Cinta Seorang Pengganti

Cinta Seorang Pengganti
Hotel?


__ADS_3

"Bang Dev."


Lelaki itu menoleh pada istrinya, "Iya Kayla?"


"Terimakasih," ucap Kayla saat mereka di perjalanan menuju pulang.


"Untuk apa?"


"Untuk hari ini, kau mau datang ikut makan bersama dihari ulang tahunku di rumah Mama, aku bahagia kau bisa ada di sana. Dan juga terimakasih untuk ponsel barunya."


Dev memelankan laju mobilnya, pria itu hanya mengangguk saja tanpa menjawab.


"Hanya mengangguk?" Kayla kesal akan respon suaminya itu.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Dev datar.


"Ck, lelaki kaku. Istri berterimakasih hanya dijawab angguk-angguk saja. Menyebalkan!"


Kayla menoleh keluar jendela berpaling dari wajah Dev yang juga menatapnya dengan kesal.


Gadis itu meraih tasnya, ia berniat mengambil ponselnya namun ia terdiam sejenak lalu merasa ada yang kurang dari isi tasnya.


"Kau mencari apa?" tanya Dev saat melirik Kayla mencari sesuatu dari bawah kakinya.


"Kemana buket bungaku? Kenapa tidak ada sekarang? Apa tertinggal di rumah Mama?" gumam Kayla bingung.


"Aku membuangnya!" kata Dev dingin.


"Apa?" Kayla terkejut, ia menoleh pada suaminya yang masih fokus menyetir.


"Kenapa melihatku seperti itu?"


"Bang Dev, itu bunga spesial dihari ulang tahunku kenapa dibuang? Seharusnya kita menghargai pemberian orang lain, Kak Zian yang memberikannya, kapan lagi aku diberi bunga oleh Ketua BEM idola kampus, ah kau menyebalkan!" rutuk Kayla dengan raut kesal, ia kembali menyilangkan tangannya ke dada lalu berpaling keluar jendela lagi.


"Turun!" seru Dev saat mobilnya ia hentikan secara mendadak.


"Apa?" Kayla terkejut.


"Turun ya turun!"


"Tidak mau! Bang Dev ada apa kau ini? Ini masih jauh."


"Aku tidak mau membawa wanita yang menerima bunga dari lelaki lain padahal sudah menikah!" cetus Dev tanpa basa basi.


"Dan apa tadi? Idola kampus? Jadi kau senang diberi bunga oleh lelaki idola kampus padahal sudah jadi istri orang?"

__ADS_1


Kayla terdiam sejenak, lalu senyumnya mengembang.


"Apa kau cemburu?"


Dev menatap tajam tanpa menjawab.


"Aku mengidolakan mu tapi kau tidak melihatku, aku memang istrimu, hanya seorang pengganti. Tidak peduli berapa kali aku merendahkan diri mencintaimu dan mengemis balasan darimu tapi kau tidak menggubrisku hingga sekarang, jangan membuatku salah paham lagi dengan sikapmu yang seperti ini."


"Aku berusaha mendapatkan semua perhatianmu termasuk mendekati Kak Zian untuk membuatmu cemburu, dan kau cemburu Bang Dev. Aku tahu itu, kenapa kau tidak ingin mengakui bahwa kau juga jatuh cinta padaku?"


"Kau tidak ingin menyangkalnya sekarang? Bang Dev, kau cemburu?" entah kenapa Kayla bahagia melihat raut marah lelaki itu.


"Turun!" seru Dev lagi.


"Kau marah?"


"Turun," perintah Dev lagi.


Kayla melihat sekeliling. Jalanan sepi.


"Bang Dev, ayolah jangan marah!" rengek Kayla merayu.


"Pergi sana dan minta jemput pada idola kampus mu itu!"


Kayla menggembungkan pipinya, kenapa Dev begitu marah sekarang, bahkan tidak termakan rengekan manja darinya yang biasa tidak mampu lelaki itu tolak.


Kayla meraih wajah suaminya, lalu ia melayangkan ciuman mesra di bibir lelaki itu, cukup lama yang mana berefek pada melunaknya emosi pria tersebut, hingga membalas bibir istrinya tanpa ampun.


Kayla tertawa dalam hati, kini ia tahu cara meredamkan marahnya seorang lelaki gengsi yang masih menyangkal perasaannya itu.


"Maafkan aku," lirih Kayla pelan setelah tautan bibir mereka mereda dan terlepas.


"Aku tidak suka kau dekat dengan lelaki itu atau lelaki manapun, jangan buat aku seperti ingin gila!" ucap Dev tanpa berpaling dari manik hitam istrinya itu.


Lama saling menatap, membuat Kayla ingin menangis sekarang, apa ini artinya Dev mulai menerimanya dalam hati.


"Bang Dev, aku mencintaimu!" Kayla memeluk suaminya dengan perasaan penuh cinta, ia sungguh bahagia mendengar kalimat itu dari seorang Dev, seorang suami yang hanya membayar jasanya saja untuk menggantikan posisi Nika di atas pelaminan tiga bulan lalu.


"Apa aku masih harus turun dan pulang dengan hantu?" goda gadis itu membuyarkan pikiran suaminya bahwa memang ia tengah berhenti di jalanan sepi.


Dev tersenyum, ia mengecup bibir Kayla yang pandai mengoceh itu sekilas lalu membenarkan duduk istrinya sebelum melanjutkan perjalanan pulang.


"Bang Dev, kita kemana? Bukankah pulang lewat sana?" tanya Kayla heran saat mobil mereka melewati lampu merah tanpa berbelok ke arah apartemen.


"Kita tidak akan pulang malam ini!"

__ADS_1


"Lalu kita akan tidur dimana?"


"Tidur di jalan."


"Bang Dev jangan bercanda!"


Dev hanya terkekeh, ia meraih tangan Kayla lalu ia genggam dengan erat, gadis itu menatapnya bingung.


"Bang Dev, ini hotel kenapa kita kemari?" tanya Kayla heran saat mobil yang membawanya masuk area parkir hotel tempat mereka menikah dulu, Golden Luxury, hotel bintang lima yang megah dan menjulang dengan ratusan lantai. Membuat Kayla bertambah bingung.


Dev tidak menjawab.


"Bang Dev? Apa ada acara yang harus kau hadiri? Bang Dev jangan mengajakku ke acara penting dengan penampilan seperti ini, lihat aku mahasiswa yang bau keringat belum mandi, tidak dandan dan tentu tidak sesuai kostum. Jangan membuatku malu Bang Dev," rengek Kayla yang mengira mereka akan menghadiri sebuah acara di sana.


"Kau enak, selalu tampan dan rapi. Lihat aku, aku hanya mahasiswa tidak tahu diri yang beruntung berada di sampingmu sekarang, kau akan malu jika mengajakku!"


Cup, Dev mengecup bibir Kayla bertubi-tubi hingga gadis itu berhenti bicara.


"Bang Dev?"


"Bisakah kau berhenti mengoceh, ikuti saja aku. Ya kita akan menghadiri acara, acara kecil namun penting dalam hidupku!" cetus Dev tersenyum sambil membuka sabuk pengaman Kayla yang masih kebingungan.


"Tuh kan acara penting, Bang Dev aku malu. Biar aku menunggu di mobil saja jika begitu."


Dev tidak menghiraukan ocehan istrinya lagi, ia turun lalu membuka pintu mobil dan mengulurkan tangan pada Kayla agar ikut turun.


Kayla terus saja bertanya-tanya sepanjang jalan mereka menuju lobi hotel. Dev hanya tersenyum tanpa menjawab pasti mereka akan kemana.


"Kau ingat hotel ini?" cetus Dev melirik Kayla.


"Tentu saja aku ingat, hari paling menyebalkan dalam hidupku."


"Apa?" Dev berhenti melangkah lalu menatap Kayla tajam.


"Namun juga hari yang tidak pernah ku sesali, justru aku tidak mau berakhir dari kejadian yang berawal seperti musibah bagiku tiga bulan lalu, aku bahagia menikah denganmu," ucap Kayla menempelkan kepalanya di lengan Dev tanpa melepaskan tautan tangan mereka.


Membuat Dev tersenyum lagi, mereka melanjutkan langkah yang mana Kayla belum tahu kemana tujuan dari langkah kaki Dev tersebut.


"Bang Dev, benar kau tidak malu mengajakku? Apa orangtua mu juga ada?"


"Memangnya kenapa jika ada orangtua ku?"


"Ah, matilah aku jika begitu. Bang Dev, aku serius kita ke acara apa? Jangan membuatku malu dengan penampilan gembel seperti ini, kau dan orangtua mu juga akan malu nantinya."


"Memakai baju bagus pun aku tidak dilihat pantas apalagi penampilan ku sekarang, aku hanya mahasiswa rendahan Bang Dev, ayo antar aku pulang," rengek Kayla merasa resah sendiri takut jika Dev mengajaknya ke acara penting yang akan dihadiri juga oleh mertuanya.

__ADS_1


Ia sudah bisa membayangkan betapa malunya ia nanti jika mendapat tatapan tidak suka dari orang-orang elit kolega mertuanya nanti.


Dev tidak menggubris apapun ocehan istrinya, ia terus membawa Kayla masuk lift ke sebuah lantai yang menjadi tujuannya.


__ADS_2