Cinta Seorang Pengganti

Cinta Seorang Pengganti
Beri aku ciuman


__ADS_3

Aku bersikap biasa saat di kampus, seperti kemauan Bang Dev yang tetap ingin kami diam tentang pernikahan ini, karena semua orang tahu bahwa Nikayla yang menjadi istrinya.


Rania dan Susan pun tampak biasa saja, mereka belum mengetahui tentang perasaanku, entahlah aku cukup malu mengakuinya di depan mereka.


Saat di kelas, aku kembali merenungi apa yang ku ucapkan pada Bang Dev tadi pagi terlebih saat aku menatap kursi yang biasa di duduki Nika.


"Apa aku keterlaluan? Oh Nika, kau dimana? Setidaknya beri kepastian, jika memang kau lari dengan pria lain aku akan bertaruh untuk mendapatkan hatinya Bang Dev." Aku membatin dengan otakku terbayang wajah sahabat yang kami rindukan.


"Kayla."


"Kayla."


Rania dan Susan mencolek punggungku, berbisik sesuatu namun aku masih belum fokus sekarang.


"Apa yang kau pikirkan, kau tidak dengar pelajaran telah dimulai, lihatlah Bang Dev sungguh profesional ya.... Dia bahkan berpura tidak mengenalmu dalam kelas ini," ucap Rania tiba-tiba.


Aku terkejut saat mataku melihat ke arah depan kelas, benar kata Rania Bang Dev telah memulai pelajaran. Ku pandangi lekat-lekat wajah pria itu, tampan dan berkharisma, siapa yang menolak pesonanya jika berdekatan dengan beliau ini.


Bertemu setiap hari dari awal bangun tidur hingga mata ini terlelap kembali wajahnya lah yang menghiasi hari-hari ku dalam tiga minggu terakhir.


Aku memperhatikan sang dosen penghuni hati ini yang fokus menjelaskan, ku topang dagu dengan satu tangan, terpesona iya aku terpesona dibuatnya.


Caranya mengajar, wawasannya yang luas, pintar dan profesional jika di hadapan kami para mahasiswa. Aku tersenyum saat beliau tidak sengaja melihatku di sudut ruangan ini. Aku tahu bang Dev seperti enggan dengan tatapan ku.


"Apa kau menyukainya?" bisik Susan yang duduk di sampingku.


Aku mengangguk, "Sangat menyukainya," jawabku yakin.


"Sudah ku duga, apa kalian sudah tidur bersama?" Aku menoleh pada Susan yang bicara tanpa difilter terlebih dahulu.


"Aku menyukainya, tapi tidak secepat itu juga bisa tidur bersama bodoh, Bang Dev tidak menyukaiku, dia seperti masih terobsesi pada Nika," jawab ku lesu.


"Rumit," jawab gadis itu yang sukses membuat ku kesal.

__ADS_1


"Apa katamu? Rumit? Hei bukankah kalian yang menempatkan ku pada hubungan seperti ini? Kalian berdua menjebakku agar kalian terbebas bukan? Kau membuatku kesal." Aku berdiri seraya mengacungkan tangan pada Bang Dev yang sedang menjelaskan di depan berniat izin keluar kelas untuk ke toilet.


"Silahkan keluar, jika ingin berbicara diharapkan tidak di dalam kelas saat mata kuliahku," tukas Bang Dev tiba-tiba, membuatku berpikir bahwa mungkin saja sejak tadi pria itu juga memperhatikanku yang sibuk berbisik-bisik dengan Susan.


Entah kenapa rasa kesalku jadi hilang saat mendengar suara bang Dev yang dingin dan terkesan serius, iya Bang Dev selalu profesional jika sedang mengajar.


Semakin menarik saja pria ini, sikapnya terkadang dingin itulah yang membuat ku semakin penasaran dan merasa gemas terlebih wajahnya yang rupawan.


Aku segera menggeleng, "Maaf." Teman-teman di kelas cukup riuh dengan tingkahku yang aneh, maksudku salah tingkah, seraya mengusap leher aku mendudukkan diri kembali yang mana membuat Susan dan Rania terkekeh geli.


Jam kuliah berakhir, aku menitipkan tas dan beberapa buku pada kedua temanku di kantin kampus, niat ke toilet baru bisa ku lakukan sekarang.


"Huh..... Lega." Aku bergumam seraya menghela napas panjang setelah keluar dari toilet setelah menahan lama rasa ingin pipis.


Aku merapikan rambut dan merapikan penampilan di depan cermin wastafel, dari cermin ku lihat bayangan Bang Dev lewat ke arah toilet pria.


Aku segera mengikutinya bersembunyi di balik tembok pembatas antara toilet pria dan wanita, aku juga heran kenapa Bang Dev menggunakan toilet mahasiswa bukan toilet khusus para dosen.


"Bang Dev."


"Ah.... Kayla, kau membuatku terkejut?"


"Kenapa kau menggunakan toilet mahasiswa?" tanya ku berbasa basi, ku lihat Bang Dev melihat ke sana kemari.


"Kenapa? Apa kau takut yang lain tahu? Aku hanya ingin menyapamu sebagai mahasiswa terhadap dosen, bukan sebagai istrimu," jawabku kesal.


"Mmmmphmmmm."


Tiba-tiba bang Dev membungkam mulutku dengan satu tangan, dan tangan yang lain mendorongku masuk ke toilet dan sialnya itu toilet pria, pria ini mengunci pintunya dan kami terkurung berdua di toilet yang sempit.


"Bang Dev apa yang kau lakukan?"


"Kau bertanya? Kenapa kau mengatakan tentang istri? Bagaimana jika ada yang dengar?"

__ADS_1


"Maaf," jawabku menunduk, aku baru tersadar bahwa Bang Dev telah berulang kali mengingatkan bahwa jika di kampus kami tidak boleh terlihat akrab apalagi sampai tahu kebenaran jika akulah istrinya. Aku ingin berkata lagi namun urung saat mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat.


Bang Dev memberi isyarat dengan jari telunjuk pada bibirnya.


"Kayla, maksudku... Jangan katakan apapun tentang istri atau suami, atau apalah tentang kita jika di kampus seperti ini, tetap diam dan pada rencana kita diawal hingga semuanya berakhir nanti, tidak mudah urusannya jika ada yang tahu tentang kita." Kata-kata bang Dev membuatku terdiam sekaligus kesal.


"Iya, iya aku tahu.... Apa salahnya jika kau memberikanku sedikit kesempatan?"


"Kesempatan apa? Kayla jangan bercanda, ini kampus, ucapanmu harus hati-hati."


"Aku serius, aku menyukaimu Bang Dev. Aku tidak peduli Nika akan kembali atau tidak, aku..... Aku.... " Bang Dev kembali membungkam mulutku.


"Ini toilet bodoh, sejak kapan kau berkata asal seperti ini."


"Sejak aku jatuh cinta padamu," jawabku enteng seraya menjauhkan tangannya dari mulutku. Aku melihat jelas, Bang Dev kesal dan kehabisan kata-kata.


"Kau begitu menggemaskan," ucapku dan tanpa malu ku kecup pipinya dengan gemas.


"Apa? Kenapa diam? Mau marah lagi? atau mau dicium lagi?" goda ku pada Bang Dev yang tercengang.


"Mau terus mengurungku di sini? Aku tidak keberatan berduaan dengan suamiku, lama juga tidak masalah, tidak berdosa juga kan?" Goda ku lagi seraya memainkan jambang tipis di wajahnya, aku benar-benar berani sekarang, entahlah aku tidak bisa menahan perasaan ku lebih lama lagi, aku juga bukan tipe wanita yang bisa memendam perasaan terlalu lama.


Pria ini suamiku, aku rasa tidak masalah menggoda suami sendiri meski di toilet sekalipun.


Bang Dev memijat keningnya, wajahnya tampak menahan kesal. "Keluarlah," jawabnya lesu.


Aku cukup kecewa, aku mau berlama-lama berduaan seperti ini namun apa daya pria ini cukup sulit dijinakkan.


"Baiklah, aku akan keluar sekarang tapi beri aku ciuman."


"Apa? Huh.... Kayla apa kau sudah gila, ayo keluar sekarang, berhenti bercanda."


"Tidak, aku akan keluar setelah mendapat kecupan." Aku berkata dengan percaya diri memberi pipiku ke arah bibir Bang Dev. Pria itu tampak kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2