!"


"Kayla, ada apa lagi?" tanya Dev malas.


"Aku mau minta izin untuk menggunakan uang dalam ATM yang kau berikan waktu itu, aku mau berbelanja kebutuhan pribadi dan membeli ponsel."


Kayla menggigit bibir bawahnya menunggu tanggapan suaminya takut Dev tidak setuju.


"Tidak boleh."


"Apa? Bang Dev?"


"Boleh beli perlengkapan pribadi, tapi tidak boleh beli ponsel."

__ADS_1


"Kenapa? Ponselku rusak, kemarin jatuh ke kolam dan mati total lagi pula itu ponsel tua jadi wajar tidak bisa diperbaiki."


"Itu salahmu kenapa ceroboh."


"Bang Dev, ayolah jangan pelit. Aku tidak akan beli ponsel mahal, aku membutuhkan ponsel untuk menghubungi seseorang, ibuku, dan urusan kuliah, mana bisa aku hidup tanpa ponsel."


"Menghubungi seseorang?" tatap Dev tajam.


"Iya tentu saja untuk menghubungi orang, tidak mungkin menghubungi monyet!" cebik Kayla kesal.


"Bukankah kau menjatuhkan ponselmu bersama Zian? Kenapa tidak minta dia ganti saja?"


Kayla menatap Dev lalu berpikir sejenak, itu artinya Dev melihat ia bersama Zian kemarin.


"Bang Dev melihatku bersama Kak Zian?"


"Cih, Kak Zian? Siapa dia hingga kau memanggilnya kakak?"


Kayla tersenyum lebar, ia tahu sekarang Dev sedang cemburu.


"Kau cemburu?"


"Jangan bicara konyol," tukas Dev yang langsung turun mobil yang tanpa ia sadari bahwa mereka tengah berada di parkiran kampus bukan di tempat biasa ia menurunkan Kayla karena rahasia.


Kayla tersenyum kegirangan, ia suka raut marah Dev saat membicarakan Zian, kini ia tahu harus membuat Dev lebih cemburu lagi jika berada di kampus.


"Oh Kak Zian, maafkan aku atas niat memanfaatkan mu dalam hal ini," gumam Kayla bahagia sebelum menyusul Dev yang telah lebih dulu keluar mobil.


"Bang Dev," panggil Kayla dengan suara manja.


Langkah Kayla terhenti saat bertepatan dengan seorang gadis lain yang menatapnya tidak suka.


"Kak Weni," sapa Kayla canggung, ia tidak tahu jika ada orang lain saat ia memanggil Dev.


"Oh apa ini? Kau keluar dari mobil pak Dev?" kata Weni seolah tidak percaya.


"Apa salahnya jika kami bertemu di jalan dan Pak Dev memberiku tumpangan?"


"Oh begitukah? Aku rasa kau sengaja, mana tahu kau berniat menikung sahabatmu sendiri karena Nika sudah pindah kampus."


Kayla terdiam mendengar nama Nika disebutkan, memang benar bahwa semua orang tahu Dev menikah dengan Nikayla bukan dirinya yang ternyata mendapat peran pengganti sahabatnya yang hilang.


"Jangan asal menuduh," sanggah Kayla.


"Lantas kenapa kau memanggilnya seolah kalian sangat akrab?"


"Berlagak polos, kemarin mendekati Zian sekarang pak Dev, aku rasa kau suka sekali pada lelaki milik orang lain. Yang aku tahu pak Dev tidak pernah membawa siapapun dalam mobilnya kecuali Nika, meski kalian sahabat namun agak janggal melihat kalian berdua saja tanpa Nika seperti pagi ini."


"Dari wajah pak Dev terlihat dia sedang marah, apa kau menggodanya ketika dalam mobil hingga dia menghindar dan turun lebih dulu? Aku tidak menyangka kau menggoda suami sahabatmu sendiri."


Kayla ternganga atas sangkaan yang diberikan Weni pagi ini.


"Maaf, aku tidak harus klarifikasi padamu. Permisi!" ucap Kayla mendahului Weni dengan wajah kesal, bagaimana ia selalu mendapat tanggapan yang tidak baik dari kakak tingkatnya itu bahkan mereka sering berdebat sejak OSPEK dulu.

__ADS_1


__ADS_2