
"Sayang," sapa Dev tersenyum dari pantulan cermin.
Kayla berbalik badan, ia hanya membalas dengan senyum kecut. Perempuan itu berdiri dari posisi yang semula duduk di kursi meja rias, ia menyambut Dev yang baru saja pulang.
Kayla membetulkan ikatan kimono tidurnya, lalu membalas pelukan suaminya dengan wajah menyimpan tanya.
"Maaf aku tidak membalas pesanmu hari ini, aku sibuk membantu urusan Papa hingga tidak sempat mengabarimu, kau pulang dengan siapa?" ucap Dev dibalik pelukan.
Kayla tersenyum miring, demi apa belum juga ia bertanya ternyata Dev lebih dulu berbohong soal siang tadi.
"Aku mengerti, aku pulang dengan Susan," sahut Kayla pelan. Ia sedang malas berdebat yang mana akan mempersulit dirinya sendiri.
"Kau sudah makan?" tanya Kayla mengalihkan pembicaraan.
"Sebenarnya sudah, tapi aku akan makan lagi. Tunggulah aku mandi sebentar," jawab Dev seraya mencium pipi Kayla sebelum beranjak ke kamar mandi.
Kayla tahu kenyataan bahwa Dev akan selalu menghargai masakannya meski pria itu sudah makan malam di luar. Dan itu sedikit membuat hatinya menghangat.
Kayla sibuk dengan pikirannya hingga tidak sadar Dev sudah duduk di meja makan sedang ia sibuk menyiapkan makan malam suaminya.
"Hei, kau kenapa? Tidak biasanya aku melihat istriku diam tanpa mengoceh seperti biasanya."
Dev menghentikan tangan Kayla. Perempuan itu menoleh, cukup lama ia memandang wajah habis mandi pria itu tanpa berkedip.
"Jika kau sudah kenyang, tidak perlu makan lagi. Jika ingin menghargai ku tidak perlu pula seperti ini," ucap Kayla ambigu.
"Kau ini bicara apa? Mana mungkin aku kenyang, aku selalu lapar ketika pulang."
Dev tidak menghiraukan Kayla, ia tetap memakan apa yang telah istrinya siapkan di piring. Kayla hanya bisa diam tanpa membantah.
"Bang Dev."
"Hmmmm," sahut Dev sambil terus mengunyah tanpa beban.
"Tidak ingin mengatakan apapun padaku?" pancing Kayla yang mulai tidak bisa menahan diri.
"Mengatakan apa?" tanya Dev sambil minum.
"Sesuatu yang kau sembunyikan misalnya?"
Dev terbatuk.
"Sesuatu apa?"
__ADS_1
"Sesuatu yang tidak ku ketahui mungkin," jawab Kayla.
"Tidak ada," kata Dev melanjutkan makannya.
"Benarkah?"
"Kau tidak percaya padaku?" Dev meraih tangan istrinya.
"Entahlah," jawab Kayla berpaling ke lain arah.
Percakapan di meja makan cukup membuat mereka saling diam ketika di ranjang, Dev memeluk Kayla seperti biasa, tidur seperti malam-malam sebelumnya.
Namun hati dan pikiran mereka tidak ada yang bisa menebak. Kayla memilih tidak bertanya secara gamblang tentang yang ia lihat sore tadi, pun Dev entah apapun alasannya ia memilih bungkam tentang apa yang ia kerjakan siang hingga malam sebelum pulang ke apartemen.
Keesokan harinya, Kayla dan Dev pergi ke kampus seperti biasa, hanya saja tidak ada pembicaraan yang berarti diantara keduanya, entah kenapa Kayla tidak pula banyak bicara.
Di kampus, Susan dan Rania mengajak Kayla berbelanja pada saat jam kuliah berakhir siang. Ketiganya pergi meninggalkan kampus setelah Kayla mendapat izin suaminya untuk pergi ke mall.
Namun belum juga mencapai mall sebagai tujuan mereka, lebih dulu mereka berhenti di sebuah rumah yang menjadi pertanyaan besar ketiganya, yaitu rumah Nikayla, sahabat mereka yang lama hilang kini dikabarkan telah pulang.
Setelah berpikir lama Kayla menuruti saran kedua sahabatnya agar tidak terus penasaran atas kepulangan Nika tanpa mereka ketahui.
"Baiklah, ayo kita mencoba mencari tahu kebenaran Nika hari ini," ucap Susan yang sudah berhenti di depan pagar rumah mewah Nikayla.
Kayla hanya menggembungkan pipinya tanda kesal pada Rania.
"Sudah, ayo kita masuk!" ajak Susan setelah mendapat izin dari penjaga keamanan rumah itu.
Kayla gugup, ini bukan pertama kalinya mereka berkunjung ke rumah Nika selama bersahabat, namun kali ini terlalu berbeda perasaannya dibanding dahulu.
Entah siap atau tidak ia harus bertemu Nika siang ini, agar hatinya tidak selalu buruk sangka pada Dev jika sudah melihat kebenaran Nika di depan matanya.
Siapa yang menyangka, mereka disambut hangat oleh orang tua Nika saat bertamu, seperti dulu tidak berubah.
"Bibi malu pada kalian, tidak seharusnya Nika bersembunyi selama ini. Tapi Bibi minta pengertiannya tidak mudah menjadi Nika, dia begitu terpuruk disaat vonis dokter tepat sehari sebelum pernikahannya dengan Dev."
Tiga sahabat itu terdiam mendengar penjelasan kronologi yang menjadi alasan Nikayla lari dari pernikahan, bukan hamil dan lari dengan lelaki lain seperti gosip melainkan lari dari kenyataan penyakit yang ia derita hingga malu untuk menikah.
Psikologis yang terganggu menjadi alasan kuat Nikayla stress dan depresi hingga menyebabkan batal menikah waktu itu. Gadis yang sebaya dengan Kayla itu memilih lari dari pernikahan karena merasa tidak pantas untuk Dev.
"Kanker payudara?" gumam Kayla pelan. Pun Rania dan Susan sama ternganga mendengar cerita dari Ibu Nikayla.
Nyonya Anita mengangguk, "Iya, Nika merasa rendah diri jika menikah dengan Dev dalam keadaan sakit, yang mana dokter menyarankan harus mengangkat jaringan yang ganas hingga Nika harus kehilangan salah satu organ kebanggaan seorang wanita."
__ADS_1
"Nika depresi, dia tidak mau operasi. Dia tidak mau pula mengecewakan Dev bahwa ia bukan gadis yang sempurna lagi jika lanjut menikah. Nika cukup tersiksa dengan keputusan dokter yang mengatakan harus operasi, tidak ada jalan lain," lanjut Nyonya Anita sambil meneteskan airmata sedih.
Kayla dan dua sahabatnya tidak bisa menyembunyikan keterkejutan atas apa yang dijelaskan oleh ibu dari Nikayla.
"Bi, bisakah kami bertemu Nika?" tanya Kayla memberanikan diri.
"Tentu nak, sekarang keadaan Nika sudah jauh berbeda. Bersyukur ada kerabat yang mengatakan jika ada jalur pengobatan tanpa operasi, dan kami mencoba untuk menyembuhkan Nika tanpa keputusan operasi, untuk itulah Nika menghilang lama karena harus berobat ke Malaysia. Dan sekarang dia sudah pulang dengan tahap pemulihan."
"Ayo Bibi antar kalian ke kamarnya," ajak Nyonya Anita ramah.
Mereka bertiga saling menoleh sebelum mengangguk kemudian mengikuti langkah Nyonya Anita yang menuju kamar sahabat mereka.
"Aku gugup," gumam Kayla dengan dada yang berdebar hebat, entah kenapa ia menjadi lemah saat ini. Mendengar kenyataan Nika sakit cukup membuatnya merasa bersalah pada gadis itu, ia merasa telah merebut Dev sekarang.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja," kata Susan menggenggam tanga dingin Kayla, pun Rania yang mengusap punggung sahabatnya itu.
Pintu kamar dibuka. Mata mereka bertemu, Kayla dan Nikayla.
"Sayang, lihat siapa yang datang!" seru Nyonya Anita pada putrinya.
Kayla mendekat, pun disusul Rania dan Susan.
"Nika," ucap Kayla lirih, ia menyambut uluran tangan gadis yang tersenyum padanya, gadis yang masih cantik meski berwajah pucat.
Nikayla terkejut, tiga sahabatnya datang. Nika meneteskan airmata saat berpelukan melepas rindu pada ketiga sahabat kentalnya sejak awal kuliah itu.
"Maaf, kalian pasti marah aku hilang tanpa kabar. Aku merindukan kalian, sungguh," ucap Nikayla dengan suara tangisnya.
"Kami tidak akan marah jika kau jujur diawal, kenapa menanggung sendiri, itu tidak adil," sahut Kayla mulai terisak.
Diantara bertiga, Kayla yang paling menangis atas pertemuan itu. Entah kenapa ia merasa jahat pada Nika, ia telah berburuk sangka pada sahabatnya itu hingga ia merebut Dev tanpa berpikir panjang.
Nyonya Anita meninggalkan mereka tanpa mengganggu.
Setelah cukup berbasa basi, Nikayla meraih tangan Kayla.
"Aku sudah tahu semuanya, Bibi Lolita sudah menjelaskan padaku antara kau dan Bang Dev hari itu."
Kayla mendadak salah tingkah, Rania dan Susan saling menoleh.
"Kau tahu Kayla yang menggantikan mu di pelaminan?" cetus Rania tanpa basa basi.
Nika mengangguk.
__ADS_1